Bacalah, anaku.

reading-and-childeren-books

sumber : harandbook

Saat membuka pintu rumah, berlari seorang anak berumur tiga tahun membawa sebuah buku, “ Abi tolong ceritakan yang ada di buku ini!” ujarnya dengan manja. Walaupun belum sempurna mengucapkan kata-kata dan merangkai sebuah kalimat, permintaannya sangat jelas ia meminta dibacakan sebuah majalah anak-anak. Saat itu kami pun duduk lesehan, Faiz memeluk saya dari belakang dengan menempelkan pipinya di pipi saya. Kami pun terlarut dalam cerita dalam buku tersebut. Kami tertawa saat ada cerita yang dianggap lucu. Jika ada kata atau maksud yang kurang jelas berkaitan dengan cerita tersebut dengan cekatan ia langsung bertanya, “Abi…….itu apa?”, atau saat cerita dan gambar tidak sesuai ia pun tak segan memprotes saya dan menyampaikan pendapatnya. Rasanya baru kemarin kau hanya bisa menangis, kini sudah bisa mengungkapkan keinginannya.

Begitulah anak-anak kalau sudah memiliki sebuah keinginan. Seketika, langung, dan blak-blakan. Tak ada toleransi sedikit pun bagi ayahnya untuk duduk dan beristirahat sejenak, setelah seharian bekerja di kantor. Jadi ingat kata-kata dari Aa Gym, jangan memberikan yang sisa buat keluarga, termasuk tenaga, perhatian dan kasih sayang. Di kantor kita masih bisa semangat membara, bercanda dengan rekan kerja, sangat ramah kepada klien, bahkan taat kepada atasan. Saat kita pulang ke rumah, jangan kalah semangat seperti di kantor, gunakan tenaga maksimal saat bercanda dan main dengan anak dan isteri kita, karena masing-masing memeiliki hak yang sama. Betul juga ya pesan Aagym, semua ada haknya. Oleh karena itu biasanya setelah pulang kantor saya mengambil air wudhu supaya segar, meminum teh hangat yang disiapkan isteri, kemudian menyapa dan bercengkrama dengan mereka sejenak sebelum mandi, benar-benar membersihkan diri.

Apa yang memotivasi saya untuk mengajarkan membaca kepada anak saya? Alasannya simple. Karena perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah membaca. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menyuruh kita untuk membaca, iqra bismibikal-ladzi khalaq”. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Mengapa “membaca”? apa pengaruh membaca bagi perkembangan anak kita?

Awal mulanya, saya belum mengetahui lebih detail bagaimana manfaat mengajarkan membaca bagi anak-anak, saat itu hanya termotivasi saja, “saya tahu dan saya taat, kerjakan saja” Allah Yang Maha Tahu tentunya lebih tahu manfaatnya apa. Ternyata baru-baru ini saya membaca, menurut Paul C Burn dalam sebuah penelitiannya menyatakan bahwa, pembicaraan langsung yang ditujukan kepada anak-anak (Child directed speech) ternyata merangsang perkembangan bahasa mereka. Sementara kecakapan berbahasa mempengaruhi keterampilan berfikir dan berkomunikasi anak termasuk rasa ingin tahu anak. Kecakapan berbahasa juga membantu perkembangan emosi anak menuju tingkatan yang lebih baik.

Kita sebenarnya prihatin. Menurut data dari UNESCO yang dirilis tahun 2012 index tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada sekitar 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Bahkan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membacanya. Negara kita masih setara dengan Afrika Selatan. Kita hargai upaya pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang isinya mewajibkan siswa SD, SMP, dan SMA membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai.

Budaya membaca seharusnya ditumbuhkan di tengah-tengah keluarga, sayangnya masih sedikit keluarga yang menggunakan buku atau bahan bacaan lainnya sebagai barang prioritas untuk dibeli, kalah dengan televisi atau gadget. Prestasi terbaru yang saya peroleh dari laman Komisi Penyiaran Indonesia (kpi.go.id) menyatakan bahwa anak-anak Indonesia menempati urutan teratas di antara negara-negara di ASEAN untuk urusan menonton siaran televisi terlama. Rata-rata waktu yang dihabiskan anak-anak Indonesia menonton siaran televisi per hari bisa mencapai 5 jam atau bahkan lebih. Adapun negara-negara ASEAN lain hanya 2 sampai 3 jam per hari.

Kapan kita boleh mengajarkan membaca ?

Saat yang tepat untuk mengajarkan membaca adalah saat anak telah benar-benar siap untuk membaca, pada umumnya sekitar usia 6 tahun. Walaupun masih terdapat pro dan kontra kapan anak-anak diajarkan membaca, namun hal ini sebenarnya bergantung pada kesiapan anak untuk siap belajar membaca. Memang akan sangat fatal bila anak-anak yang belum memiliki kesiapan membaca dipaksa belajar membaca, akan muncul penolakan yang pada akhirnya anak-anak akan malas untuk belajar membaca, seperti beberpa kasus yang terjadi di beberapa kelas belajar setara PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang  mewajibkan anak-anaknya untuk belajar membaca.

img_20160930_163221

Pengalaman membaca bisa diberikan saat anak kita masih kecil, bahkan sejak anak kita sudah mulai bisa tengkurap.

Memberikan pengalaman membaca

Hal yang lebih penting dari sekedar mengajarkan membaca adalah memberikan pengalaman membaca, yaitu memperkenalkan buku dan kegiatan membaca. Saya jadi teringat saat Faiz masih kecil, saat saya memberikan pengalaman membaca. Pengalaman ini saya tuliskan dengan mengingat kembali, apa-apa saja yang telah saya lakukan bersama anak saya beberapa tahun yang lalu (lebih tepatnya 3 tahun yang lalu).

Pertama, Bacakan buku sejak anak masih kecil. Pengalaman membaca bisa dilakukan sebelum anak-anak siap diajarkan membaca. Mengajak anak berbicara secara langsung saja bisa kita lakukan sejak ia lahir,  tentunya pengalaman membaca pun bisa kita lakukan juga disaat yang bersamaan. Biasanya saya membacakan buku untuk anak-anak seperti menimang mereka saat mau tidur, yakni membacakan buku dengan suara berirama, kadang meninggi, lalu merendah, sehingga secara psikis anak-anak tertarik dengan apa yang kita sampaikan.

Kedua, membuat pola kegiatan membaca. Jika saya perhatikan kebiasaan membaca yang mulai kita tanamkan sejak anak lahir cenderung akan membentuk pola membaca pada anak. Jika setiap kali menjelang tidur anak-anak dibacakan sebuah buku maka membaca buku akan menjadi sebuah kebutuhan anak sebelum tidur. Bahkan buku akan menjadi sahabat anak, melebihi bantal guling yang biasa menemaninya tidur. Kebiasaan yang meresap kuat ke dalam hati anak, akan membuat anak kita menikmati bahan bacaan apa saja dan dimana saja. Bahkan kegiatan menonton televisi yang biasanya dilakukan setiap hari akan kalah dengan keasyikan membaca buku bila kita kemas dengan cara yang lebih menarik. Hal itu pula yang membuat saya dengan mudah menyingkirkan televisi dari rumah dan kehidupan kami. No tv no cry.. :)

Ketiga, bukalah buku bersama anak. Saat anak sudah bisa tengkurap, saya telah mencoba “mengajak anak untuk membaca bersama“. Saat ia sudah mulai duduk saya pangku dia di atas pangkuan saya. Membuatnya nyaman duduk di pangkuan sebelum memegang buku juga merupakan hal yang sangat penting, agar kegiatan membaca bersama bisa dinikmati bersama. Saya mengajaknya berdialog mengatakan bahwa ayahnya akan membacakannya sebuah buku. Walaupun saat itu saya tahu bahwa anak belum faham dengan apa yang saya katakan, informasi awal ini akan penting untuk membuatnya lebih senang dan gembira. Pernah suatu saat anak saya dudukan di pangkuan lalu saya membukakan buku dan membacakannya. Seketika anak saja menjadi gelisah dan meronta-ronta. Hal ini karena anak belum nyaman dengan kondisi yang kita berikan. Kini sebelum membuka buku kadang buku itu kami mainkan berama-sama agar anak lebih merasa nyaman.

img_20161102_113108

membaca merupakan kegiatan yang mentenangkan bila dilakukan dengan cara yang menyenangkan pula.

Keempat, berikan buku yang sesuai dan bermanfaat. Anak-anak secara alami akan memilih buku yang lebih ia sukai. Biasanya semakin kecil usia anak, semakin senang dengan buku yang memiliki gambar menarik. Anak saya begitu menyukai buku-buku semacam ensklopedia anak, yang didominasi oleh gambar-gambar yang menarik. Oh iya, anak-anak pun membaca buku dengan caranya sendiri. Ketertarikan terhadap buku diawali dengan memegang buku yang kita berikan, terkadang memukul-mukulnya ke lantai, menarik-narik dengan tangannya. Bahkan tak jarang buku-buku dengan bahan kertas yang tipis, disobek-sobek. Oleh karena itu diawal memperkenalkan buku dan kegiatan membaca kepada anak-anak, saya sarankan belilah buku bekas yang banyak dijual di pasar-pasar, agar anak bebes menunjukan ekspresinya tanpa dibayangi kekhawatiran buku tersebut akan rusak. Karena terkadang karena sayang dengan buku yang baru dibeli, kita terlalu reaktif  ketika ia merobek buku misalnya, sehingga anak kita merasa tidak aman dan menagis. Ini akan membuat anak merasa kegiatan membaca sebagai sesuatu hal yang tidak menyenangkan.

Setelah anak-anak senang membaca, kita juga harus memastikan bahwa buku yang kita pergunakan memiliki nilai-nilai positif yang bisa kita tanamkan untuk anak-anak kita. Bukan hanya fikirannya yang akan terisi, hati, dan jiwanya pun akan terbangun dengan kuat. Walaupun sedikit, buku-buku tersebut pastilah ada. Kita sebagai orang tua harus benar-benar memilihkan buku yang benar-benar baik, jangan pernah lelah dan asal dalam memberikan buku. Karena tidak semua buku baik, ada beberapa yang yang secara sekilas tampak bagus pesan-pesannya namun membawa pesan ikutan yang buruk.

22

Buku anak-anak kini telah banyak tersedia, sebagai orangtua hamya tinggal memilah mana buku yang sesuai. Sumber : ilustrator design buku

Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul Si Boros. Buku tersebut menunjukan bahwa sifat boros adalah sifat yang tidak baik dan merugikan diri sendiri, namun bersamaan dengan itu tanpa disadari si penulis telah menanamkan kepada anak kita bahwa uang hasil kerja keras merupakan hak bagi yang bekerja, tidak ada hak bagi fakir miskin, bahkan orangtuanya sekalipun. Pemahaman tersebut sangatlah tidak benar, karena dari harta yang kita peroleh ada hak-hak orang lain, dan bersedekah merupakan sesuatu hal yang baik. Di buku yang lain saya kerap sekali menemukan penggunaan kata-kata yang kurang pantas untuk anak-anak kita. Saya pernah menemukan dalam sebuah cerpen bergambar kata-kata yang kurang pantas seperti kata sel*ngk*h,g*b*ok dan banyak kata lainnya. Duh bagaimana cara menjelaskan kepada mereka, untuk menyebutkan binatang seperti anjing saja saya masih enggan mengajarkan kata sebenarnya, lebih nyaman mengenalkannya dengan kata lain seperti Gukguk.

Posisi penting seorang ibu

Sebagai seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga malam hari, tentunya kebersamaan kita dengan anak kita sangatlah sedikit. Apalagi saat kita harus lembur dan pulang saat anak sudah tertidur dengan pulas. Bagi anak yang sudah senang membaca dan telah terpola jadwal membacannya, seperti membaca cerita sebelum tidur tentu kehadiran orangtua yang membacakan cerita sangat dibutuhkan. Disinilah peran ibu diperlukan untuk mengisi kekosongan untuk sementara waktu. Saat ayah sedang bekerja ibu akan mem-back up kegiatan membaca anak. Itulah harmoni dalam berumah tangga. Kesamaan pemahaman khususnya dalam memberikan pengalaman membaca kepada anak, antara suami dan isteri sangat berpengaruh terhadap usaha kita agar anak mencintai buku dan membacanya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk ayah bunda yang sudah mulai memperkenalkan kegiatan membaca kepada buah hatinya.

Apakah ayah bunda memiliki pengalaman dalam memperkenalkan kegiatan membaca? silahkan share di kolom komentar ya :)

Advertisements

88 responses to “Bacalah, anaku.

  1. senengnya ketemu keluarga yang sehati dengan keluarga kami. Alhamdulillah anak-anak kami cukup tertarik dengan ‘trigger’ perpustakaan mini yang kami buat di tengah rumah. cumaaa, kalau pas diluar kok anak kita kadang dianggap ‘a liitle bit weird’ karena tidak terlalu mengikuti cerita di tv, atau ketika anak kita tidak begitu hebohnya dengan gadget.. hmmm kesannya mereka memandang kita kuno bgt gitu. gimana mas adi punyakah pengalaman begitu? thanks for sharing. keep writing

    Liked by 1 person

    • Iya benar terkadang mereka tertinggal dengan cerita cerita sinetron dan serial TV, awalnya tidak nyaman namun akhirnya terbiasa juga..Saya belum dbuat perpustakaan mini, koleksinya masih sedikit. Adakah tulisan MBA tentang perpustakaan mini keluarga?

      Like

  2. Alhamdulillah di keluarga kecilku proses yang mengenalkan buku adalah yang pertama aku lakukan sebelum mengenalkan mainan-mainan lainnya. Aku dan suami mulai mengenalkan buku bacaan kepada bayi kami sejak dia berusia 3 bulan. Dan sampai sekarang, dia selalu excited setiap dikasih buku untuk dimainin daripada mobil-mobilan. Di rumah jg tidak ada tv, dan kalo mau belajar nursery rhymes untuk asah motorik kasarnya (biasanya sekalian ikutin gerakan-gerakan dari nursery rhymes) nontonnya dari hp itupun ditelaah dulu, didonlod dan dilihat manfaatnya. Setelah itu, kadang-kadang saya yang nyanyi sambil memperlihatkan gerakan diikutin sama Kizain. Seru aja, lihatnya. Semoga konsisten kami ini bs berlanjut ke anak kedua, ketiga dan seterusnya aamiin.

    Like

    • Hal yang patut diteladani mengajarkan buku diawal perkembangan anak. benar Mba setiap apa yang diberikan kepada anak harus selalu diseleksi dengan baik. Sungguh Kreatif Mba ini semoga tetap istiqomah…

      Like

  3. Aku baru punya ponakan dan baru dikenalin sama huruf sih belum baca. Kalo nunggu 6 tahun baru boleh diajarin baca berarti masih lama hehe.
    Btw, perpustakaan di rumah banyak dong nih? :)

    Like

  4. wah, sangat menginspirasi mas adi.
    walaupun konteksnya untuk anak-anak saya jadinya kembali semangat untuk memulai baca buku.
    saya rasa tidak ada kata terlambat untuk mulai membaca kembali :)

    Like

  5. membaca,… jadi ingat lagu jaman SD, “Baca-baca majalah koran buku. Baca-bacalah selalu. Banyak baca banyak ilmu makin maju….” Hihi…

    aniwei soal mengajarkan anak membaca saya sepakat yang terpenting itu sebenarnya memberikan pengalamn membaca ya sehingga tumbuh minat langsung dalam diri anak untuk tahu lebih banyak. SEperti Faiz yang begitu antusias melihat mas membaca sambil tiduran.

    Di rumah Bintang dan ZIzi juga begitu,. tapi harus diakui kadang pamor membaca kalah jauh dibanding pamor gadget. Harus lebih banyak berlatih dan membiasakan diri nih..

    Like

    • Benar membaca terkadang kalah dengan gadget. Karena di HP saya semua game saya hapus maka tidak ada yang menarik hati anak saya ketika pegang gadget..semoga kita diberikan kemudahan yang penting tetap semangat.

      Like

  6. yaampun, faiz lucu sekali, sudah minta dibacakan bapak
    semoga selalu suka membaca ya dek.

    jadi ingat dulu itu aku dah main sekolah2an karena liat kakak sepupu yang udah besar semua
    trus BOBO tetap teman yang setia setiap minggu. :)))

    Like

  7. Setuju kak!
    Untuk jaman sekarang ini jangan sampai anak terlanjur mengenal gadget sehingga ngga ada minat untuk membaca. Meskipun aku sendiri belum berkeluarga, tetapi memang miris sekali rasanya melihat anak-anak yang dewasa sebelum waktunya :(

    Yuk MEMBACA!

    Like

  8. Untuk membuat anak kecil menyukai ‘baca’ tentulah harus diberi contoh oleh orang tuanya. Bagaimanapun, yang dilakukan oleh orang tua sedikit banyak akan memengaruhi kebiasaan anak.

    Daffa, sampai saat ini, di usianya yang baru berbilang bulan sudah ada ketertarikan terhadap baca, musik, dan bola, setidaknya itulah mainan yang selalu ia pegang :-)

    Emm, tentang ‘Anjing’ mas. Apa tidak sebaiknya diberitahukan juga. Secara bahasa dan juga konotasi negatifnya?

    Liked by 1 person

    • Benar mas, anak megang karena liat kita suka megang. Anak baca karena lihat kita suka baca. Bergantung usia anak mas, kata “anjing” bagi anak usia senang melafalkan kata, akan menyebutkan kata itu walaupun binatangnya tidak ada. Seperti senang mengucapkan saja tanpa tahu maknanya. Nah di lingkungan saya itu kata “anjing” itu juga dianggap kata kata kasar kalau diucapkan anak anak. Saya memilih menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi mas Andhika. Suatu saat akan saya beritahukan tentunya kalau sudah siap. Wah mantap mas, kalau di usia bulanan. semoga Daffa dapat tumbuh dan berkembang dengan baik..salam buat Daffa dari om Adi :)

      Like

  9. makasih banget mas adi, nambah lagi nih bekal ilmu parenting untuk anak-anaku nanti salah satunya mengajarkan kebiasaan membaca untuk mereka, jaman sekarang godaan untuk anak-anak malas membaca emang banyak banget selain televisi, game, bahkan hp justru lebih menarik perhatian anak-anak dari pada buku.

    Like

  10. Bonding yang bagus banget mas sama anaknya.
    Pengajaran yang baik dari kecil pasti akan terbawa terus sampai dewasa.
    Jadi inget dulu, waktu pas bapak suka beli koran, pas udah bapak baca, aku langsung baca korannya. Dari situ tau banyak informasi bagus dan bisa diskusi asyik sama bapak
    Sekalipun waktu ayah dan anak sedikit tapi quality time yang baik, pengajaran yang baik dari ayah membantu perkembangan anak banget.
    Aku pernah nulis artikel tentang parenting di blog, dan ada informasi bahwa anak yang dekat dengan ayah memiliki emosi lebih tenang saat dewasa, dan anak yang memiliki ikatan emosional positif dengan ayahnya sejak usia dini akan tumbuh lebih bahagia. *sekedar share ya mas* hehe
    Semoga anaknya menjadi anak yang pintar dan berbakti kepada orangtuanya.

    Like

  11. Setuju mas, keponakan pun baru berumur 3 tahunan, setiap mau tidur atau keemu suka dimintain baca buku, namun sekrang-sekarang lebih diajarin sedikit demi sedikit walaupun baru tahu abjad saja, tapi sudah bersyukur banget.
    Terimakasih mas adi artikelnya :)

    Like

  12. Setuju, Mas. Buku bagi anak kecil harus diperkenalkan sedini mungkin agar ia tidak merasa asing dengan bacaan. Semoga saya pun nanti jika punya anak dapat mencontoh cara Mas Adi agar bisa mengenalkan buku pada anak dengan cara yang menyenangkan.

    Like

  13. daku nggak inget apakah punya momen-momen membaca bareng ortu. tapi aku inget di rumah kami banyak buku-buku dan buletin. mungkin dari situ awal aku suka baca kali ya.

    kalau sekarang ke ponakan palingan aku sering bacakan dongeng-dongeng di majalah Bobo punyaku dulu pas pulkam dan ngumpul dengan ponakan.

    Like

  14. Entah kenapa, kalau yang menulis parenting dari sisi ayah tuh…selalu keliatan sangat logis yaa….?

    Ga terlalu bertele-tele dan banyak teori.

    Saya masih terdistraksi dengan televisi, mas Adi.

    Semoga bisa lebih konsisten dalam mendongeng dan membersamai anak.

    Like

  15. Membacakan cerita, mengenalkan buku pada anak merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter anak. Anak itu ibaratnya kertas kosong, yang bisa kita bentuk karakternya. Salah satunya dengan banyak mendongeng.
    Kebiasaan membaca memang perlu ditanamkan sejak kecil. Supaya mereka memiliki pengetahuan yang luas.

    Like

  16. Saya juga sudah mengenalkan buku ke anak sejak bayi. Dulu beliinnya buku yang ga gampang sobek.

    Sekarang sudah hampir 4 tahun kalau dibeliin buku milih sendiri, bisa menjaga agar tidak rusak dan hampir semua isi bukunya hafal. Kalau udah minta diceritain, satu buku harus dibaca bolak balik. Ga peduli emaknya capek :)

    Like

  17. No TV no cry…………….hmmmmm……boleh juga. Ada saudara yg keluarganya mempunyai sistem seperti ini. Saya pertimbangkan nanti (berkeluarga saja belum, hehe).

    Benar, membaca. Bisa membaca adalah kunci utama untuk menyibak misteri-misteri dunia dan menemukan banyak hal baru. Terimakasih atas tulisannya, memberi gambaran yang ebih jelas dan terorganisir. Akan diingat ketika nanti berkeluarga, hehe.

    Like

  18. setuju banget mas adi, sejak dini harus kita kenalkan keboasaan membaca pada anak2 kicik.

    kenbre setelah diajakin membaca sebelum tidur atau waktu sore hari setelah mandi sore. waktu bermain buka buku lg dan berusaha menceritakan kembali gb dlm buku itu

    Like

  19. Setuju banget, terutama untuk kontrol orang tua terhadap buku yang dibaca anak. Memang perlu sekali, ortu menyortir bacaan anak anak. Selain kdg2 ada bahasa yg memang tidak pantas terbaca anak. Byk jg cerita cerita ambigu yang malah bermakna negatif. . top lah ini bahasannya manfaat banget

    Like

  20. Baca.

    Bacalah.

    Itu kalimat yang sakti. Bisa dipakai & digunakan oleh semua kalangan & golongan.
    Pandai membaca & baca buku sungguh bermanfaat bagi anak Kecil hingga orang tua.

    Memang sepatutnya ayah ibu mengajarkan & menanamkan kebutuhan utk membaca bagi sang buah hati.

    Anak mulai mengenal angka & huruf atau bacaan yaa dimulai dari sekolah yg pertama yaitu keluarga / rumah.
    So keep doin your job, Sir !
    Well done.

    Thanks.

    Best,
    Kandida

    Like

  21. Iya nih setuju bgt, harusnya sedaei kecil anak udah dididik untuk doyan membaca, caranya ya simpel sedari kecil sudah dikenalkan dgn buku2,tdk seperti jaman skrg anak TK Udah dikasih gadget buat main game -_-

    Like

  22. Membaca tulisan ini mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, setiap mau tidur Bapak selalu membacakan cerita-cerita dari majalah Bobo. Saat sudah bisa membaca, Bapak sengaja berlangganan majalah anak untuk saya baca. Memang, dorongan orang tua agar anak gemar membaca sangat berpengaruh sekali. Apalagi zaman sekarang dimana anak-anak lebih tertarik dengan gadget.

    Like

  23. Wah iya, template Mas Adi baru. Keren.
    Selain membiasakan anak membaca, jangan lupa orangtuanya pun harus mencontohkan kebiasaan membaca. Sehingga nanti ketika anak mulai bisa membaca dan sudah tidak dibacakan buku lagi oleh ayah ibunya, dia masih bisa melihat kedua orangtuanya pun gemar membaca, sehingga tetap ikut suka membaca.

    Like

  24. Seperti biasa, ulasan mas adi lengkap banget. Sangat bwrguna buat orang tua baru atau calon orang tua. Hehehe

    Btw, saya dari kecil jarang baca buku (komik) sih. Emang nggak digalakkan sama orang tua baca begituan. Langsung disuruh ngaji aja dari balita hehe

    Like

  25. Waaaaaa, ini templatenya baru ya, Mas Adi?
    waktu umur 3 tahun kata mama aku lagi joget-joget sambil pegangin selendang, terus akhirnya di les-in nari. hahaha.
    terus mama pernah cerita, katanya setiap dibawa ke toko buku pasti selalu datengin buku resep masakan. hahhaha. setelah itu komik-komik..
    kayaknya itu terbawa sampe sekarang ya. tapi buku jaman kecil yang bena suka dan bena inget bahkan sampe skrg bukunya masih ada yaitu kelinci dan kura2 yang lomba lari itu :))
    duh, bena ngetiknya panjang banget nih. maapin yha.

    Like

    • Serial kelinci? Aku juga suka banget, kak Benaaa. Masih terngiang sampai sekarang. Dan, terobsesi untuk beli buku yang sama buat si K. Tapi sampai sekarang belum ketemu…. 😓

      Btw, si K baru 8 bulan aku udah beli buku seabreg. 😂

      Makasih kak Adi sharingnya, 😊

      Like

    • Iya ka Benaaa, menghadapi tahun 2017 ta buat beda..hee.. sekarang masih bisa nari? Berarti karakternya terbentuk sejak kecil ya..tau itu yang kelincinya ketiduran. Itu ceritanya sampai sekarang awet… Silahkan ka yang panjang juga nda apa2..😁😁

      Like

  26. Aku setuju mas anak2 harus diajarkan membaca di usia yg pas, bisa dimulai dengan dibacakan cerita-cerita lucu.
    Dlu waktu masih kecil aku aga susah kalo mau nyari buku bacaan, mklum dikampung. Tp skrg sudah mulai bnyak toko buku online yg mempermudah kalo mau beli buku.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s