Digital Parenting

Beberapa minggu kemarin, bahkan hingga saat ini dunia sedang demam permainan baru, Pokemon Go. Mulai dari benua Asia berlanjut ke Amerika, Eropa hingga seluruh dunia. Dari usia anak-anak hingga mereka yang sudah dewasa dapat kita temui berkeliaran di jalan-jalan, memainkan permainan digital Pokemon Go. Permainan Pokemon Go memang memiliki keunikan yang lebih bila dibandingkan dengan permainan digital lainnya, yakni menggabungkan unsur digital dan dunia nyata.

Jika salah satu alasan bahaya dari permainan digital adalah kita terlalu banyak duduk diam/pasif atau hanya berdiam diri di dalam ruangan, permainan Pokemon Go memiliki perbedaan tersendiri yaitu pemain bisa melakukan aktivitas fisik. Pemain bergerak  pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di ruangan terbuka. Saya jadi teringat pengalaman saya beberapa hari yang lalu saat sedang “nongkrong” di warung kopi. Seorang remaja yang sedang menyantap bubur kacang ijo tiba-tiba saja permisi meninggalkan semangkung kacang ijo panas yang baru disantapnya. Ternyata ia adalah seorang pemain Pokemon Go. Ia pergi mengejar monster incarannya. Kami semua yang ada ada di warung kopi pun mendadak tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan si remaja tadi. Sangat lucu.

Seperti dua sisi mata uang selain keunikannya, permainan Pokemon Go ternyata memiliki dampak negatif. Beberapa orang mendapatkan hal-hal yang kurang menyenangkan saat memainkan Pokemon Go. Ada orang yang menjadi korban tidakan kriminal karena ternyata penjahat menunggu di tempat sepi lokasi monster digital disembunyikan. Jadi saat pemain datang, penjahat tinggal menunggu mangsa buruannya. Gadget yang digunakan untuk bermain akhirnya raib di bawa monster jahat yang sesungguhnya. Kasihan. 

Museum, masjid  dan tempat sakral menjadi tempat yang dikunjungi juga oleh para pemain Pokemon Go untuk berburu monster-monster. Bahkan perpustakaan kampus yang tadinya sepi mendadak menjadi ramai karena banyaknya orang-orang yang mencari monster Pokemon.

_timthumb-project-code.php

Aktivitas pencarian monster pada permainan Pokemon Go. Sumber : Merahputih.tekno

Karena ramainya pemain berburu monster, beberapa museum bahkan membuat larangan orang bermain Pokemon Go di wilayahnya karena keberadaan para mencari monster mengganggu pengunjung lain. Selain itu aktivitas para pemain juga dikhawatirkan dapat membahayakan benda-benda koleksi bersejarah. Di Indonesia permasalahan Pokemon Go bahkan telah sampai pada level menteri dan badan intelegen. Mereka mulai mengawasi perkembangan permainan tersebut. Jika di Indonesia permainan ini bebas dimainkan, negara tetangga Singapura sedikit berbeda, mereka tidak mengizinkan perburuan monster itu dilakukan di wilayah negara tersebut. 

Saya baru menyadari permainan Pokemon Go adalah permainan yang telah melibatkan berbagai kalangan bahkan banyak lembaga negara baik nasional maupun internasional. Pantas saja permainan ini menjadi sangat terkenal mengalahkan permainan digial lainnya.

Apakah anak kita sudah mulai bermain Pokemon Go  ? atau jangan-jangan anda sudah lebih dahulu memainkan permainan tersebut sebelum anak anda.

Kita memang harus mulai menyadari bersama bahwa dunia digital sudah hadir pada seluruh aspek kehidupan kita. Segala sesuatu sudah ada dalam genggaman kita, semuanya. Kita bisa mengendalikan segalanya dari tangan kita mulai dari transaksi keuangan, hiburan, pendidikan, jual beli, komunikasi,  bahkan sebagian orang memperoleh penghasilan dari satu genggaman saja. Pantaslah orang bilang dunia digital telah membuat yang jauh terasa dekat. Hanya dalam satu genggaman saja. Gadget kita.

o-DAD-AND-GADGET-facebook

Sumber :hufftonpost

Dalam menghadapi era digital, kita harus mempersiapkan anak-anak kita. Jangan sampai kita merasa gagap berteknologi, bahkan menyerahkan sepenuhnya mereka memasuki dunia digital tanpa bimbingan dan arahan dari kita sebagai orangtua. Kita juga perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak sehingga apa yang kita lakukan dalam proses pembimbingan tidak disalah artikan oleh anak. Hadirnya sosok orangtua dalam pengawasan anak dan dunia digital lebih dikenal sebagai digital parenting. Ada beberapa langkah yang menurut saya bisa dilakukan untuk dalam mendampingi anak kita ketika berinteraksi dengan dunia digital yaitu :

Pertama, langkah terpenting adalah orangtua sebaiknya menempakan diri sebagai pengendali gadget, bukan sebaliknya. Anak-anak juga harus dididik dengan aturan yang sama dengan apa yang orangtua lakukan. Akan sangat percuma apabila kita membatasi anak bermain gadget sedangkan kita asik menghabiskan waktu bermain gadget, apalagi waktu yang digunakan adalah waktu  keluarga. Kini banyak orang terkena nomofobia yakni penyakit gangguan psikologis karena terlalu bergantung pada ponsel. Kita harus memastikan bahwa gadget merupakan alat bantu, bukan sebaliknya kia seolah-olah yang menjadi pembantu.

Kedua, setiap orangtua harus mengerti perkembangan media soaial dan permainan di internet sehingga dapat mengawasi anak-anaknya. Banyak orangtuasiswa mengeluhkan anaknya yang mulai menunjukan perilaku aneh saat memiliki teman melalui media sosial. Bahkan ada beberapa kasus anak yang kabur dari rumah karena hasutan dari temannya di media soaial. Ketika orangtuanya dimintai keterangan oleh pihak kepolisian menyebutkan bahwa mereka sering melihat anaknya bermain gadget namun tidak tahu memakai media sosial apa, bahkan tidak mengerti bagaimana menjalankannya. Orangtuanya tidak mengetahui bahwa anaknya telah menunjukan rencana lari pada status yang dibuat di media sosial, bahkan pada akhirnya polisi berhasil menemukan anak tersebut berdasarkan penelusuran di media soaial.

Cerita lain datang dari seorang anak yang akan menghadapi UN. Saya mendapatkan keluhan dari orangtua salah satu siswa, bahwa prestasi anaknya semakin menurun. Padahal UN akan dilaksanakan dalam beberapa bulan mendatang. Fasilitas mulai dari buku, guru privat, dan  jadwal belajar pun sudah diatur sedemikian rupa. Anaknya sudah dijadwalkan masuk kamar untuk belajar setelah makan malam. Orang tuanya tidak menyadari bahwa gadget yang diberikan dengan maksud sebagai alat komunikasi, digunakan pula untuk bermain permainan online. Jadi saat di kamar sebenarnya si anak sedang asik berman gadget tanpa diketahui orangtuanya. Orangtua anak tersebut hanya mengetahui playstation. Ketika PS tersebut disimpan mereka menganggap anaknya terbebas dari permainan yang dapat mengganggu padahal mereka sebelumnya telah memberikan gadget. Permainan, apapun itu jika digunakan sewajarnya akan berfungsi sebagai hiburan. Itu bukanlah hal yang salah namun ketika mengakibatkan ketagihan maka akan menjadi permasalahn tersendiri bagi si anak dan orangtua.

Ketiga, orangtua juga harus mengerti aplikasi pengawas pada pada gadget yang dimiliki oleh putera puterinya sehingga bisa mengontrol mereka bahkan dari jarak jauh. Apabila buah hati anda senang membuka aplikasi youtube untuk melihat lagu atau film kartun, maka sebaiknya sedari awal kita sesuaikan pengaturannya sehingga video yang belum pantas ditonton oleh anak-anak tidak muncul saat aplikasi tersebut dibuka oleh buah hati kita. Saya masih ingat baru-baru ini Mahasiswa Ilmu Komputer IPB telah berhasil mengembangkan aplikasi “Autocencor Antiporn”. Aplikasi tersebut dapat melakukan sensor terhadap konten-konten porno baik berupa tulisan maupun gambar yang ada di mesin pencari internet seperti google Crome, Mozilla Fairfox, dan Opera. Aplikasi tersebut akan merubah kata-kata menjadi tanda bintang dan gambar/foto menjadi kartun anak-anak. Walaupun hanya bisa dilakukan di komputer PC, kita harapkan di masa yang akan datang aplikasi ini bisa digunakan di gadget anak-anak kita, termasuk sensor dalam bentuk video.

Keempat, orangtua sebaiknya terlibat dengan anak dalam dunia digital. Jika bermain dengan keluarga akan mendekatkan hubungan antar sesamanya bukan menjauhkan, maka bermain bersama keluarga dapat menjadi alernatif pilihan yang terbaik. Dengan terlibat orangtua bisa memberikan bimbingan dan mengarahkan anak, apa yang seharusnya dilakukan dan tidak. Bahkan ketika didalamnya terdapat hal-hal tertentu yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya, agama, dan norma yang berkembang di masyarakat kita.

Di era perkembangan teknologi yang sangat pesat, interaksi orangtua, anak, dan dunia digital bukan hanya sebatas tren saja, namun merupakan bagian dari parenting. Dengan mengerti apa yang disukai oleh anak-anak kita di zaman ini, sebenarnya kita telah mengurangi  jarak antara dunia anak dengan orangtuanya. Semakin sempit jarak tersebut maka kita akan semakin mudah melakukan komunikasi yang efektif dengan anak kita. Semoga kita sebagai orangtua diberikan kekuatan dan kemampuan dalam menjaga anak-anak kita dari dampak negatif dunia digital. Apakah ayah bunda mengalami pengalaman menarik seputar anak, gadget, dan dunia digital ?

Advertisements

78 responses to “Digital Parenting

  1. Kalau ponakan paham gadget tapi ngga terlalu addicted banget sih. Orangtua dan keluarga juga ngajak anak anak main jadinya gadhet ya terlupakan. Mungkin itu yg miss dr beberapa orang di luar sana, maunya anak ga tergantung gadget tp ga dikasih teman main. Jd kalau keluarga saya ga paada main pokemon go. Btw tulisannya apik banget kak

    Like

  2. Pengalaman tentang anak bergadget ria adalah saat baru punya anak pertama.

    Agar anak diam dan gak mengganggu saya saat masak ataupun menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang lain, saya kasihlah gadget yang lagi in saat itu.

    Gaya doonk…rasanya.

    Tapi seiring berjalannya waktu, kami jadi tersadar, ada yang aneh dengan anak saya.
    Komunikasi nya kurang baik terhadap lingkungan.
    Cenderung cuek dan pemarah.

    Alhamdulillah,
    sejak melahirkan anak kedua, saya tersadar bahwa menjauhkan anak dari gadget akan membuat interaksi dengan lingkungan terutama orang tua akan lebih terasah.

    *keren tulisannya parenting dari seorang ayah.

    Like

  3. hmmm.

    Saya sendiri termasuk sudah lama diberikan henfon, bahkan sejak SD saya sudah diberikan henfon, mulai dari henfon alakadarnya hingga henfon canggih masa kini.

    tp alhamdulillah peran orangtua saya dalam penggunaan henfon juga turut serta, jadi hingga skrg penggunaan henfon dalam kategori saya dan adik2 saya masih dalam batas wajar.

    untuk main game seperti pokemon go dan lainnya selama masih dikenndalikan sih batas wajar… hihi

    Like

  4. Anak-anak saya, juga terkena dampak adanya teknologi gadget. Tapi alhamdulillah, masih bisa diarahkan. Jadi gak ada seorang pun yang main pokemon. Kita memang harus lebih bijaksana dalam menggunakan gadget. Jangan sampai menjauhkan yang dekat.

    Like

  5. Ibu, nenek, kakek, hampir semua orang tua di sekitar saya membenci gadget -_-
    Kata mereka, “generasi muda sekarang disibukkan dengan gadget”.

    Salam kenal, Mas Adi :)

    Like

  6. Orangtua saya sampai hari ini masih buram dengan teknologi digital. Ngangkat telfon di hape saja mereka minta bantuan saya dulu buat mencetin.
    Meski demikian orangtua saya tetap mendidik dengan bijak meski sudah tidak paham dengan dunianya generasi sekarang. Moral, mentalitas, dan budi pekerti adalah hal yang selalu mereka ingatkan kepada saya. Alhamdulillah, itu masih efektif untuk membuat saya tidak terjerumus ke yang aneh-aneh.

    Like

  7. Dulu walisongo membuat pertunjukan wajib dilingkungan masjid utk menarik orang datang ke Masjid. Nah seharusnya pokemon go bisa dimanfaatkan sama da’i2 kita utk menarik orang datang ke Masjid dan tidak segan ke Masjid. Mungkin bisa mengemas acara tangkap bareng khusus utk yg sholat jama’ah dll.

    Like

  8. Sebagai ibu, aku punya kekhawatiran tersendiri terkait anak & gadget. Untuk pokemon, aku bisa berlega hati. Anak2ku tidak berminat bermain Pokemon setelah kunasihati perihal negatifnya Pokemon termasuk kekhawatiranku jika mereka memainkannya. Kami sepakat, bermain pokemon seperti mengejar bayangan yg bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tapi selalu ada “serangan baru” melalui gadget dan itulah kekhawatiranku.
    Nice posting Mas. Alhamdulillah aku ibu yg melek teknologi, jadi sepakat dgn semua rangkumanmu.

    Like

    • terima kasih Mba Susi semoga kita bisa menepis semua kekhawatiran tersebut dengan terus belajar. Memiliki kesepakatan dengan anak adalah capaian yang luarbiasa bagi orang tua. :)

      Like

  9. Sebuah PR besar bagi orangtua zaman sekarang agar bisa mengoptimalkan teknologi dalam mendidik anak, tanpa ikut terkena dampak negatif yang ditimbulkannya.

    Like

  10. Tulisan mas adi selalu bikin berpikir. Walaupun belum menikah dan tentunya belum punya anak, kadang aku malah seneng baca ginian. Heheh. Beruntungnya, aku tinggal di desa yang nggak gaptek gaptek amat juga nggak terlalu terpengaruh sama gadget banget. Anak anak desa yang sering belajar sama aku, masih banyak yang masih suka mainan tradisional. Satu dua ada sih, yang sudah punya gadget dan mulai bisa bbm, online, dll. Semoga mereka dibawah pengawasan orang tuanya.

    Like

    • suasana desa mendukung pendidikan karakter anak yang kuat. Karena interaksi antara anak, orangtua dan lingkungan masih tinggi. Banyak belajar sebelum menikah akan mempermudah nanti saat setelah menikah

      Like

  11. Alhamdullilah anakku selalu dalam pengawasan kalau pas pegang gadget. Mending rebutan gadget sama anak daripada memfasilitasi mereka dengan gadget khusus. Jadi saat mengakses internet bisa ketahuan, mana yang boleh diakses mana yg tifak boleh. Tp tetep si kecil dikenalkan dengan teknologi yang sewajarnya…

    Like

  12. Iya benar sekali, di jaman yang modern seperti sekarang ini pengawasan orang tua kepada anak2 dalam penggunaan gadget memang harus ditingkatkan, khususnya terhadap pengawasan pada konten2 dewasa yg banyak dan mudah diakses oleh anak-anak.

    Selain itu, pengawasan ekstra juga diperhatikan kepada setiap aplikasi permainan yg diunduh oleh anak di gagdet merekea. Karena banyak aplikasi game yg membuat anak2 kecanduan utk bermain game, dan jg perlu diperhatikan bahwa konten porno pun sekarang sudah merambah masuk ke dalam aplikasi game. Banyak sekarang aplikasi game yg “dibumbui” oleh konten dewasa. Misalnya game tipe RPG yg lakon2 wanitanya berpakaian seronok dan cenderung terbuka. Hal ini tentu saja akan berbahaya utk dikonsumi anak2 yg pada masanya penuh dengan rasa ingin tahu yg tinggi. Dan, melakukan pengawasan trhadap aplikasi selain game, misal kan sekarang marak tuh aplikasi khusus orang2 LGBT, ya untuk mencegah agar nantinya tidak menjadi salah satunya dan tidak terpengaruh olehnya.

    Like

    • benar mas Fandhy kekerasan dan konten porno pada setiap aplikasi yang diunduh sangat berbahaya untuk dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Apalagi mereka sangat ingin tahu dengan hal-hal yang baru. LGBT memang canggih mainannya, hampir mengkampanyekan pada setiap segi kehidupan kita.

      Like

  13. Memang seharusnya orang tua harus bisa mendampingi, mengarahkan dan membatasi anak dalam bermain gadget. Orang tua juga harus tahu kapan waktu yang tepat si anak boleh pegang gadget. Agar hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.

    Like

  14. Jaman sekarang teknologi gadget udah bikin kagum, apalagi jaman anak2ku besar nanti ya. Nice sharing Mas, emang ortu kudu selalu ngikutin perkembangan teknologi agar nanti anak2 pun terawasi penggunaan gadget/ media teknologinya :)

    Like

  15. Kmarin ponakanku bs ganti profil bbm hp kakaknya tanpa diketahui Ibunya. Pulsa habis wong nggak ada kuota, bahahaa. Aku dong negur ibunya biar update dikit soal gadget. Masa kalah sma anak 4 th. Tentunya kalo mreka main kudu diawasi

    Like

  16. Setuju banget poin kedua mas. Di era digital orang tua juga sebaiknya memantaskan diri. Hihi jadi ga calon istri dan suami aja ya memantaskan diri. Memang ortu kudu tahu jug perkembangan terkini dan tak begitu saja defensif.

    Main bersama seperti no 4 itu menarik dan spertinya perlu banget. Saatnya ortu jadi sahabat termasuk juga sahabat anak di dunia digital. Trims sharingnya ya mas :-)

    Like

    • iya “memantaskan diri”, saya suka istilahnya hehe. Benar kini anak dan orangtua janganlah ada jarak yang terlalu lebar karen jarak antara anak kita dan hal-hal negatif sudah tak berjarak

      Like

  17. Di daerah saya sini lebih miris mas, karena kebanyakan orang tua jadi TKI di luar negeri. Anak2 sepertinya bebas bermain gadget tanpa adanya pengawasan, apalagi banyak tempat nongkrong yang menyediakan WiFi gratis. Makin bebas aja mereka berselancar tanpa takut kehabisan kuota.

    Like

  18. Mengikuti beberapa kali tulisan Mas Adi membuat pikiran saya bercampur aduk ketika memposisikan diri sebagai anak juga orang tua.

    Sejatinya, dalam versi kehidupan yg manapun, em maksudnya jaman kapanpun, interaksi dan pantauan orang tua itu jauh di atas segalanya.

    Dan benar Kali ini boleh jadi lebih sulit karena yang menjadi “lawan” orang tua adalah sesuatu yang tidak tampak namun tidak bisa ditinggalkan.. Dunia digital.

    Btw. Saya maen pokemon juga. maz :-)

    Sekali kali tar kita diskusi lebih jauh masalah digital parenting yuk

    Like

  19. Aku main PokeMOM aja lah, ya. Biar anak makin deket sama mama. Hehe
    Perkembangan teknologi, akulturasi budaya, pergaulan, berkembang sangat pesat. Besar kemungkinan waktu anak lebih banyak tersita di luar. Entah sekolah, les, bermain, dsb. Jadi, selain melek teknologi, bonding antara anak, ortu, & Tuhan juga harus dikuatkan. Semoga kita & Tuhan adalah tempat terdekat anak untuk berbagi :D

    Like

  20. Tips ini bakal aku ingat buat nanti kalau udah punya anak. Terimakasih, mas :) Biar gimanapun ga mungkin kita memushi era digital,mau ga mau harus ikut melek teknologi dan ikut mengontrol bagaimana generasi masa depan menggunakannya.

    Like

  21. mau ga mau orang tua harus terlibat dan melek teknologi, perkembangan jaman tdk bs dibendung cm semuanya harus ada batasannya.

    anak2 saya yg masih tergolong balita jg seneng banget main gadget tp lbh ke youtub blom ke games sih, krg suka ato emg blom kebarah situ.
    tetep terkontrol peran orang tua disini.

    Like

  22. Bener banget mas adi, orang tua juga harus terlibat dengan anak dalam dunia digital, soalnya banyak berita negatif yang beredar tentang dampak dari bahayanya dunia digital dan yang menjadi korbannya adalah anak. Jadi orang tua harus tetap waspada dan selalu memantau perkembangan anak2nya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s