Ayah bunda teruslah belajar

Pemandangan oke

Pagi ini saya dikejutkan oleh sebuah berita dari surat kabar daerah. Seorang ayah tega menelantarkan anak kandungnyanya sendiri. Si Fulan (42 tahun) kini jadi bulan-bulanan media masa baik online ataupun tidak. Rumah Si Fulan yang berada di kawasan perumahan mewah di daerah Cibubur tengah didatangi oleh polisi dan KPAI terkait perbuatan yang telah dilakukan kepada putranya. Apakah itu..?

Ia diduga telah menelantarkan anaknya yang berusia 10 tahun dan tidak menginzinkan anaknya masuk ke dalam rumah sehingga harus tinggal di pos jaga satpam komplek, kejadian ini berlangsung hingga kurang lebih satu bulan.Ya Allah.. sambil mengelus dada..dan kini pihak kepolisian sedang menangani permasalahan tersebut untuk dilakukan penyidikan terhadap si fulan.

Mari kita melihat kasus ini lebih dekat. Siapakah kedua orang tuanya ? mengapa tega menelantarkan buah hatinya sendiri ? Anak kan amanah ko tega sekali ya kedua orang tuanya berlaku demikian.

Mri kita lihat latar belakang pendidikan orang tua si anak tersebut. Menurut informasi yang diperoleh ayah anak tersebut adalah seorang dosen di perguruan tinggi swasta dan sebagaimana kita ketahui bersama persyaratan untuk menjadi seorang dosen minimal  Magister (S2), sedangkan ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga  tersebut lulusan sarjana ekonomi (S1). Dari keterangan tersebut sudah jelas bahwa Si Fulan dan istrinya tidak termasuk ke dalam keluarga berpendidikan rendah, bahkan tergolong keluarga dengan profesi sebagai pendidik (dosen).

Orang tua yang berpendidikan tentunya memahami hak dan kewajibannya sebagai orang tua. Kerangka berfikir setiap orang akan terasah ketika menempuh jenjang pendidikn yang lebih tinggi. Artinya semakin tinggi pendidikan seseorang kemampuan berfikir dan pengambilan keputusan akan semakin bijak dan komprehensif tentunya.  Apalagi sang ayah berprofesi sebagai seorang guru (dosen) yang tugasnya memang mendidik dan memberikan kasinh sayang melalui pembelajaran di ruang kuliahnya. Tentunya ia faham betul bagaimana cara mendidik seorang anak, Dengan kata lain “anak orang lain saja sanggup ia didik apalagi anaknya sendiri”,

Informasi yang lain adalah kondisi dalam rumah yang tidak layak huni. Walaupun tinggal di komplek perumahan mewah di Cibubur namun kondisi di dalam rumah sangat bertolak belakang dengan kata mewah. Walaupun di luar depan rumahnya diparkir sejumlah kendaraan beroda empat, diberitakan pula bahwa kondisi rumahnya sangat berantankan, kotor, dan tidak terurus. Ditambah dengan bau tak sedap yang tercium di setiap sudut ruangan rumah. Bahkan menurut informasi selanjutnya tidak ada pembantu yang bertugas di rumah tersebut. Hal ini berarti managemen rumah tangga keluarga tersebut memang sedikit terganggu atau bahkan tidak berjalan sama sekali.

Ayah bunda, ternyata status pendidikan dan latar belakang ekonomi bukanlah jaminan utama berjalannya managemen di rumah tangga. Kewajiban suami dan istri dalam mengurus rumah tangga termasuk anak-anaknya sudah cukup jelas, dapat dibagi dan dirinci diantara kedua belah pihak. Tatkala seorang suami pergi mencari maisyah (nafkah) maka kewajiban istri mengelola rumahnya dengan baik, diantaranya mengurus buah hatinya. Pekerjaan rumah tangga lain, apabila dirasa berat bagi istri sang suami bisa membantu. Ayah bunda tentunya masih ingat cerita Rasulullah SAW, yang menjahitkan bajunya yang robek tanpa harus meminta bantuan kepada istri beliau. Dan yang paling penting adalah keharmonisan rumah tangga ditentukan oleh tingkat keshalehan kedua orang tuanya. Semakin shaleh kedua orang tuanya makan akan semakin sadar akan tugas dan kewajibannya baik sebagai suami maupun istri.

Ayah bunda, boleh jadi status pendidikan kita yang tinggi tanpa diiringi dengan pemahaman agama yang baik  dapat membuat terlalaikannya kewajiban kita sebagai orang tua. Bagi kita yang sedang atau sudah lulus dari perguruan tinnggi tentunya telah mengalami tahapan penyelesaian tugas akhir atau skripsi. Mari kita ingat-ingat kembali berapa banyak literatur yang telah kita gunakan dalam penyusunan karya tuis tersebut. Dan banyak pula literatur yang kita gunakan berasal dari jurnal nasional terakreditasi dan bahkan jurnal internasional. bahkan buku yang paling tebal pun sudah pernah kita baca dan pelajari. Berapa banyak seminar ilmiah yang kita ikuti ataupun bahkan diskusi-diskusi dengan dosen pembimbing yang telah kita lakukan agar penelitian dan tugas akhir kita berjalan dengan baik.  Sangatlah banyak !!

Namun berkaca kepada tugas kita sebagai orang tua, berapa banyak buku-buku tentang pendidikan anak, parenting, pernikahan atau yang berhubungan dengan keluarga yang telah kita baca dan pelajari? apakah kita sudah menyediakan waktu untuk hadir di seminar-seminar tentang keluarga, atau kajian-kajian keislaman yang berkaitan dengan bagaimana membangun keluarga islami? Ayah bunda bisa menghitungnya sendiri..

Ayah bunda, mari kita jadikan moto ” Tiada hari, tanpa menuntut ilmu” sebagai moto hidup kita dalam berkeluarga. Saat kita menikah dan menjadi suami apakah di sekolah kita diajarkan menjadi suami yang baik ? Ketika kelahiran anak pertama, kedua dan ketiga hingga seterusnya apakah kita telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan sebagai seorang ayah yang baik ? bahkan ketika kita menjadi kakek apakah kita pernah belajar memperlakukan cucu kita dengan baik dan benar ?

Tentu tidak ada sekolah di manapun di dunia ini yang menyediakan fasilitas tersebut. Oleh karena itu dengan segala keterbatasan pengetahuan kita, ada kewajiban bagi kita untuk menuntut ilmu apapun itu khususnya berkaitan dengan keluarga sebanyak-banyaknya. Sebanyak yang kita mau dan sebanyak yang kita mampu. Jangan bosan membaca literatur -literatur yang berhubungan dengan tugas kita sebagai ayah/ buda, berdiskusi dengan pakar ataupun ahli parenting/keluarga, sehingga kita memiliki bekal yang cukup untuk menjalankan kewajiban kita sebagai ayah dan bunda.

Semoga Allah SWT mempermudah jalan kita dalam menuntut ilmu dan menjalankan tugas dan kewajiban kita sebagai ayah dan bunda.. Amiiin.

Wallhualam,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s