Hidup adalah sebuah proses

The good life is a process, not a state of being. It is a direction not a destination. (Carl Rogers)

Terkadang hidup sangatlah menyenangkan. Penuh dengan kebahagiaan hingga lahirlah lirik sebuah lagu seolah kita ingin hidup seribu tahun lagi.

Ketika kemalangan datang, kesedihan menerpa jangankan hidup seribu tahun lagi. Menikmati setiap detik sisa hidup kita akan terasa sangat berat, bahkan sebagian lagi berniat mengakhiri hidup.

Memahami hidup adalah sebuah proses seorang akan bersikap seimbang saat melihat atau berada pada suatu kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kedukaan. Kedukaan datang setelah kesukaan, kesukaan mengikuti kedukaan, semua mahluk hidup di dunia mengalami perputaran roda suka dan duka.

Hidup adalah suatu proses seperti halnya air dari gunung menuju laut, air dari gunung berasal dari air laut yang menguap menjadi mendung, mendung turun menjadi hujan. Hujan yang jatuh itulah yang menapaki lereng gunung terus menuju sungai, tidak ada sungai yang alami lurus menuju laut, sungai berliku-liku melalui berbagai daerah terus menuju laut. Proses alam itu berdasarkan kekuasaan Allah melalui tanda-tanda kebesaranya. Apabila Allah ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Kita? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Allah membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Kita sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.”manusia dianugrahi akal dan daya untuk berupaya mendapatkan hadiah dari sang maha pencipta ( “keberhasilan”) tersebut.

Dewasa ini, banyak proses yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan hasil yang diinginkan,Sebagai contoh orang yang bertipe Climbers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu.

Tipe kedua adalah Climbers yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian, dan tak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang pernah dikatakan Dag Hammarskjold, ”Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Kita mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Kita akan melihat betapa rendahnya gunung itu.”

Tipe ketiga adalah climbers yang ingin mencapai puncak mount evrest, tapi tidak mau mengambil resiko bersusah payah mendakinya, maka ia menyewa sebuah helicopter untuk mencapai puncak tersebut.

Menurut anda climbers yang manakah yang mendapatkan hasil paling memuaskan dalam tujuan yang sama tersebut..???

Analisa dari contoh di atas adalah seseorang akan mendapatkan keberhasilan yang memuaskan jika ia melakukan sebuah proses menuju keberhasilan tersebut, walau kadang terasa pahit menghadapi rintangan bahkan kegagalan yang harus dilalui ,namun ia akan mengerti dan menjadi berpengalaman sehingga nantinya ia dapat memberikan pelajaran dan motivasi pada penjejak atau generasi ia berikutnya dalam mencapai hasil sebagaimana telah ia peroleh..

.Life is process

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s