Panggil Saja Aku Ayah

Panggil Saja Aku Ayah

Buku “Panggil Saja Aku Ayah” saya beli saat saya menjadi asisten praktikum salah satu mata kuliah di IPB. Uang honor saat itu memang selalu saya sisihkan untuk membeli sebuah buku. Tulisan Mas Teguh Slamet Wahyudi ini bagi saya seperti membaca alur perjalanan diri sendiri. Naik turun dan lika liku profesi seorang guru diungkap dalam buku ini ibarat sebuah cerita novel yang alurnya mengalir secara alami bermuara pada kesejukan dan kebeningan hati karena memang ditulis berdasarkan pengalaman penulis selama bertugas menjadi seorang guru. Saya yakin siapapun yang membaca buku ini akan banyak mengambil nafas panjang pada bagian-bagian tertentu, karena ternyata menjadi seorang pendidik tidak semudah yang dibayangkan.

Buku ini berkisah awal mula penulis mengenyam pendidikan di jurusan Matemaika UMY. Penulis masuk jurusan matematika bukan karena nilai matematikanya yang bagus, namun karena cita-citanya yang ingin menjadi guru matematika. Di bagian pertama penulis menggunakan istilah yang membuat dahi saya sedikit berkerut, Dosa guru buka aib. Paragraf demi paragraf menceritakan bahwa penulis ternyata memiliki rekam jejak nilai matematika yang kurang bagus di masa lalu. Dimulai dari nilai matematika STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) SMA sebesar 6, kemudian IPK saat kuliah hanya bisa menembus angka 2.8. Di awal buku penulis ingin menunjukan bahwa seorang guru tak boleh memiliki beban termasuk aibnya, biarkan semua tahu tentang aibnya karena dengan lepasnya beban aib tersebut akan menjadi motivasi yang besar bagi seorang guru untuk belajar menjadi guru matematika yang terbaik.

Saya sangat menikmati bagaimana penulis menceritakan pengalamannya menghadapi murid yang kurang menyenangkan alias bandel. Kelakuan yang kerap membuat guru-guru menggelengkan kepalanya seperti membolos, membully teman sekelasnya, dan mencoret-coret tembok sekolah sering dilakukan oleh murid tersebut. Penulis sebagai seorang guru saat itu melakukan tindakan yang biasanya dilakukan oleh guru pada umumnya yakni “memakinya habis-habisan”. Namun itu ternyata tidak membantu memecahkan persoalan. Si anak pun tetap pada kelakuannya hingga ia meninggalkan sekolah. Marah memang merupakan luapan emosi yang mengajarkan kita menjadi diri sendiri. Akan puas rasanya bila kemarahan sudah diluapkan. Tapi yang perlu diingat sebagai pengimbang adalah pepatah : setiap kemarahan akan berakhir dengan rasa malu.

Kebangkitan penulis mulai terlihat saat banyak membaca buku-buku pendidikan dan berbagai pelatihan. Pola mengajarnya berubah, yang tadinya guru yang mudah marah menjadi guru yang mengayomi muridnya. Kata-kata mengancam berubah menjadi nasehat-nasehat dan kata-kata bijak. Dalam buku tersebut penulis memberikan nasihat bahwa hati-hati untuk guru yang suka memberikan pelabelan. Kalau pelabelan itu berbunyi “kamu pintar”, “kamu hebat”, kamu luar biasa”, tentu hal itu akan membangkitkan motivasi prestasi pada siswa. Namun, apabila yang terlontar adalah “kamu bodoh”, “kamu malas”, maka bukan hanya terpuruk rasa percaya dirinya; lebih dari itu akan timbul dendam pada guru.

Guru apabila berbuat kesalahan janganlah ragu untuk meminta maaf, karena meminta maaf adalah sarana untuk menggugurkan dosa-dosa yang telah dibuat. Kita tak bisa semudah itu memaafkan seseorang yang pernah berbuat salah, maka memberikan maaf merupakan hal yang terpuji. Menanamkan kebiasaan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat berarti menghindarkan anak didik kita dari kebiasaan menyalahkan orang lain saat dirinya berbuat kesalahan. Cerita kehidupan yang dibawakan di kelas menjadi sumber motivasi bagi siswa-siswanya. Dan semenjak itu ia dikenal dengan panggilan “Ayah”.

Metode ayah satu menit dipaparkan dalam buku tersebut, yaitu suatu metode yang digunakan untuk menangani anak bermasalah, terdapat enam langkah yaitu pertama sampaikanlah kepada anak didik bahwa apabila ada tingkah laku yang kurang sesuai maka ia akan ditegur. Kedua, guru menegur secara langsung apabila anak didik melakukan hal yang tidak sesuai. Ketiga, menjelaskan hal yang tidak sesuai tersebut dan dampaknya bagi perasaan seorang guru, keempat diam beberapa detik agar anak didik merasakan apa yang dirasakan guru (memberikan suasana yang tidak nyaman), kelima guru menyentuh bagian tubuh siswa (tangan, bahu atau yang lainnya). Keenam guru mengatakan “Meskipun kelakuanmu tidak baik tetapi kamu anak baik. Dirimu lebih baik dari perilakumu”. Kemudian “ Sebenarnya saya sayang kamu makanya kenapa aku melakukan teguran ini”.

“Orang cerdas pilih jadi guru, jadi guru pilihan cerdas”

Ada beberapa point penting yang dapat saya simpulkan dari buku tersebut yaitu, pertama guru adalah profesi unik karena guru dilingkari oleh komunitas lengkap dan juga guru harus menjadi sosok manusia sempurna atau insan kamil, tauladan atau uswatun hasanahbagi murid-muridnya. Guru berhadapan dengan siswa, manajemen sekolah, orang tua siswa orang-orang diknas, dan masyarakat. Artinya guru berhadapan dengan 100% manusia. Manusia memiliki berbagai macam kepentingan yang beranekaragam. Sungguh dahsyat !! Ini pekerjaan yang sangat sulit. Kedua, guru manusia biasa bukanlah malaikat. Dalam menjalankan tugasnya guru pasti melakukan kesalahan dan menemui jalan buntu untuk menyelesaikan masalahnya terutama masalah yang berkaitan dengan siswanya. Penulis menunjukan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya selama menjadi guru. penulis menyadari itu sebuah kesalahan dan mencari solusinya sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya lagi.

Ketiga, guru adalah sahabat siswa. Saya menyadari setiap saya memulai untuk mengajar saya melakukan perjalanan masuk ke dunia siswa terlebih dahulu. Jika perjalanan ini berhasil maka saya berhasil pula dalam mengajar. Mengajar adalah perjalanan kedua yaiu mengajak siswa masuk ke dunia guru. Jika perjalanan pertama gagal biasanya perjalanan kedua juga tidak berhasil.

Keempat, guru harus kreatif dan inspiratif dua kata inilah yang jika kita perhatikan adalah syarat utama yang harus dipunyai oleh seseorang yang bergelut di profesi yang professional. Profesi guru hukumnya wajib harus kreatif dan inspiratif. Unsur kreatif itu selalu tampil beda, banyak ide, agar tidak membosankan anak didik. Selain kreatif guru harus memiliki sesuatu yang kita sebut sebagai hikmah dari setiap materi yang disampaikan. Guru yang mampu melekatkan hikmah di hati anak didiknya adalah seorang guru yang inspiratif.

Setelah membaca buku ini, saya memang sangat menyarankan setiap pendidik untuk dapat membaca buku ini. Sebuah sketsa seorang guru dengan hitam putihnya. Yang melewati perjalanan yang terkadang tersesat, lalu mendapatkan cahaya pelita untuk kembali ke jalur yang benar. Memotivasi kia sebagai seorang guru supaya terus berbuat yang terbaik, belajar, dan berkarya untuk mencetak generasi penerus bangsa.

Dan, aku adalah guru! Aku adalah ayah bagi anak istriku. Juga ayah bagi murid-muridku. Jadi panggil saja aku AYAH!!

“Postingan ini di ikut sertakan dalam First Giveaway Buku Inspirasi”

Advertisements

4 responses to “Panggil Saja Aku Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s