Saat Berharga Untuk Anak Kita

downloadDi Hari Buku Nasional yang tepat diperingati hari ini nampaknya pas sekali buat saya untuk sedikit menulis buku yang pernah saya baca, yaitu Saat Berharga untuk Anak Kita karya Mohammad Fauzil Adhim. Buku bertemakan parenting dengan jumlah halaman hampir 300 ini memberikan banyak wawasan khususnya bagi orang tua yang akan maupun telah memiliki buah hati.

Di bagian awal kita disuguhi dengan perbaikan niat kita sebagai orang tua. Niat ini menjadi sangat penting karena segala amal bukankah dinilai dari niat yang ada dalam hatinya. Begitu pentingnya niat sehingga setiap ibadah yang dilaksanakan mensyaratkan niat yang baik dari para pelaku ibadahnya. Terkadang niatan kita ternodai dengan niatan niatan yang lain, yang tak seharusnya berada pada hati kita. Bayangkan jika niaan yang salah hadir saat kita mendidik anak kita. Kita niatkan mendapatkan pujian saat mengajari anak kita hafalan Al-Qur’an, kita niatkan mendapatkan sanjungan dari orang saat kita mendidik anak berlaku shaleh. ukankah iu semua adalah hal yang sia-sia?

Membangun jiwa anak sangatlah penting karena jiwa itu yang akan tumbuh dan hidup walau jasad telah mati terkubur tanah. Kita lagi lagi terjebak dengan pemahaman yang selama ini berkembang di masyarakat. Betapa giatnya orang tua membekali anak anaknya dengan kecukupan nutrisi yang baik dan kualitas no 1 sehingga tumbuhlah anak -anak dengan tubuh yang sehat, tinggi, kekar, dan memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Tak cukup sampai di sana, disiapkan pula sekolah dengan kualitas kurikulum internasional, guru-guru yang profesional, dengan biaya yang tidak sedikit tentunya. Namun saat mereka tumbuh menjadi dewasa, kecerdasan, kekuatan fisik yang mereka miliki tidak mampu memberikan kekuatan apapun saat mereka harus berhadapan  dengan kasus -kasus kenakalan remaja seperti narkotika, pergaulan bebas, kekerasan dan kejahatan lainya yang kini banyak menyerang jiwa-jiwa remaja kita. Banyak yang jiwanya lemah ikut terseret, bahkan menjadi pelaku utama berbagai kejahatan remaja.

Ayah bunda, kini saatnya kita memanfaatkan waktu terbaik kita, waktu yang teramat berharga buat anak kita. Kita bangun jiwanya menjadi kokoh, tegar, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangannya di masa depan. Mereka akan tumbuh menjadi remaja-remaja yang tak perlu lagi mencari jati diri mereka, karena mereka telah mengenali dirinya, tujuan hidupnya dan makna hidupnya dengan baik. Sehingga mereka memiliki komitmen dan tanggung jawab yang besar terhadap diri mereka sendiri.

Kita perlu mencontoh bagaimana Rasulullah SAW berinteraksi dengan anak dan cucu beliau dalam rangka membangun jiwa mereka. Dari hal yang teramat kecil seperti mengusap dan mencium anak kita dengan penuh rasa kasih sayang. Apakah kita pernah membelai dan mengecup kening anak kita?  jika belum maka lakukanlah segera. Hal yang kecil namun memiliki dampak yang luar biasa bagi perkembangan jiwa anak-anak kita. Memberikan rasa aman dan percaya diri bagi anak kita.

Pernahkan mendengar bagaimana Rasulullah mengejar cucu beliau hingga harus mengeluarkan kembali kurma yang diperuntukan untuk sedekah ? itulah contoh bagaimananya.

Katakan Tidak pada anak. Bagian terakhir dari buku ini memberikan jawaban atas pertanyaan yang selalu hadir dalam benak saya. Bagaimana kita mengatakan “tidak/jangan” bagi anak kita. Tentu saja dengan opini yang berkembang di masyarakat bahwa kata tidak/jangan adalah sesuatu yang memiliki makna negatif. Banyak yang menganalogikan dengan ketika kita bertanya kepada seseorang jangan membayangkan seekor gajah. maka ia tentu akan membayangkan gajah tersebut.

Hal yang paling mendasar bagi kita sebagai seorang muslim, kata tidak berada pada lafadz Tauhid yaitu Tidak ada tuhan selain Allah. Artinya kata “tidak” boleh digunakan walaupun tanpa disertai dengan catatan apapun. Kedua mari kita perhatikan pada QS. Ali Imran 196-198 yang artinya ” Janganlah kamu sekali kali terpedaya oleh penampilan orang-orang kafir di berbagai negeri. Itulah hanya kesenangan sejenak, kemudian tempat kembali mereka adalah (neraka) jahanam dan itulah tempat yang paling buruk. Namun bagi mereka orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya ada surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai sedangkan mereka kekal di dalamnyasebagai tempat tinggal di sisi Allah. Apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi orang -orang yang berbuat kebajikan. ” jadi kata “jangan /tidak” boleh dikatakan kepada anak, asalkan kita memiliki penjelasan yang baik.

Sesungguhnya sebagai cobaan anak-anak kita membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT, kita dan amal anank-anak kita akan mengantarkan kita dan keluarga kita ke dalam syurganya. Begitu pun sebaliknya bila kita gagal mendidik anak-anak kita maka keluarga andalah musuh orang tua baik di dunia maupun di akhirat. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam mendidik anak anak kita menjadi anak yang shaleh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s