Keshalehan manusia

Bagi saya janggut adalah identitas seorang muslim, mengapa demikian karena memanjangkan janggut adalah sunnah Rasulullah SAW. Mungkin ada beberapa orang yang ditakdirkan tidak memiliki janggut, kemungkinan karena faktor genetik (secara garis keturunan memang tidak ada riwayat berjanggut), atau memiliki sedikit janggut, seperti teman saya yang memiliki hanya kurang dari tiga helai janggut. Janggut identik dengan ustad, namun bagi saya siapapun boleh memanjangkan janggutnya, bagi yang bisa berjanggut.

Erat kaitannya dengan janggut, saya perhatikan ada tukang becak di tempat saya yang memelihara janggut, apakah itu hanya sekedar aksesoris belaka? namun hasil pengamatan membuktikan beliau rajin sekali berjamaah di masjid, mendirikan shalat 5 waktu. Di saat azan berkumandang beliau menyempatkan mengayuh sepedanya ke masjid. Apakah janggutnya mencerminkan keshalehannya, iya saya rasa demikian.

Erat kaitannya dengan shalat berjamaah di masjid, apakah shalat berjamaah di masjid itu lebih utama bila dibandingkan dengan shalat berjamaah? Jawabannya adalah iya, karena shalat berjamaah menjamin 27 derajat pahala bagi siapa saja yang mengamalkannya. Ada seorang dosen yang semangat sekali dalam membimbing mahasiswanya, setiap praktikum beliau tidak sungkan untuk terjun ke lapangan mengawasi kelancaran kegiatan praktikum. Selain itu kegiatan menulis jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional pun tak ketinggalan dari kiprahnya selama ini. Beliau bisa kita temui di masjid kampus setiap shalat wajib khususnya dhuhur dan ashar secara konsisten, apakah kebiasaan beliau untuk mendirikan shalat berjamaah adalah bukti keshalehannya, iya saya rasa demikian.

Apakah tilawah alqur’an adalah keutamaan bagi seorang muslim? Jawabannya adalah iya, bahkan Rasulullah SAW mengumpamakan orang mukmin yang selalu membaca alqur’an bagaikan buah yang manis rasanya nan wangi aroma buahnya. Saat saya naik kereta api listrik jurusan bogor-jakarta kota terlihat seorang pemuda (kemungkinan besar seorang eksekutif muda) sedang asyik dengan gadgetnya dari awal hingga stasiun tujuannya. Yang ada di benak saya saat itu adalah kemungkinan pemuda itu adalah penggiat media sosial di dunia maya. Kita tahu sendiri bahwa ajang pemilu presiden tahun ini cukup menyedot perhatian masyarakat khususnya bagi mereka yang bersentuhan dengan sosial media-relawan tim sukses calon presiden- sedang giat-giatnya meposting berita memperkenalkan capresnya atau mengkampanye hitamkan salah satu capres. Dugaan saya meleset 180 derajat, pemuda tersebut sedang tilawah alqur’an, sepanjang jalan ayat demi ayat suci terlantun hingga akhir tujuan perjalanannya. Apakah pemuda tersebut dengan kebiasaanya bertilawah sepanjang perjalanan adalah bukti kesalehannya, iya saya rasa demikian.

Ternyata kesalehan itu dapat melekat pada siapapun, tidak bergantung pada status sosial, harta kekayaan yang dimiliki, pangkat atau jabatan yang diemban atau bahkan garis keturunan yang diwariskan. Kesalehan akan melekat bagi siapapun yang mau berusaha dekat dengan penciptanya. Maka tentulah benar adanya bila Allah SWT menilai hambaNya bukan dari apa yang melekat pada manusia di dunia seperti harta, jabatan ataupun yang lainnya melainkan dari ketakwaannya, keshalehan manusia sebagai hamba.  Wallahu’alam

 

Salam SuksesBelajar

Tissue culture laboratory 3

20082014 9.41 am

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s