Mempersiapkan Anak Menerima Adik

Anak merupakan anugerah terindah yang dimiliki oleh setiap orangtua. Kehadirannya menghilangkan rasa sakit dan kepayahan sang ibu. Kepayahan saat  mengandung selama 9 bulan, dan rasa sakit saat proses kelahiran. Kehadiran anak membuat sang bunda terenyum manis, bahkan satu detik setelah proses kelahiran yang dirasakan sangat sakit. Begitu pun dengan sang ayah, selama proses kehamilan dan kelahiran isterinya, ia menunggu dengan teramat harap dan cemas. Penuh khawatir dengan kondisi bunda dan buah hati. Akhirnya, perasaan penuh syukur, bahagia dan bangga hadir  saat menggendong buah hatinya untuk yang pertama kalinya.

Anak adalah rezeki, telah ditentukan siapa dan berapa jumlahnya. Karena itu bisa kita perhatikan banyak pasangan yang baru menikah, ada sebagian yang langsung dikaruniai buah hati dan tak sedikit yang menunggu hingga beberapa waktu. Mendapatkan anak bukan hanya sekedar peluang. Bukan masalah perkara semakin banyak kita berhubungan suami isteri maka akan semakin tinggi peluang mendapatkannya. Tengoklah beberapa teman yang begitu semangat dalam berusaha agar isterinya mengandung, baik secara medis maupun non medis belum juga mendapatkan buah hati yang diidam-idamkan. Usaha memang perlu namun berdoa tidak kalah pentingnya.

Ada sebagian yang membatasi jumlah anak dengan alasan semakin banyak anak semakin repot. “Ah, saya cukup dua anak saja. Dua saja sudah cukup repot, apalagi lebih.” Ujarnya dalam sebuah petemuan. Mereka mengira bisa mengatur sepenuhnya berapa jumlah anak-anak yang mereka peroleh padahal berapa jumlahnya telah ditentukan, di akhir tahun kemarin keluarga tersebut memperoleh buah hati di luar “program dua anak” yang mereka rencanakan. Itulah rezeki, memeiliki karakter yang khas. Ia datang untuk melengkapi hidup kita. Ia datang bisa karena diinginkan bisa juga tidak, namun tetap bisa membuat kita bahagia. Ia bisa ditunda karena kita belum pantas untuk menerimanya, ada juga yang tidak diberikan karena kemungkinan kita belum siap. Ketika rezeki itu diberikan maka yakinlah kita memang sudah pantas, sudah siap, mampu untuk menjaganya dengan baik. Berbahagialah bagi ayah bunda yang telah memperoleh karunia terbesar, yakni buah hati.

Berbeda dengan kehadiran anak pertama, saat anak kedua hadir bukan hanya ayah, bunda dan keluarga besar yang menanti kehadirannya, anak pertama kita bahkan menjadi orang yang paling menunggu kehadiran sang adik. Apa yang diraskaan oleh anak kita saat mendapatkan kabar bahwa adiknya akan segera hadir di sampingnya?

Beberapa hal yang berada dalam pemikiran saya adalah perhatian yang tiba-tiba terbagi, kasih sayang yang dirasakan berkurang, dan kebersamaan dengan ayah bundanya yang semakin jarang. Itulah hal yang mungkin dirasakan oleh anak kita sesaat setelah kehadiran sang adik.  Mereka kehilangan apa yang mereka miliki saat itu tanpa tahu apa penyebabnya, sesaat setelah ibunya tiba-tiba dibawa ke ruang persalinan. Di hari-hari berikutnya bundanya lebih banyak menghabiskan perhatiannya dengan adik tercinta. Ayahnya tiba-tiba jarang bermain lagi dengannya karena sibuk mempersiapkan kebutuhan ibu dan adiknya.

Perubahan yang luar biasa bagi  anak kita, sehingga “sang adik” akan cenderung menjadi ancaman, ketakutan dan membuatnya tidak nyaman. Saya pernah berbagi pengalaman dengan beberapa rekan kerja. Ternyata respon anak terhadap kehadiran sang adik berbeda-beda. Ada sebagian yang menunjukan sikap cemburu, sehingga rasa memiliki dan ingin menguasai yang cukup besar. Rasa cemburu yang dimiliki anak bisa dutunjukan secara langsung, bisa juga tidak. Kecemburuan yang ditunjukan secara langsung bisa dilakukan anak dengan lisan maupun fisik. Bisa kepada adik, kepada ibu, atau bahkan keduanya. Bahkan ada sebagian teman yang bercerita bahwa ia sering dihalang-halangi anaknya untuk menggendong atau memandikan adiknya dan meminta ibunya melakukan seuatu utnuk dirinya.

Sikap lain menunjukan bahwa anak akan menunjukkan sikap murung, berubah menjadi pendiam, atau bahkan ia akan bersikap cengeng, mudah menangis karena hal-hal kecil. Hal ini patut disadari oleh setiap orangtua agar kita memiliki sikap yang tepat dalam mengatasi sikap anak yang berbeda dengan biasanya. Alih-alih ingin mendisiplinkan anak, kita malah sibuk berdebat dengan anak karena anak cenderung lebih “rewel” setelah memperoleh adiknya.

Bagaimana agar anak menerima adiknya?

Saya ingin berbagi, bagaimana kami mempersiapkan anak kami untuk menerima adiknya. Saat ini anak pertama kami berumur tiga tahun. Upaya yang kami lakukan kami bagi menjadi tiga tahap, yaitu saat kehamilan, menjelang kelahiran, dan setelah kelahiran.

Saat kehamilan. Sejak sang ibu diketahui positif hamil kami mengusahakan agar anak mengetahui bahwa ia akan segera punya adik. Yang saya lakukan pertama, membiasakan dengan pelan dan hati-hati kepada anak pertama kami untuk lebih mandiri dengan mengatakan bahwa ia sudah mulai besar. Saya juga memberikan pengertian bahwa kehadiran adik akan membuat perbahan statusnya dari “dede” menjadi “aa”, sehingga sejak saat itu anak pertama kami sebut dengan aa. Sejauh ini cukup efektif, beberapa pekerjaan yang biasanya dilakukan dengan orangtua seperi makan, mencuci tangan, dan halhal kecil lainnya sudah mau dilakukan sendiri, walaupun tetap didampingi.

Sejak anak pertama lahir kami sudah terbiasa berbagi tugas rumah tangga. Disamping karena kami tidak memiliki asisten rumah tangga, berbagi tugas akan lebih mendekatkan hati-hati kami. Ada celah kompromi atas kesibukan saya bekerja dengan kepayahan isteri saya mengurus rumah tangga saat saya pergi bekerja.  Di saat isteri saya harus memasak di dapur, saya sudah terbiasa menyuapi makan, memandikan anak atau membereskan rumah. Karena anak sudah terbiasa berinteraksi baik dengan ayah maupun bundanya, saat memiliki adik dan bundanya sedang sibuk memberikan asi atau mengganti popok, ia tak sungkan untuk meminta sesatu untuk keperluannya kepada saya.

Kedua, berikan pengertian bahwa betapa asiknya punya adik. Saat umur kehamilan di tiga bulan terakhir, saat bayi mulai menendang, bundanya selalu memanggil anak pertama kami, “ Aa sini adik nendang perut bunda, nanti kalau dede sudah besar bisa main bola sama Aa”. Saat itu anak saya sangat senang, setiap saya ajak bermain bola ia selalu berkata bahwa ingin sekali bermain bola dengan adiknya. Ia sudah tak sabar menunggu adiknya tumbuh besar dan ikut bermain bola bersama kami.

Menjelang kelahiran. Sangat penting mempersiapkan anak kita menjelang proses kelahiran. Saat bundanya harus dibawa ke ruang perawatan, anak kita tidak diperbolehkan untuk masuk ke ruang persalinan. Saat itulah bisa jadi kehadiran anak akan menambah kepanikan. Saat ayah ingin menemani bundanya di ruang persalinan, kita pun harus mempersiapkan anak kita agar bisa berada di luar bersama kakek, nenek, atau saudara kita. Untuk anak usia 3 tahun ke atas, ditinggalkan secara tiba-tiba oleh ayah dan bundanya akan melahirkan pertanyaan besar. Jika tidak dipahami, bisa jadi anak kita akan memaksa untuk masuk ke ruang persalinan. Sehingga hal ini perlu dikomunikasikan dengan anak kita bahwa saat melahirkan, bundanya akan masuk ke ruang perawatan, dan untuk anak seusianya tidak diperbolehkan. Mengajarinya berdoa agar bunda dan adiknya bisa sehat dan selamat akan menguatkan ikatan diantara mereka kelak.

Setelah kelahiran. Pertama, tunjukan padanya bahwa yang telah lahir adalah adiknya. Saya mulai memperkenalkan putera kedua kami kepada kakaknya sesaat setelah kelahiran. “Kakak ini adik, sudah 9 bulan adik di dalam perut bunda. Adik kangen banget sama Kaka”. Saya berharap dengan pengungkapan tersebut anak kami merasa turut bahagia, seperti anggota keluarga yang lain. Kedua, libatkan anak kita saat bersama adiknya, sebagai contoh saat adiknya selesai mandi kita bisa meminta tolong untuk diambilkan bedak atau minyak telon kemudian berikanlah pujian atas apa yang dilakukannya. Sehingga anak merasa peranannya dalam keluarga ada, sehingga kehadiran adiknya tidak mengganggu eksistensinya sebagai anak dari ayah dan bundanya juga.

Saat ini dengan upaya yang telah diakukan di atas, rasa cemburu pastinya tetap ada. Saya masih menjumpai anak pertama saya menarik tangan saya ketika bercanda sedang dengan adiknya. Saya diajak bermain bola dengannya di lapangan rumah depan. Kejadian lain adalah secara tiba-tiba anak saya membawa buku dan bundanya disuruh bercerita padahal sedang mengganti popok adiknya. Alhamdulillah dapat diatasi dengan baik, jika tidak bisa diberikan penjelasan, kami pun berbagi tugas. Komunikasi dini yang baik dengan anak sangat penting untuk dilakukan. Karena dari komunikasi yang baik, segala nasihat yang kita berikan akan mampu dipahami oleh anak dengan baik. Menambah momongan itu telah menyita lebih banyak waktu, perhatian dan tenaga kita, akan tetapi ia juga menghadirkan kebahagian besar yang tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata.

img_20160801_164409

 

Advertisements

43 responses to “Mempersiapkan Anak Menerima Adik

  1. kehadiran adik buat kakak kadang membuat dia krg nyaman, saya mengalami wkt saya lahiran bre, adiknya kenya.

    waktu ada yg dtg menjenguk bre, bbrp org bawa kado 2 satu buat kakaknya satu buat bre. Spy tdk ada iri thdp bayi (bre).

    proses pembelajaran memang terus dilakukan sampai skrg mas haha tak jarang mereka jg bertengkat hal sepele tp cepat tertawa bersama lagi :)) *anakanak

    Like

  2. Semua tips mas Adi itu patut dicontoh buat yg mau punya anak lagi.

    Kebetulan anak pertama dan kedua jaraknya cuma 6 bulan, jadi ga ada kata cemburu2an adik ma kakak. Beda sm anak ketiga karena jarak dr kakak kedua 14 tahun… jadi yg cemburuan sekarang adalah bapaknya.. eh… hahahaha

    Like

  3. Waah tipsnya bermanfaat banget nih soalnya lagi mau program juga untuk punya dedek bayi. Alhamdulillah anakku udah mulai paham apa itu adik tapi ya diusianya yg masih 2 tahun kadang agak sulit juga ngejelasin ttg adik baru. Mudah2an perlahan ia paham. Amiin

    Like

  4. Mirip dengan cara saya, mas. Persiapan menerima adik memang harus bertahap. Daaan,,, yang terpenting, tekankan bahwa adik (meski masih janin) sangat ingin bertemu kakak. Ketika lahir, kenalkan segera. Alhamdulillah, dua anak saya akur. Si adek nurut pada kakaknya, dan si kakak ngemong adik. PR saya sekarang adalah … bagaimana membuat adiknya mandiri karena terlalu lekat pada kakaknya.
    Kelihatannya saya over stimulasi, nih. Hahahaha….

    Like

  5. Saya kok ngerasa penting banget baca ini yaa. Meskipun Kizain masih berusia 11 bulan dan adeknya masuk usia kandungan 6 bulan, dia udah sering nemplok di perut saya. Rasa cemburu udah nampak banget. Kadang suka melakukan hal yang tak terduga di daerah perut. dan suka nyari perhatian.

    Meskipun dia belum paham benar, tapi saya yakin insya Allah dia akan menjadi abang yang sholeh. Kalo orang bilangnya harus jeda sekian dan sekian, saya dalam sanubari yang sangat dalam sebenarnya sangat ingin. Tapi Allah Maha Berkehendak memberi amanah lagi di saat Kizain belum berusia dua tahun. Semoga Allah memampukan kita semua mendidik dan mengasuh mereka menjadi anak yang sholeh. Terimakasih artikel bagusnya mas.

    Btw, barakallah fii mauhub.

    Like

  6. Iya betul bang, respon pertama yg dialami si anak ketika dia punya adik baru itu cemburu, apalagi jika si anak masih balita yg masih manja dan suka mencari perhatian, kayak ponakanku baru berumur 4 tahun tp udah dikasih adik lagi, eh dia mulai rewel dan kadang suka bertindak aneh aneh dalam menunjukkan kecemburuannya kepada si adik, misalnya dia suka jahil dan iseng, kayak nglitikin pas lagi tidur dsb

    Like

  7. Jangan sampai orang2 meracuni fikiran si anak pertama, bahwasannya dengan kelahiran si adik, anak pertama tifak disayang lagi.
    Hal itu pengalaman pribadi aku. Yang mana mampu menimbulkan cemburu tingkat akut.
    Perbedaan umur kami sih 12 tahun, tapi tetap saja, saya dibiasakan manja, lalu punya adik. Kageet euy hehe.

    Like

  8. Keren tulisan mas Adi. Lengkap dengan cerita dan tips nya…

    Saya sih nggak ngerasain punya adik. Tapi punya keponakan. Lumayan ngerasain sih kalo orang tua lebih perhatian sama cucunya. Hehe

    Like

  9. Waktu itu suka ngikutin IG-nya Maya Septa, sejak diniatkan program punya adik sudah dikenalkan pada kakaknya, diajak berandai-andai kalau punya adik, saat hamil diajak menjaga adik bersama-sama agar ada rasa sayang dan saling memiliki, dst.

    Yang terpenting mencoba tetap adil sehingga kakak tidak merasa diduakan dan berkurang kasih sayang kedua ortu.

    Semoga suatu saat bisa praktek dg benar. Hehe

    Like

  10. Saya jadi ingat proses waktu mau melahirkan anak kedua, kakaknya nunggu sampai larut banget, padahal sudah diajak ayahnya buat istirahat, tapi tetap mau nunggu adiknya. Alhamdulillah sebelumnya saya sudh menerapkan sedikit tips di atas, meskipun rasa cemburu kakak pasti masih ada. Tipsnya membantu banget, Mas. Tfs.

    Like

  11. ini PR yang gak boleh disepelekan ya mas, kita harus bisa memberi pengertian dari sejak dini untuk si sulung yang mau punya adik, mudah-mudahan bisa aku praktekin tipsnya nanti kalo udah ada anak :)

    Like

  12. Aku belum punya anak, tapi aku sering melihat anak-anak dari kakak sepupu. Kadang saya melihat, anak pertama cemburu dengan anak kedua, mungkin karena perhatian orang tua dan orang sekitar lebih ke adiknya.

    Like

  13. Ingat dulu pas saya sempat hamil, keponakan dekat bgt sama saya. Dia tau kalo saya lagi halil, eh dia cemburu loh. Padahal itu baru keponakan ya, gimana kalo nanti punya anak sendiri yang mau punya adek lagi :)

    Intinya kita kudu mengafirmasi secara bertahap ya untuk si kakak, trims tipsnya mas.

    Like

  14. Sebagai anak yang tidak mempunyai adik, saya tidak merasakan hal-hal yang seperti ini. Tapi saya melihat sendiri cara yang sama yang dilakukan kakak saya untuk mempersiapkan mental ponakan saya ketika akan mempunyai adik. :)

    Like

  15. Wah menarik nih.
    Jadi inget pesen mama,

    “Kalau mau punya anak di jeda 2 tahun. Kenapa? Biar kasih sayangnya yg dikasih pas, biayanya juga pas, semuanya serba pas.”

    Dan sebagai anak pertama alhamduliah aku ngga merasa cemburu sama adek2 aku. Karena semuanya dikasih secara pas :”) ihik ihik.

    Like

  16. Iya, alasan saya menunda kehamilan kedua pun karena “mengantisipasi” reaksi yang akan diberikan anak pertama.

    Kalau saya boleh berencana, baru di usia Daffa yang ketiga/keempat nanti kami akan melakukan program kehamilan yang kedua. Agar, ya, setidaknya anak pertama kami bisa diajak kompromi dan (harapnannya) juga mengerti.

    Terima kasih tipsnya, Mas Adi. Saya akan meminta istri saya membacanya juga.

    Like

  17. Tips nya keren sekali mas Adi.
    Saya sendiri jg merasakan dulu, kagetnya punya adek kembar dan kemudian merasa tersisihkan krn ayah ibu lebih perhatian ke adek. Semoga nnti kalau Allah memberikan amanah lagi bisa mempraktikkan tips nya. Terima kasih :)

    Like

  18. Betul Mas, kehadiran adik baru memang harus dikomunikasikan dengan kakaknya. Agar si kakak juga merasa memiliki, sayang pada adiknya dan tidak merasa tersisihkan.
    Waktu anak kedua saya lahir, kakaknya keliatan antusias, mungkin karena punya mainan baru, hehehe. Tapi sudah besar, mereka rameee terus…hadooh…

    Like

  19. Salut sama Mas Adi yang bisa meminimalisir rasa cemburu si kakak terhadap kehadiran adek. Kalau dilihat tips-tipsnya sih jadi keinget sama saya dulu ketika mau punya adek. Plek. Mirip yo. Memang bagusnya kayak gitu kali ya, jadinya sejak awal sudah disiapkan kalau dia mau menjadi kakak.

    Like

  20. Walaupun belum punya anak, menurut saya efektif kalo abangnya lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan bunda ketika mengurus si adik sehingga si abang tidak merasa ditinggalkan, dan perhatiannya kl justru akan “tersita” dengan serunya mengurus adik

    Like

  21. Dua anakku jarak usianya berdekatan emang saat hamil adiknya si kakak disunding terus sih, dan saat adik lair ada saat we time sama bunda/ ayahnya khusus ma kakaknya. Gk perlu pergi kemana gtu, bisa dengan pas adik bobo ayah bunda ngajakin main kakak…

    Like

  22. Tulisan ini jadi mengingatkan saya bagaimana menerima adik dulu. Ternyata, memang, orang tua sebaiknya mempersiapkan anak untuk menerima seorang “teman”nya.

    Sip mas!

    Like

  23. Alhamdulillah, mas..
    Masalah komunikasi dan kerjasama antara suami istri memang sangat diperlukan saat menyambut anggota kluarga baru.

    Perbedaan yang terlalu dekat juga kadang mempengaruhi perkembangan mental anak.

    Tp in syaa allah berdoa, memohon kemudahan sama Allah.

    Like

  24. Aku punya sodara yang kewalahan mempersiapkan si abang. biasanya masalah cemburu buta yang bikin repot. kadang-kadang klo lagi kumat adeknya selalu dibikin nangis. mungkin beberapa bisa dipraktekkan ya mas

    Like

  25. Saya saat ini sedang program anak ke 2, dan si kakak hampir 4thn Kadang bilang suka kadang bilang ga suka. Agak galau juga sich takutnya bakalan cemburu berlebihan seperti masa kecil saya :)

    Terima kasih tipsnya Mas Adi, bisa di praktekin kalau udah dikasih rejeki lagi :)

    Like

  26. Seperti biasa, tulisan mas Adi selalu memberikan tips-tips jempolan. Semoga bakal bisa aku praktekan suatu saat nanti ya, mas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s