Segelas air teh manis untuk seorang sosiolog

Saat dialog Apa Kabar Indonesia Pagi di TVone yang mengangkat tema Pelarangan Sweeping yang dilakukan oleh ormas menghadirkan juru bicara Front Pembela Islam, Mulawarman dengan Sosiolog UI Thamrin AT. Diawal dialog keduanya cukup kondusif di awal, dengan menghadirkan pula Irjen Pol. Boy Rafli, dari humas POLRI. Penyiraman itu diduga dilakukan karena Munarman kesal setelah Thamrin memotong pembicaraannya terkait permasalahan tidak adanya ketegasan pemerintah dalam melakukan razia minuman keras menjelang bulan suci Ramadhan.

Banyak sekali komentar yang beredar di masyarakat, mulai dari pro terhadap aksi yang dilakukan sampai kepada aksi yang kurang simpati. Di tengah argumen masyarakat ada beberapa hal yang perlu kita cermati yaitu : pertama, latar belakang keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Seperti yang kita ketahui Mulawarman adalah salah satu tokoh yang terkenal dengan idealisme dan keras jika berhadapan dengan berbagai tindakan masyarakat yang melanggar norma-norma agama seperti minum minuman keras, praktek pelacuran, tindakan judi dan kegiatan hiburan malam. Tindakannya yang tanpa pandang bulu dan sebagian orang melihatnya sebagai tindakan anarkis dilakukannya dengan alasan bahwa aparan kepolisian yang memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan masif terhadap berbagai penyakit masyarakat tidak melaksanakan fungsi tersebut dengan sebagai mana mestinya.

Di pihak lain Thamrin sebagai sosiolog terkemuka telah dikenal sebagai sosok yang kontroversi, karena pernyataan dan pendapatnya dinilai sebagian masyarakat “NYELENEH” atau pernyataan orang berilmu yang tidak tahu dipakai dimana ilmunya sehingga hilanglah kebijakan seorang ilmuan. Kita bisa melihat salah satu pandangannya yang menyatakan bahwa hubungan bebas pada masyarakat kalimantan itu sudah umum, sudah biasa bahkan malah dijadikan sebagai sex education, kontan pernyataannya itu mendapat protes yang cukup keras dari masyarakat kalimantan khususnya kutai.

Bila kita bayangkan dua orang yang sangat berbeda disatukan dalam satu panggung, dengan argumen yang sangat bertolak belakang, bagaikan menyiram bensin di atas kobaran api..terjadilah tragedi penyiraman terbur.

Kedua, program televisi seperti talkshow yang ditampilkan oleh TVone dengan menghadirkan pembicara tanpa mengukur peran dan karakter narasumber adalah sesuatu hal yang kurang bijak dan profesional. Ditambah bila saya perhatikan karakter pembawa acara yang mengawal acara terbeut lebih berperan sebagai penyidik dibandingkan sebagai penengah. Tanpa disadari mereka terkadang melontarkan pernyataan yang provokatif dan tanpa dasar yang kuat. Saya tidak tahu apakah itu sengaja dilakukan untuk meningkatkan rating program acara tersebut atau tanda kurang profesionalnya para awak media kita.

Ketiga, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebaiknya berperan aktif, khususnya dalam kasus hal ini, walau bagaimana pun juga tidakan ini adalah hal yang tidak selayaknya dinikmati oleh masyarakat. Masyarakat seharusnya disuguhi oleh acara yang mempertontonkan sopan santun, pernyataan-pernyataan yang cerdas dan kritis, yang jarang kita peroleh dari acara-acara televisi di Indonesia. Bahkan pemberitaan kita cenderung lebih berisi pesan politis dalam upaya mengangkat citra pihak tertentu dan menghancurkan karakter pihak lain, sungguh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Wallahualam bishawab.

Salam SuksesBelajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s