Kita Awali dengan Fullday School

Beberapa pekan yang lalu Presiden Joko Widodo melakukan reshuffle Kabinet Kerja jilid II. Ada beberapa menteri yang dicopot, sebagian lainnya digeser ke posisi menteri lain. Salah satu menteri yang dicopot adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Bapak Anies Baswedan. Sosok menteri penuh inspirasi ini digantikan oleh Bapak Muhadjir Effendy yang pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMY). Sesaat setelah dilantik Mendikbud menyampaikan rencananya untuk  menerapkan fullday school, penambahan jam belajar sekolah dengan penitikberatan pada materi-materi seputar revolusi mental dan kebangsaan.

CoXXD2jUAAAgg_l (2)

Serah terima jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sumber : Kemendikbud

Dari gagasan yang disampaikan Pak Menteri, terlihat bahwa beliau belum menyiapkan roadmap yang jelas yang memenuhi standar nasional pendidikan di Indonesia. Sebenarnya dengan membangun sebuah konsep yang jelas dan terukur, program apapun yang diusulkan Pak Menteri berpeluang menjawab apa yang menjadi permasalahan sistem pendidikan di negeri ini. Sebuah gagasan yang belum jelas konsepnya tersebut pada akhirnya menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Karena banyaknya penolakan yang dilakukan oleh orang tua dan guru, wacana yang disampaikan Pak Menteri pun kini tenggelam oleh isu-isu lainnya.

Menurut hemat saya sebelum membuat program Pak Menteri sebaiknya mengacu kepada 8 kriteria pendidikan nasional yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kriteria tersebut mengatur bagaimana pemerintah membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sistem pendidikan. Adapun 8 kriteria tersebut diantaranya adalah standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan.

Beberapa sekolah di Indonesia memiliki permasalahan dasar yang sama, yaitu kurangnya sarana dan prasarana pendidikan. Tentunya hal itu yang akan menjadi penghambat program fullday school. Ada beberapa sekolah yang memiliki jumlah kelas terbatas harus bergantian dalam menggunakan gedung. Saat pagi hari digunakan oleh siswa kelas 3 dan kelas 2 sedangkan di siang harinya digunakan oleh kelas 1. Mustahil untuk menambah jam belajar karena ruangan yang ada saja tidak mencukupi. Bahkan fasilitas lain seperti kamar mandi pun tidak semua sekolah mampu menyediakannya. Sekolah yang ingin menerapkan fullday school setidaknya memiliki kamar mandi yang bersih dan jumlah yang mencukupi. Tidak mungkin anak beraktifitas dengan waktu selama itu, tanpa pergi ke kamar mandi baik untuk membersihkan diri atau yang lainnya.

Sekolah swasta tertentu telah menerapkan fullday school, tentunya dengan biaya masuk dan bulanan yang tidak kecil. Uang tersebut memang digunakan untuk menutupi anggaran sarana prasarana yang meliputi gedung, lapangan outdor maupun hal-hal lain seperti biaya kegiatan atau penyediaan makan siang yang terjadwal setiap harinya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah pemerintah sanggup menyediakan dana yang cukup besar untuk menutupi kekurangan anggaran di sekolah yang menerapkan fullday school? Bukankah pemerintah sedang menghemat anggaran karena harus menggenjot pembangunan infrastruktur?

Mari kita berandai-andai apabila program ini benar-benar terjadi. Anak kita akan dijadwalkan pulang sekolah pukul 4 atau 5 setiap harinya. Pertanyaan selanjutnya apakah sekolah memiliki sumber daya manusia yang mumpuni? yakni guru yang mampu memberikan pendidikan karakter dan kebangsaan. Sampai saat ini sosialisasi pendidikan karakter warisan pemerintahan sebelumnya pun belum merata pada semua guru.

Pak Menteri nampaknya juga lupa bahwa saat ini telah terjadi kesenjangan yang cukup jauh antara satu sekolah dengan sekolah lainnya di Indonesia. Kesenjangan yang paling terlihat adalah perbedaan kualitas sarana prasarana dan guru. Bisa jadi program fullday school yang pada awalnya diharapkan menjadi solusi justru akan menjadi beban bagi anak-anak kita.

Beban Anak Indonesia di Sekolah 

Mari kita awali dengan pengalaman saya mengajar seorang anak kelas X SMA yang kesulitan mempelajari mata pelajaran Kimia. Sebelum memulai pelajaran ia menginterupsi saya, memohon izin untuk tidur selama 15 menit. Saya pun mengizinkannya. Setelah saya tanya ternyata jadwalnya hari ini sangat padat. Dimulai dari berangkat sekolah pukul 6 pagi kemudian dilanjutkan sekolah hingga pukul 4 sore. Tak cukup sampai di sana, setelah pulang sekolah ia harus belajar di sebuah lembaga bimbingan belajar hingga maghrib kemudian baru pulang. Setelah pulang ke rumah, ia belajar dengan saya hingga pukul 9 malam.

Padat sekali jadwal anak-anak kita saat ini. Di Bogor sendiri jam sekolah untuk SMA memang dimulai dari pukul 7 pagi hingga pukul 4 sore. Hal ini digagas oleh Dinas Pendidikan Kota Bogor, dengan meliburkan siswa sekolah di hari Sabtu. Hari Sabtu dianggap hari macet. Bogor dipadati oleh kendaraan-kendaraan roda empat berlabel B saat akhir pekan. Diharapkan libur di hari sabtu dapat mengurangi tingkat kemacetan. Nyatanya tidak. Bogor sebagai kota sejuta angkot tetaplah macet.

Saya jadi teringat memori saat saya masih sekolah menengah dahulu. Mulai sekolah pukul 07.00 dan berakhir pukul 13.45. Setelah waktu itu kami melanjutkan dengan kegiatan ektrakulikuler atau pulang membantu orangtua di rumah. Kami memiliki waktu yang cukup untuk bermain. Anak anak kita memeiliki beban belajar yang sangat berat, bahkan lebih berat bila dibandingkan dengan anak-anak di negara maju sekalipun.

Kasus kedua, ketika saya mengajar siswa SMA menghadapi UN tahun lalu. Saat saya menjelaskan beberapa bahan pelajaran, saya merasa sedikit terganggu dengan sikapnya. Ia ada namun seolah-olah tidak ada. Tatapan matanya kosong. Sesekali saya layangkan pertanyaan untuk mengembalikan fokusnya, jawabannya tak memuaskan saya. Kemudian saya bertanya kepada anaknya, “Kamu kenapa tidak semangat belajar ?” Ia menjawab buat apa saya belajar mata pelajaran ini, cita-cita saya kan ingin masuk jurusan dimana saya tidak perlu belajar ini. Saya jadi nggak semangat belajarnya. Kepala saya serasa mau pecah dengan apa yang saya pelajari selama ini, terlalu banyak”.

Ada dua beban anak Indonesia di sekolah. Pertama, beban itu berasal dari jam belajar yang sangat panjang. Waktu anak yang digunakan untuk belajar sudah sangat lama. Saya sangat khawatir mereka akan kehilangan masa bermain yang sangat penting bagi tumbuh dan berkembang anak. Padahal ilmu dan pengetahuan itu tidak semuanya diperoleh di sekolah. Ada beberapa hal yang hanya bisa anak peroleh dari kegiatan di luar sekolah. Ada beberapa aktivitas di luar sekolah yang bisa digunakan untuk menggali keterampilan siswa seperti kursus komputer, belajar bahasa, menjahit, dan sebagainya.

Kedua, beban yang berasal dari jumlah pelajaran yang begitu banyak. Bukankanh tidak semua ilmu harus dikuasai oleh setiap kita. Karena kita tidak mungkin kita menjadi pakar dalam semua bidang. Terkadang setiap pergantian pemerintahan, menteri pendidikan selalu menambahkan sesuatu hal yang baru untuk siswa tanpa mengevaluasi apakah hal yang telah diterima siswa sebelumnya benar-benar diperlukan oleh anak-anak atau tidak. Silahkan cek tas anak-anak kita, dengan usia yang masih kecil jumlah buku yang dibawa sangat banyak.

Berkaca pada Finlandia

Beban anak kita memang lebih berat bila dibandingkan dengan anak-anak seusianya bahkan di negara maju sekalipun. Beban belajar yang begitu berat ternyata tidak juga menghasilkan generasi yang matang baik secara keahlian dan keilmuan maupaun sikap dan mentalitasnya. Negara-negara maju yang memiliki generasi yang mampu berperan aktif dalam proses pembangunan bangsanya, saya perhatikan beban belajarnya tak seberat di Indonesia. Kita sampai saat ini baru mampu menghasilkan atlet olimpiade Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan bahkan menjuarai di berbagai ajang olimpiade tingkat dunia.

Mari sejenak kita melihat negara dengan pendidikan terbaik dunia FINLANDIA. Finlandia sebagai negara dengan pendidikan terbaik ternyata anak didiknya belajar dengan beban belajar yang lebih ringan bila dibandingkan dengan Indonesia. Namun negaranya sudah masuk sederatan negara yang memiliki tingkat kemakmuran yang lebih baik dari negara kita.

Indikator Indonesia Finlandia
Usia anak bersekolah (tahun) 3  (PAUD) 7
Waktu isirahat 3 jam belajar kemudian istirahat 30 menit 45 menit belajar, 15 menit isirahat
Waktu belajar dalam 1 hari (jam) 9 5
Ujian Nasional UN SD, UN SMP, UN SMA Test standar saat usia anak 16 tahun
Kelas Ada kelas unggulan Tidak ada kelas unggulan, semua anak diperlakukan sama
Jumlah siswa dalam 1 kelas (siswa) 30-40 16

Sumber : esqsmartplus

Mobilitas pelajar di Finlandia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukan bahwa ketertarikan pelajar yang ingin belajar di Finlandia terus mengalami kenaikan. Pelajar yang datang tidak hanya orang Eropa asli, bahkan dari seluruh negara di dunia menurut data dari Ersmus Mundus per 1992-2013.

67260_Student_mobility_to_Finland

Jumlah mobilitas mahasiswa ke Finlandia tahun 2012-2013 sumber : erasmusmundus

Kurangi beban anak kita, biarkan mereka bahagia

Saya jadi berfikir apakah diperlukan pembobotan terhadap setiap mata pelajaran yang diajarkan. Kita memilah mana pelajaran yang diperlukan oleh anak, mana yang tidak. Mengelompokkan beberpa mata pelajaran mana yang cukup diketahui saja dan mana yang harus dihafalkan. Sebagai contoh dalam memahami sistem tata surya. Anak-anak diajarkan untuk menghafalkan seluruh nama planet, jaraknya dengan matahari hingga diameter planet tersebut. Bukankah sebaiknya anak diarahkan untuk hanya sekedar tahu bahwa ada beberapa planet dengan nama masing-masing, mana yang terbesar dan mana yang terkecil, mana yang jaraknya lebih dekat dan terjauh. Tanpa harus detail menghafalkan semuanya.

Saya terkadang melakukan mini survey yang dilakukan kepada teman-teman saya yang berprofesi sebagai dokter, pengacara, pegawai bank, politikus dan orang sukses lainnya. Saya bertanya terkait tata surya, dan mereka semua menggelengkan kepalanya. Mereka menganggap apa yang dipelajarinya dulu bermanfaat tapi cukup tahu saja sudah bagus, karena saat ini mereka tidak menggunakan pengetahuan itu untuk masa depan mereka. Pertanyaan saya tersebut baru tepat apabila saya menanyakannya kepada astronot. Artinya materi tersebut memang sangat penting untuk anak yang bercita-cita unuk menjadi seorang astronot. Memang tidak semua materi harus dihafal dan dikuasai oleh anak.

Basic Skill Bekal Anak Menghadapi Masa Depan

Saat sekolah menengah pertama, kita tentunya pernah belajar fisika bab kalor. Kita diperkenalkan dengan satuan derajat Celsius, kemudian diajarkan mengubah dari derajat Celsius ke Fahrenheit, dan Reamur. Dilanjutkan dengan Asas Black yang digunakan untuk menghadapi kasus suhu campuran, ketika air dingin dicampurkan dengan air panas. Kita belajar semuanya, namun bagaimana apabila tangan kita tersiram air panas? Apa yang boleh dilakukan? Apa yang tidak boleh dilakukan? Kita tidak mendapatkannya di sekolah.

Kita pun belajar ekonomi akuntansi. Kita belajar prinsip-prinsip ekonomi. Kita pun mendengar pendapat bahwa sumber daya itu terbatas, sedangkan keinginan manusia tak terbatas. Masukan piutang di kolom debet, belanja di kolom kredit. Namun apakah kita diajarkan bagaimana mengelola keuangan “uang jajan” yang diberikan orangtua? Bukankah itu penting sehingga anak-anak akan semakin terampil dalam mengelola keuangannya sendiri? Kita tidak mendapatkannya di sekolah.

Saya mengajak ingatan kita saat guru biologi kita menjelaskan organ tanaman, bagian-bagian dari bunga, bagaimana bunga melakukan reaksi fotosintesis. Namun kita tidak diberikan pengetahuan tentang jenis-jenis tanaman herbal dan manfaatnya. Padahal banyak sekali tanaman di sekitar kita yang bisa dijadikan sebagai obat tradisional. Bab reproduksi kita pelajari baik pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Kita belajar bagaimana serangga ikut terlibat dalam penyerbukan pada putik. Siklus menstruasi dan hormon-hormon yang terlibat didalamnya pun kita pelajari dengan baik. Pendidikan seks usia dini, apakah sempat diajarkan di sekolah? atau apakah anak-anak sudah mengetahui bagian mana dari tubuh kita yang tidak boleh dilihat dan dipegang oleh orang lain? lalu bagaimana menghadapi orang-orang yang memiliki perilaku menyimpang seksual? Kita tidak mendapatkannya di sekolah.

Anak-anak belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai saja, bukan hanya untuk memperoleh ijazah saja, yang mana dengan ijazah tersebut mereka memperoleh pekerjaan. Lebih dari itu, kita belajar untuk menjadi manusia seutuhnya. Saya meyakini seluruh guru di tanah air ini akan senang dan bangga apabila ilmu yang mereka ajarkan berdampak nyata bagi kehidupan anak didiknya. Bukankah yang anak-anak hadapi bukan hanya ujian nasional saja. Mereka hidup untuk menaklukkan dunia, bukan malah ditaklukkan duniai.

Fullday school yang diwacanakan oleh Pak Menteri nampaknya belum mendapatkan respon positif. Seandainya yang Pak Menteri sampaikan saat itu adalah Fulldady home tentunya akan sangat berbeda reaksi masyarakat menghadapi wacana tersebut. Apakah Fulldady home?  Semoga saya bisa menuliskannya di artikel selanjutnya,, Insyallah..

 

Advertisements

78 responses to “Kita Awali dengan Fullday School

  1. nah ini, kl emg pendidikan di Indo diubah mohon dg sangat anak jgn terlalu dibebankan banyak tugas dan mata pelajaran yg berat. kemudian soal masuk sekolah TK pun umur 3,5 th ada yg sdh dimasukkan ke kelas kecil. somehow kasihan ama anaknya. Di Indonesia rada aneh, merasa bangga kl anaknya semakin umurnya muda masuk sekolah TK. 🙈

    Like

  2. Terkait dengan fulldayschool, kalau aku sendiri merasa negara ini belum siap kalau secara “tiba-tiba” seperti itu. Lalu agak kasihan juga dengan adik-adik yang harus menjalaninya 😅
    Tetapi jika konsep dan teknis pelaksanaannya memang sudah jelas, mungkin bisa coba menerapkan di beberapa tempat sekaligus sebagai uji coba 😅😅😅

    Like

  3. Di tempatku sebelum ada paparan Fullday School dari Mendikbud RI yang baru saja dilantik, sudah lama banget beberapa sekolah telah melaksanakan Fullday School. Semoga Fullday School mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap dunia pendidikan di tanah air ya :D

    Like

  4. hmmm, full day school. pasti banyak pro dan kontra, untuk artikel ini kontra ya. tapi menteri pendidikan sudah bilang ” ini baru gagasan tapi sudah banyak yang menentang”.
    Mungkin karena masyarakat emang kaget dengan dikeluarkaannya rencana ini ketika menteri baru dilantik.
    kalau aku sih, setuju aja full day, tapi dengan catatan, tidak ada les tambahan. kenapa ada les tambahan? satu, karena guru di sekolah kurang berkualitas, dan kurang emncakup semua murid, dua, orang tua yang terlalu perfeksionis.
    di Korea saja, mereka fullday, dan anaknya juga disuruh les sampai anaknya muak dan bunuh diri. hmmm.

    Like

    • Benar Mba nampaknya pemerintah sekarang bnyak melakukan test the waters.. kebijakan berbasis respon masyarakat. Astaghfirullahaladzim jangan sampai ya kita termasuk negara yang pendidikannya melahirkan bunuh diri. Pengetahuan koreanya mantap ya

      Like

  5. Soal full day dan half day ini akhirnya memang tergantung kesiapan sarana dan sdm nya ya mas. Kalau sekolah siap mah hayuk. Eh di daerah malah dengan jam sekolah yg sampai siang aja gurunya udah bingung ngadepin siswa di siang hari. Apalagi sampai sore.

    Pengalaman mas dengan siswa SMA itu bisa jadi juga dialami guru lain. Ssstttg, saya dulu waktu SMA juga pernah berpikir begitu lho pada mata pelajaran tertentu yang menurut saya tidak nyambung dengan cita-cita.

    Pada akhirnya menurut saya pembenahan pendidikan kita bukan persoalan durasi tetapi soal kualitas.

    :-) senang bisa membaca artikel yang berisi di awal weekend..

    Like

    • Benar Mba kalau semuanya sudah siap rasanya kita ngikut aja ya Mba. Memang saya lihat di perkotaan jauh lebih bisa diimplementasikan. Setuju saatnya bicara kualitas. Terima kasih Mba 😀

      Like

  6. Zaman SD-SMP aku belajar cuma lima jam juga, bahagia? Lumayan, sih. Kata orang-orang mah enak, tapi gak tau aja tugasnya kayak apa. Apalagi pas SMP. Biarpun jam belajarnya di sekolah lebih dikit, tetep aja waktu main hampir gak ada. Bahkan tidur pun sering pagi, sampe kebiasaannya kebawa sampe sekarang. :(
    Oh iya, kujuga sempat ngobrol pas lulus SMA sama mantan guru sekolah Semi Palar Bandung yang ambil studi lanjutan di New Zealand, dia banyak berbagi soal beda pendidikan di luar dan dalam negeri. Yang kuingat banget soal ujian akhir. Kalau di sini kan pilihan ganda gitu, ya. Yang ujung-ujungnya kalo mentok ya ngasih isi Hahaha tapi kalo di luar katanya bikin esai. Jadi mereka disuruh ngungkapin apa aja yang mereka dapat di sekolah itu dalam bentuk esai. Kurang lebih gitu deh. Ya, cukup sangat beda, sih, ya.

    Like

    • Kalau begitu usia SMP sangat mempengaruhi kondisi sekarang ya. Wah senangnya bisa diskusi dengan teman yang punya pengalaman baru. Di kita jawaban berbasis esai itu dipakai baru di S1 ya..

      Like

  7. Satu yang bisa saya garis bawahi dari artikel di atas, bahwa kita tidak bisa menguasai SEMUA bidang. Tidak semua pelajaran harus anak kuasai dalam program fullday school. Sebagai orangtua, sebaiknya kita mendukung talenta dan minat anak dengan memasukkannya ke sekolah yang sistemnya sesuai dengan kebutuhan diri si anak. Mau fullday school atau tidak, itu adalah keputusan bersama agar anak merasa nyaman dalam belajar.

    Like

    • Benar Mba Rindang akan efisien. Anak akan punya keahlian specific. Mampu menguasai bidang tertentu secara mendalam akan lebih baik daripada bisa semua tapi setengah setengah

      Like

  8. Untung wacana full day school tidak jadi diterapkan ya, mas. Kasihan adik-adik kita kalau waktunya hanya dihabiskan di sekolah. Mereka juga butuh waktu istirahat dan bermain.
    Sistem sekolah kayak di Finlandia kayaknya boleh juga dipertimbangkan untuk diterapkan di Indonesia.

    Like

  9. Pemikiran yg cukup apik mas.

    Jika berkaca dg pendidikan Korea /Jepang maka dampak yg timbul di Indonesia adalah akan semakin banyak angka kematian akibat bunuh diri akibat stress skolah.

    Tapi jika kita berguru pada Negara Finlandia, alangkah baiknya itu . Waktu yg tak lama namun efektif & berkualitas . Disertai pemahaman pelatihan soft skill yang pasti berguna utk masa depan, bukan semata mata karena nilai /jabatan peringkat di sekolah.

    Mantaph.

    Like

  10. Kalau sistem pendidikan di indonesia memenuhi kebutuhan penyaluran hobi akan Bagus menurutku, ada Kelas Seni, kelas olahraga, dan kelas2 lain kaya di Korea 😀

    Like

  11. Pagulu, saya sebenrnya sih setuju2 saja diadakan skolah fullday ini, mengingat anak sekarang. Khususnya di perkotaan, kecenderungan masuk dalam pergaulan ga jelas, belum lagi diera digital, anak acapkali kurang kreatif, gadget jadi pedoman mereka.

    Like

  12. Mas adi Pengajar? Luar biasa. Ulasannya sangat rapih. Memberi saran namun tidak menjatuhkan.

    Saya setuju dan sangat menunggu artikel tentang Full Daddy home ::-)

    Terkait bapak menteri itu. Kontroversi terjadi mungkin karna alasan kenapa dia ingin menerapkan full day school yang, saya rasa, cukup offense.

    Nist baikny jadi tidak bisa diterima.

    Tapi ya. Belajar itu sangat perlu. Tapi membebani anak hanua untuk belajar? Ya ga tega juga.

    Liked by 1 person

    • Iya mas Andhika, saya seorang guru. Terima kasih mas, masih terus belajar :) benar gagasan pak menteri nampaknya hanya sekedar wacana saja, makanya kelanjutan dari program tersebut tak terdengar lagi..

      Like

  13. Menurut saya, fullday school itu kurang tepat jika diterapkan untuk pelajar SD-SMP, karena menurut saya masa-masa SD-SMP itu masa dimana anak-anak harus lebih banyak butuh kegiatan bermain juga, agar nantinya otak kanan dan kirinya berkembang. Disatu sisi juga dikarenakan pada masa tersebut merupakan fase penting dalam pertumbuhan anak..

    Sekiranya pada masa tsb harus seimbang antara belajar dan bermain, agar nantinya anak tidak merasa terbebankan akan beban pendidikan yg katanya mau digalakan yg fullday school..

    Menurut saya sih, usulan tersebut harap dipertimbangkan lagi. Belum lagi jika mesti diterapkan ke seluruh sekolah di indonesia, kan tidak semua sekolah di indonesia yg kualifikasinya cocok utk fullday school.. jangan sampai pada akhirnya orang tua akan bertanya2 perihal gunanya bersekola.

    Liked by 1 person

    • Benar mas Fandhy mempertimbangkan usia anak memang perlu karena berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Sekolah kita mungkin dipersiapkan hanya untuk mencetak tenaga kerja.

      Like

  14. Kalo emang full day school, menurut saya lebih baik dilakukan oleh sekolah yang memang benar-benar mampu. Baik secara sarana maupun prasarana yang mendukungnya. Apalagi untuk sekolah di luar kota besar. Bahkan perlu dipikirkan kembali sekolah yang berada di seluruh wilayah Indonesia, bukan hanya kota besar dan pulau Jawa saja.

    Sebab, kalo muridnya satu kelas hanya 5 orang saja, tetap mau FDS? Saya rasa kurang tepat. Kalo memang memaksakan FDS, sepertinya hanya mengejar kuantitas. Bukan kualitas.

    Coba deh, tonton film Thailand, Teacher Diary. Lucu, tapi soal pendidikan, berkesan.

    Like

  15. sayang banget pak anies diganti dengan mentri pendidikan yang baru yaitu pak effendi. Padahal kerja dari pak anies sangat bagus, walaupun hanya sebentat tapi sudah membawakan perubahan pendidikan di Indonesia.

    Dan mengenai soal fulldayschool, sebenarnya saya kurang setuju soalnya kasihan anak2 dari pagi2 sampai sore sekolah. Belum lagi malas mengerjakan tugas dari sekolah, bukan membuat anak jadi rajin yang ada malah jadi malas untuk pergi ke sekolah

    Liked by 1 person

  16. Iya kalau mau bikin FDS harus memperbaiki kualitas fisik dan juga guru2nya hrs disejahterakan.
    Emang msh banyak PR-nya.
    kudunya menterinya mikir dulu lah gmn caranya pendidikan bisa merata, baru bikin sistem “aneh-aneh”.

    Liked by 1 person

  17. Menurut saya mau full day atau half day ga masalah. Asal jangan sampai siswanya ketiduran waktu di kelas. Hihihi. Jadi ingat masa smp n sma dulu yg fullday bahkan malam krn di asrama. Aku seringnya tidur dikelas

    Liked by 1 person

  18. Saya suka kesian ngeliatin beban anak sekolah jaman sekarang. Entah berapa banyak pelajaran yang harus mereka selesaikan. Harus melahap banyak ilmu yang beragam. Capek banget pastinya.

    Lebih pusing lagi pasti guru gurunya yg ekstra keras mempersiapkan segalanya demi keberhasilan anak didiknya

    Liked by 1 person

  19. Menurut saya, full day school mungkin bisa dimaklumi kalau saja itu sudah termasuk jam ekstra kulikuler dan enggak setiap hari, dua kali seminggu atau bisa tiga kali seminggu dan di hari sabtu pulangnya pagian.
    Saya sependapat juga dengan Mbak Nia Angga, adik saya kelas 0B baru2 ini bisa calistung karena diikutkan bimbel setelah ibu tahu kalau syarat masuk SD harus bisa baca tulis -_-

    Liked by 1 person

  20. Untuk kebijakan mengenai full day school, memang menuai pro dan kontra. Di beberapa kota besar, mungkin bisa menerapkan full day school, tapi sekolah-sekolah didaerah pasti tidak bisa, karena seperti yang di tulis di atas kalau banyak sekolah yang kelasnya bergantian.
    Sebenarnya, harus seperti apakah pola ppendidikan di Indonesia ini?

    Liked by 1 person

  21. Setuju. Ngomong2 soal unggulan, di yogya misalnya, sekolah sekolah pada menerapkan kelas unggulan dan semacamnya. Mereka berbondong2 memilih sekolah itu karena masuk sekolah unggulan dapat nilai lebih di mata masyarakat (menurut hemat saya). Nyatanya SD tempatku belajar dulu, hanya ada 4 murid karena memang sekolahnya sederhana. Dan ini sama sekali nggak bisa kalau harus nerapin full day school.
    Soal pelajaran anak indonesia berat, kayanya iya, kelas 2 SD sekarang bawaannya udah ransel gede hehehe (suka jajan somay di SD dekat tempat kerja sambil mengamati anak-anak SD pulang sekolah).
    Tapi, pernah dengar juga disini ada sekolah yang memang full day, tapi ada jam tidur siangnya. Tetap saja aku nggak setuju. Mereka jadi nggak berbaur sama masyarakat. Sayang banget kalau sampai mereka menghabiskan waktu di sekolah, dan melewatkan berbaur dengan masyarakat dan alam di desa ini.(yang ini nggak nyambung)heheh.
    Ditunggu pencerahan selanjutnya mas adi :D

    Liked by 1 person

  22. Saya juga sependapat dengan Mas Adi. Bahwa masa anak-anak adalah masa bermain.
    Memang sebaiknya anak diberi pilihan mata pelajaran yang mereka sukai. Kalau di suruh menghapal semuanya, kasian juga ya…:)
    Dari pengalaman saya, tidak semua pelajaran yang saya hapalkan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya yang berhubungan dengan pekerjaan saja, yang terpakai.
    Kalau soal full day school, anak-anak saya ikut sistem ini, Mas. Tapi tidak full belajar melulu, setiap pagi dari jam 8- jam 10, sholat duha dan tahsin tafsir Al Qur’an. Lalu belajar kurang lebih 1,5 jam. Dilanjutkan istirahat, setelah istirahat belajar juga sekitar 1,5 jam. Cara belajarnya pun tidak kaku, di dalam kelas. Kadang belajar di teras kelas atau praktek langsung seperti memelihara tanaman di taman.
    Anak-anak tidak mengeluh karena belajarnya sambil bermain. :)
    Memang seharusnya sarana dan prasarana sekolah, dilengkapi, ya… Jika mau memberlakukan full day school.

    Liked by 2 people

  23. sik banget ma tulisan ini..
    saya termasuk yang kurang setuju dengan full day school..
    guru juga punya keluarga yang butuh perhatian dan murid juga butuh memiliki banyak waktu bersama orang tua..
    selain itu ada banyak a lasan lain terkait sosial, psikologi, dll..
    ada pengalaman yang hampir sama juga.. dulu tiap saya ngelesi SD, murid saya tidur kecapekan karena sekolah sampai siang, ikut tim sepak bola, dan les di dua tempat.. smg pendidikan Indonesia semakin baik ke depannya.. aamiin

    Liked by 1 person

  24. nice post.
    kalo sy lebih setuju: daripada ngurusin fullday mending ngurusin kurikulum yg tidak sinkron. TK disarankan tidak belajar calistung, namun begitu msk kelas 1 SD, kurikulumnya langsung melesat jauh seakan2 anak2 SD kelas 1 udah bisa calistung semua. apa2an itu. gak cuma anaknya yg stres, ortunya juga ikut stres.
    Aduh maaf sy jadi curcol. mari kita berdoa semoga negara ini menjadi makin baik. aamiin

    Liked by 2 people

  25. Pendidikan di Indonesia ini kok kayak laboratorium percobaan ya? Ganti menteri ganti kurikulum, ganti buku, ganti kebijakan. Buat anak kok coba2. *bukaniklan

    Jadi ingat, jaman saya kecil dl, buku bisa turun temurun 7 turunan. Hehe

    Liked by 1 person

    • Setuju banget, saya aja waktu SD s.d SMA nda pernah beli buku baru. Semuanya buku warisan kakak kelas atau saudara. Di negara negara maju mereka menggunakan kurikulum yang tetap tapi konsisten, sehingga hasilnya bisa diamati dan terukur.. kita memang inkonsisten dalam penerapan kurikulum.

      Like

  26. beban belajar anak-anak jaman sekarang bener-bener berat banget ya mas, sampai ada anak yang jadwalnya padat sekali hingga jam 9 malam, apalagi ditambah wancana full day school dari pak mentri..
    kalau nanti saya punya anak saya gak mau menuntut anak harus menguasai dan pintar disemua pelajaran, misalnya nanti anak saya lemah di matematika sepertinya saya gak akan leskan dia matematika yang malah bisa bikin anak merasa dipaksa cukup mengajarkan semampunya dan justru akan lebih fokus mendukung pelajaran lain yang mereka minati. Karena saya sendiri pun sekarang hanya bisa menguasai bidang yang saya sukai dan kerjakan, kalau saya ditanya kimia dan fisika pun pasti geleng-geleng karena saya gak minat hehe jadi kenapa kita harus memaksakan anak-anak kita kan :)

    Liked by 1 person

  27. Sekolah adalah tempat belajar, dan belajar bukan beban. Jadi, fullday school belum tepat dilakukan di Indonesia. Sepakat dengan pemikiran Mas Adi tentang konsep fullday school Indonesia. Terlalu membebani. Belum lagi les tambahan, PR yang menumpuk, menyebabkan anak-anak Indonesia jadi *pintar memang* tapi terpaksa. Belajar yang dipaksakan oleh sistem. Apakah itu baik?

    Daripada fullday school, lebih baik anak-anak nantinya mondok saja di pesantren. Sudahlah ‘terjaga’ plus hafal quran lagi, masya Allah.

    Like

  28. Iya Mas. Pelajaran di Indonesia sangat berat… @_@
    Saya mabok kalo ikut menghafal. Kok gitu? Ank saya masih kelas 4 & 6 SD, butuh sosok yg dianggap keren krn mau membaca. Jadi harus sama hafalnya dgn mereka. Daan…. ya Allah…. beraaaattt….
    Kita butuh menteri yg mau merombak sistem pendidikan mulai dari dasar

    Liked by 1 person

  29. aku pernah dengar kalo di jepang, korea bahkan sekolah itu emang fullday bahkan seperti orang kerja di kantor, emang sih berbeda sama barat yg lebih longgar bahkan cuman sampe 5 jam sekolah, enaknya :)

    Liked by 1 person

  30. beda banget memang ya sistem pendidikan kita dan Finlandia. Fullday school saya rasa terlalu dipaksakan. sebab seandainya pun diterapkan dan sekolah dipenuhi fasilitas lengkap, tetap tidak bisa menggantikan suasana bermain di ruang bebas (di luar lingkungan sekolah)

    Liked by 1 person

  31. Artikel-nya lengkap banget. Seperti biasa selalu belajar banyak dari mas Adi.
    Aku pribadi sebeneranya ga terlalu keberatan dg konsep Full day school. Tapi memang benar, konsep, materi, dan infrastruktur masih harus dibenahi terlebih dahulu. Sebenarnya bisa saja kan full day school itu cuma full belajarnya. Tapi juga bermain dalam pengawasan guru. Seingat aku salah satu yang jadi alasan pak mentri ini karena mengingat anak-anak pulang cepat, sementara orangtua pulang sore atau malah malam, dan cenderung anak-anak jadi kurang pengawasan setelah pulang sekolah.
    Tapi ya itu, pak Mentri hanya bisa menyebut istilah full day school tanpa bisa menjelaskan detailnya seperti apa.

    Liked by 2 people

  32. Begitu lengkap artikelnya
    Saya memang sudah lama lulus dari sekolah, bicara soal fullday di sekolah dan pengalaman saya selama 12 tahun sekolah
    Fullday yang diterapkan di sekolah saya dulu memang tidak terlalu banyak terpakai di dunia nyata dan perkuliahan
    Karena memang tingkat kemauan siswa berbeda-beda
    Saya tunggu artikel selanjutnya mas Abu Faiz

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s