Cukupkah hanya sekedar permintaan maaf ?

Secara resmi akhirnya pemerintah Indonesia melalui Bapak presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono meminta maaf kepada kedua negara tetangga kita “Malaysia dan Singapura” atas musibah kiriman asap yang dikirimkan hutan Indonesia (khususnya Riau) dua hari ini. Memang sebelumnya banyak sekali kontroversi menyangkut kebakaran yang mengakibatkan bencana regional tersebut. Di awal Menteri Kehutanan Bapak Zulkifli Hasan mengajak seluruh pihak secara bersama-sama menyelesaikan permasalahan ini tanpa harus saling menyalahkan apalagi mencari-cari kambing hitam atas peristiwa ini.

Sontak peristiwa ini membawa hikmah tersendiri bagi Indonesia, pertama Kita harus menyadari bahwa kawasan hutan dan lahan perkebunan kita rawan akan kebakaran hutan. Tentunya kita masih ingat segitiga api, penyebab munculnya api adalah adanya bahan bakar, oksigen dan panas. Negara kita memiliki bahan biomass yang sangat besar, luasan hutan kita pun tak bisa dihitung dengan jari (walaupun hutan primer saya kira semakin berkurang). Itulah potensi yang menyebabkan kebakaran, taukah teman-teman bahwa tanah gambut yang ada di dataran kalimantan dan sumatra menyimpan banyak sekali biomassa yang mudah terbakar. Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk oleh terdepositnya biomass hutan sehingga walaupun nempaknya seperti tanah namun memiliki kerapatan yang rendah dengan kandungan organik yang sangat tinggi. Jangan heran bila terjadi kebakaran di lahan gambut titik apai berada 2 atau 3 meter di bawah tanah, sehingga kita mengalami kesulitan untuk memadamkannya. Ditambah dengan datangnya musim kemarau yang membuat makin bertambahnya titik api di beberapa kawasan hutan dan perkebunan di Indonesia, menurut data dari BMKG tercatat sekitar 265 titik api yang telah terdeteksi di kepulauan Riau. Artinya departemen terkait seperti Kementrian Kehutanan, Pertanian, kesehatan dan Menko Kesra seharusnya mampu bekerja sama dengan baik untuk mengatasi sedini mungkin dampak yang diakibatkan oleh bencana ini.

Kedua, kebakaran yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh “alam” namun pada beberapa kasus kebakaran ini disengaja oleh oknum-oknum perusahaan perkebunan dalam pengolahan tanah, khususnya pembukaan lahan. Tidak bisa ditutupi lagi sistem perkebunan kita belum sepenuhnya ramah lingkungan, untuk pembukaan lahan saja kita terbiasa untuk membakar tumbuhan bawah. Di sini kita harus meluruskan konsep pertanian yang selaras dengan ekosistem.

Ketiga, perusahaan perkebunan yang terlibat dalam pembakaran kelapa sawit tersebut diduga berasal dari malaysia dan Singapura. The jakarta post dalam beritanya pagi ini menyebutkan setidaknya ada beberapa perusahaan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap bencana asap ini, mereka adalah PT Langgam Inti Hibrida, PT Bumi Reksa Nusa Sejati, PT Tunggal Mitra Plantation, PT Udaya Loh Denawi, PT Adei Plantation, PT Jatim Jaya Perkasa, PT Multi Gambut Industri, dan PT Mustika Agro Lestari. jangan salah walaupun nama perusahaan di atas seperti perusahaan asli Indonesia namun mereka sejatinya adalah anak perusahaan asing milik warga Malaysia dan Singapura.

Lalu bagaimana dengan sikap pemerintah Indonesia ? apakah permintaan maaf dari Presiden RI sudah cukup ? Bagi saya TIDAK ada pekerjaan rumah yang harus kita benahi bersama yang mungkin bisa saja menjadi persoalan hulu kebakaran yang terjadi saat ini. Menindak tegas para pelaku illegal logging, pembalakan liar, pembakaran hutan, menindak perusahan-perusahaan perkebunan nakal, dan mengusut serta menindak para beking di balik semua itu adalah tindakan yang tepat, bukan hanya sekadar meminta maaf.

Wallahua’lam Bishawab

Salam SuksesBelajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s