Memperingati Hari Ibu (Lagi)

Hari ini 22 Desember, kita kembali memperingati hari Ibu, hari yang kita peringati untuk meghormati perjuangan kaum perempuan dalam kemerdekaan dan perjuangan memperbaiki nasibnya. Namun di saat yang bersamaan timbul rasa prihatin dari saya ketika beberapa perempuan tokoh yang seharusnya menjadi panutan bagi perempuan seluruh indonesia berurusan dengan kasus hukum. Salah satu contohnya adalah gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah (gubernur perempuan satu-satunya di Indonesia) ditahan oleh KPK karena diduga tersandung kasus korupsi pilkada lebak yang melibatkan adik kandungnya Tubagus Khairi Wardana dan pengadaan alat kesehatan di provinsi Banten.

Tentunya hal itu bertolak belakang dengan tujuan awal partisipasi perempuan dalam dunia politik sebagai katalis untuk menurunkan tingkat pelanggaran hukum khususnya perbuatan korupsi. Kondisi ini pula yang bertolak belakang dengan semangat kaum perempuan ketika 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta hampir kurang lebih 1.000  perempuan berkumpul dari Jawa dan Sumatra mengadakan kongres Wanita Indonesia, itulah gerakan awal perempuan dalam lingkup berbangsa dan bernegara.

Meski telah banyak kemajuan yang telah dipeoleh kaum perempuan yang harus direnungkan oleh kita semua di hari ibu adalah bagaimana kita benar—benar berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Yang paling memperihatinkan adalah tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) semakin meningkat. Tercatat trdapat AKI sebesar  359 kasus per 100.000 kelahiran dan AKAB sebesar 32 per 1.000 kelahiran bayi. Tentu tingginya AKI dan AKB di Indonesia berhubungan erat dengan fasilitas kesehatan yang kurang, penddikan reproduksi yang rendah dan kondisi perekonomian yang kurang menunjang, ironinya kondisi ini terjadi saat pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6% tertinggi kedua di dunia setelah China.

Kondisi yang lebih memperihatinkan adalah tindakan kekerasan baik fisik, psikis, seksual dan ekonomi masih sering terjadi dan cenderung bahkan meningkat. Oknum pejabat publik dan tokoh masyarakat yang seharusnya memberikan teladan terhadap penghormatan kaum perempuan seolah tak mau kalah melakukan aksi yang tidak baik terhadap kaum perempuan.

Dalam memperingati hari Ibu tahun ini, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak mengangkat tema “ Peran Perempuan dan Laki-laki dalam Mewujudkan Demokrasi yang Partisipatif dan Pembangunan yang Inklusif”. Melalui tema di atas sesungguhnya wakil rakyat kita memiliki peran dan tugas strategis dalam memperjuangkan hak perempuan. Karena peremuan memiliki kedudukan yang sangat istimewa yakni seorng IBU.

Selamat Hari IBU

Wallahualam bishawab

Salam SuksesBeajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s