Abi, Badan Faiz Panas

Siang ini saya mendapatkan pesan singkat melalui aplikasi whats’app, “Abi Faiz badannya panas“. Dengan cepat saya meminta isteri saya untuk segera mengukur suhunya dengan termometer dan memberikan obat penurun panas yang biasa kami sediakan di rumah. Alhamdulillah sejak kelahiran putera pertama kami selalu menyediakan termometer digital, jaga-jaga jika suhu tubuh anggota keluarga ada yang panas. Pengalaman teman-teman dan saudara, bila kondisi panas anak tidak diketahui secara dini, lebih mudah untuk mengalami kejang-kejang atau step. Itu yang kami hindari.

Sesaat setelah mendapatkan kabar tersebut, konsentrasi saya sontak menjadi buyar. Saya ingat-ingat lagi kapan terakhir anak kami sakit panas. ternyata sekitar beberapa minggu yang lalu. Oh, belum 1 bulan. Cepat sekali sakitnya. Biasanya untuk sakit membutuhkan waktu beberapa bulan atau kejadian-kejadian di luar kebiasaan semacam masa mancaroba (peralihan dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya).

Sakit atau sehat memang tidak  bisa kita tentukan kapan dan dimana. Sudah ada ketentuan Allah SWT, yang mana kita tidak dapat mengetahui atau bahkan mengintervensinya. Sebagaimana iklim dan cuaca yang tak pernah kita duga kapan panas dan kapan dingin, walaupun ada prakiraan cuaca namun nyatanya di lapangan belum tentu apa yang diramalkan benar benar terjadi.

Kartu Menuju Sehat

indexSebagai wujud ikhtiar saya buka kembali riwayat kesehatan anak saya runut dari beberapa bulan ke belakang. Saya awali dari  Kartu Menuju Sehat yang selau dibawa bundanya ke posyandu setiap bulan. Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah kartu yang  di dalamnya memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur. Dengan KMS gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat KMS di Indonesia telah digunakan sejak tahun 1970-an, sebagai sarana utama kegiatan pemantauan pertumbuhan. Saya perhatikan bulan ini terjadi penurunan berat badan yang cukup signifikan, biasanya berat badan anak saya selalu naik atau kalau tidak tetap di kisaran 20 kg untuk anak berusia 3,5 tahun. Penurunan ini saya perhatikan lebih lanjut saat memandikan buah hati, benar lengannya sedikit lebih kecil dengan tulang rusuk yang lebih terlihat dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya.

Evaluasi Pertumbuhan Buah Hati

Dua buah alat bukti saya rasa cukup untuk melakukan gelar perkara. Di malam yang dingin dan ditemani sinar rembulan saya mengajak isteri saya untuk berdiskusi mengenai kondisi kesehatan putera pertama kami. Segelas jahe merah dengan sedikit krim, habattusauda serta ginseng turut menemani diskusi malam itu. Kami evaluasi dengan teliti dan seksama perihal penurunan berat badan putera pertama kami.

Pertama, evaluasi pola makan anak. Kami evaluasi apakah ia makan sesuai dengan jadwal biasanya, 3 kali sehari atau kurang dan apakah volume makanan yang menjadi asupan sehari-hari berkurang atau tidak. Hal ini cukup penting karena ketidakteraturan dan pengurangan volume makanan sangat berpengaruh secara signifikan terhadap asupan gizi serta nutrisi tubuh. Kami selalu menjadwalkan makan 3 kali sehari dengan dua kali kudapan.  Jadwalnya pagi antara pukul 07.00 s.d 08.00 WIB, siang antara pukul 12.00 s.d 13.00 WIB, dan sore hari antara pukul 18.00 s.d 19.00 WIB.

Kedua, kualitas asupan makanan. Kami mengevaluasi apakah makanan yang kami sediakan sudah memenuhi syarat asupan gizi yang baik. Prinsip kami cukup sederhana, yakni ketersediaan karbohidrat, protein, dan sayuran. Bahan makanan yang kami sediakan untuk setiap anggota keluarga sudah diatur tidak perlu mewah ataupun mahal, yang penting nilai gizinya seimbang dan bervariasi. Tentunya variasi makanan bertujuan agar setiap anggota keluarga tidak merasa bosan dengan menu makan yang kami siapkan. kalau masalah menyusun menu isteri saya ahlinya :)

Ketiga, evaluasi terhadap jajanan yang biasa dibeli anak. Apakah jajanan yang biasa dibeli memiliki kandungan gizi yang baik atau bahkan mengandung bahan kimia yang berbahaya. Kita ketahui bersama bahwa tingkat keamanan pangan di negara ini masih belum mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Jika kita lihat liputan investigasi salah satu stasiun TV swasta kita masih mendapatkan jajanan anak kita terkontaminasi bahan kimia beracun dan berbahaya. Sebut saja penggunaan formalin dalam mengawetkan makanan, pewarna kain/tekstil untuk mewarnai makanan dan bahan-bahan lain yang sebenarnya dilarang digunakan sebagai bahan campuran makanan. Jajanan yang dibeli buah hati kita juga dapat menyebabkan berkurangnya nafsu makan sehingga tidak begitu semangat untuk makan makanan yang telah disediakan oleh bundanya. Kami mensiasatinya dengan membuat kudapan sendiri. Rasanya pun lebih enak dan sehat.

Salah satu kudapan kesukaan Faiz

Apakah anak kita sudah bahagia ?

Evaluasi fisik rasanya kurang cukup, toh anak kita bukan hanya seonggok daging. ia bernyawa, memiliki jiwa, bukan hanya fisiknya yang bertumbuh melainkan mentalnya. Emosinya terus berkembang, sudah mulai menunjukan rasa tidak suka. Apalagi anak di atas usia 2 tahun, saya teringat upaya putera saya protesnya dengan makanan yang kami sediakan  “Abi aku nggak suka wortelnya, aku lebih suka daging ayamnya, yang kaya Upin Ipin, Ayam Goyeng !!”. Saat itulah saya harus benar-benar membujuk anak kita untuk makan sayuran, walaupun akhirnya mengalami kegagalan. :mrgreen:

img_7263.jpg

Nasi kepal isi tuna, lezat dan sangat digemari.

Saya kira ada hubungan yang erat antara psikis dengan fisik. Ada beberapa penyebab yang memicu anak enggan makan, seperti sedang mengalami emosi kurang stabil berupa rasa takut, cemas, maupun marah. Pengalaman yang buruk saat makan, misalnya pernah dipaksa atau dibentak karena tidak menghabiskan makanannya juga dapat memberikan trauma tersendiri sehingga anak malas makan. selain itu, menu makanan yang terbatas dan itu-itu saja, juga dapat membuatnya merasa bosan dan menghindari jam makan. Sejak kelahiran putera kedua perhatian kami dirasa memang mengalami perubahan. Upaya kami menjadikan anak pertama yang dibiarkan mandiri, menghadirkan sedikit persoalan. Terkadang secara sadar ataupun tidak, mengurangi haknya memperoleh perhatian.

Diskusi kami akhiri dengan program kerja yang akan coba kami susun untuk merubah keadaan. Persoalan ini memang terlihat ringan. Lebih besar masalah Indonesia dengan segala hiruk pikuknya. Namun ini amanah yang harus dijalankan oleh setiap orang tua, yakni memastikan anak-anaknya memiliki tumbuh kembang yang baik. Semoga Allah berikan kemudahan. :)

Advertisements

11 responses to “Abi, Badan Faiz Panas

  1. MasyaAllah. . patut ditiru oleh banyak kepala keluarga di Indonesia nih. Bahwa seorang ayah harus perhatian penuh dan kompak dengan ibu anak2 ttg pertumbuhan dan perkembangan anak. .

    Xixixxi aku malah blm tahu cara baca KMS gimana. . ternyata berguna sekali ya untuk memantau kondisi kesehatan anak.

    TFS ya, smg faiz jg selalu sehat dan ceria. .

    Like

  2. Subhanallah, ada program kerja untuk kesehatan anak. Semoga sehat terus ya Faiznya. Saya setuju, kebahagiaan psikis anak seringkali sangat berkaitan dg kesehatan fisiknya.

    Like

  3. Aku udah lama banget gak lihat KMS, terakhir zaman aku masih SD.
    Wah, ini sebagai orangtua yang baik mestinya memang selalu tanggap melakukan evaluasi kayak gini terhadap buah hatinya ya. Sip, jadi contoh yang baik buat nanti nih. Terima kasih banyak >,<

    Like

  4. Duh Mas Adi hebat banget ya. Sampai dievaluasi segalanya. Makasih ilmunya, Mas. Semoga kalau kelak aku jadi orangtua bisa jadi kaya Mas Adi juga.

    Like

  5. Wahhh rapi sekali uda evaluasinya sampai ngecek KMS segala. Tapi memang betul sih saya setuju memamg untuk evaluasi kesehatan si kecil harus menyeluruh ya supaya bisa kedeteksi penyebab kondisi kesehatan anak2 yg menurun.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s