Ayah Juara : Anak Shaleh, seperti apa?

Saya yakin setiap orang tua di belahan dunia manapun menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang shaleh. Berbagai upaya dilakukan oleh orang tua untuk mendapatkan keturunan yang shaleh, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Secara formal kini menjamur sekolah-sekolah islam terpadu yang dengan tarbiyahnya mengusung pencapaian peserta didik yang shaleh.

Yang kemudian menjadi pertanyaan di benak saya adalah “shaleh” seperti apa yang kita kehendaki tertanam pada karakter anak kita? Apakah anak yang selalu belajar setiap hari, selalu mengucapkan salam ketika berpapasan, rajin menabung, berkata halus dan lembut ?

Allah telah memberikan tuntunan kepada kita berupa Al-Quran yang di dalamnya banyak sekali jawaban atas berbagai pertanyaan hidup, termasuk keshalehan seperti apa yang sebaiknya melekat pada karakter anak keturunan kita.

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS 3:114)

Itulah jawaban atas pertanyaan kita, ternyata anak yang shaleh adalah pertama seorang anak yang beriman kepada Allah SWT. Dengan dilandasi keimanan kepada Allah SWT seorang anak menyadari dan meyakini akan keEsaan Allah, meyakini keberadaan malaikat, mengikuti ajaran nabi dan Rasul terdahulu yang ditutup oleh Ajaran Nabi Muhammad SAW, mengamalkan kitab Allah (Al-qur’an), ia yakin akan datangnya hari akhir/kiamat dan qada dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Kedua anak yang shaleh adalah mereka yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, artinya anak yang shaleh bukan hanya menikmati keshalehannya sendiri, menyepi dengan kebaikannya tanpa memperdulikan kondisi lingkungan sekitar. Ia mampu mengajak aorang-orang di sekitarnya menjadi manusia yang shaleh dan berani mencegah ketidakbaikan berkembang di lingkungannya.

Ketiga anak yang shaleh adalah mereka yang bersegera mengerjakan kebajikan. Ia mampu menyampaikan ilmu tanpa harus menunggu mencapai titel pendidikan tertinggi, ia bersedekah tanpa menunggu kaya, memberi tanpa harus diberi, berbuat tanpa harus dipuji, sehingga yang ada di pikirannya adalah bagaimana ia berbuat kebajikan setiap harinya.

Mari kita berusaha dengan gigih mempersiapkan anak-anak kita supaya memiliki karakter anak yang shaleh. Sebelumnya mari shalehkan diri sendiri, bukankah buah itu tak akan jauh jatuh dari pohonnya?

Sebagai seorang ayah setiap berangkat beraktifitas saat pamit dengan keluarga selalu saya lafazkan di kening putra saya, robbi habliminashalihin (Ya Allah, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh) dengan harapan semoga ia akan tumbuh menjadi anak yang shaleh. Wallahu’alam

Tissue culture laboratory 3

22082014 03.00 pm

Advertisements

4 responses to “Ayah Juara : Anak Shaleh, seperti apa?

  1. Pingback: Anak nakal vs orang tua bandel | Catatan Abi Faiz·

  2. Pingback: Ayah Juara : Anak nakal vs orang tua bandel | THE ADIOKE CENTER·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s