ilmu dan maksiat

Wahai manusia, tuhan menciptakanmu sempurna dan suci, mengapa kamu mengotori kesucian itu, dan berbuat yang tidak sesuai denganperintah, inilah sekurang-kurangnya yang akan anda alami apabila anda suka berbuat maksiat;

*Akibat yang pertama adalah maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. suatu ketika Imam malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata,”Aku meliha Allah SWT telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu,Wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

Perhatikan, wahai saudaraku sekalian, Imam malik menunjukkan kepada kita  bahwa pintu Ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan maksiat.

*Akibat yang kedua maksiat akan menghalangi Rizqi

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya Rizqi, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran.

Rasulullah saw pernah bersabda; Seseorang hamba dicegah dari Rizqi akibat dosa yang diperbuatnya.”  (HR.Ahmad)

Karena itu,wahai saudaraku sekalian,kita harus menyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan Rizqi dan memudahkan Rizqi kita. Jika saat ini kita tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.

*Akibat ketiga,maksiat membuat kita berjarak dengan Allah SWT.

 Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seseorang Arif tentang kesunyian jiwannya. sang Arif berpesan,”Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa. maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

*Akibat maksiat yang keempat adal kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.

 Semakin banyak dan semaki berat maksiat yang kita lakukan, Akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga,istri,anak-anak dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seseorang Salaf berkata,”Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah SWT, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

Akibat kelima, maksiat membuat sulit semua urusan kita.

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempersulit segala urusan pelakunya.ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata,”sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan didalam kubur dan di hati, kelemahan baddan,susutnya Rizqi dan kebencian makhluk.”

Begitulah, wahai saudaraku, jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di dalam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. makanan yang kita makan tidak suka kita makan. orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.

*Akibat keenam,maksiat melemahkan hati dan badan.

Kekuatan seseorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya.Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya/. tetapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat,sesungguhnya dia sangat lemah. tidak ada kekuatan dalam dirinya.

Wahai saudaraku, lihatlah bagaimana menyatukan kekuatan Fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa persia dan romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!

*Akibat maksiat yang ketujuh adalah kita terhalang untuk taat.

Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat maksiat seperti Orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari makanan-makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat maksiat,kita akan terhalang untuk berbuat taat.

*Maksiat memeperpendek umur  dan menghapus keberkahan.

 Ini akibat maksiat yang kedelapan. pada dasarnya, umur manusia dihitung  dari masa hidupnya. padahal,tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah,cinta,dan dzikir kepada Allah SWT serta mancari  keridhaan-Nya.

Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga perempatnya kita isi dengan maksiat.Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun.  Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.

Sementara Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah SWT. Usianya begitu panjang. Sebeb, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang di tulisnya memberinya kebekahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.

*Akibat yang kesembilan, maksiat menumbuhkan maksiat lain.

Seseorang ulama salaf berkata,Jika seseorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seseorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan  cenderung untuk menjadikan kebiasaan bagi pelakunya.

Karena itu,hati-hatilah, Saudaraku. Jangan sekali-kali mencoba berbuat makdiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti Jika sudah jadi kebiasaan!

*Maksiat mematikan bisikan hati nurani.

 Ini akibat berbuat maksiat yang kesepuluh. Maksiat dapat melumpuhkan hati dari kebaikan. Dan Sebaliknya, akan menguatkan kehendak  untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keiginan hati untuk bertaubat. Inilah yang menjadikan pennyakit hati paling besar; Kita tuidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.

*Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat  maksiat  begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali.

Itulah akibat maksiat yang kesebelas. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat.  Jika orang sudah berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan,dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. padahal dosa itu demikian besar di mata Allah SWT.

*Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah di azab Allah SWT.

Ini Akibat keduabilas yang menimpa pelaku maksiat.

Homoseksual adalah maksiat warisan umat Nabi Luth a.s. perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat.Peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di mukabumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kauamnya.Sedangkan Takabur dan congkak merupakan maksiat kaum Hud a.s.

Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku makdiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah SWT. Dalam Musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar di sebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda;”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.”Na’udzubillahi min dzalik!Semoga kita bukan salah satu dari mereka.

*Akibat perbuatan maksiat yang ketigabelas adalah, maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadiaan.

Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah SWT sehingga Allah SWT pun menghinakannya.”Dan barang siapa yang dihinakan Allah SWT,maka tidak seorang pun  yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah SWT  berbuat apa yang Dia kehendaki.”(Al-Hajj;18). Sedangkan kemaksiatan  itu akan melahirkan kehinadiaan. Karena,kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah SWT.”Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah  kemuliaan itu…”(At Faathir;10). Seorang salaf pernah berdoa,”Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu;dan janganlah engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”

*Akibat keempat belas, maksiat merusak akal kita.

 Saudaraku yang di muliakan Allah SWT…

Tidak mungjin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata,seandainya seseorang itu masih berakal sehat,akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah SWT. Dia akan berada dalam  genggaman Allah SWT, sementara malaikat menyaksikannya, dan nasihat Al Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat,kecuali akalnya telah hilang!

*Akibat kelima belas,maksiat menutup hati.

 Allah SWT Berfirman.”Sekali kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu  menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin;14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.

*Akibat keenam belas, pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.

 Saudaraku sekalian,Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual(HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktek suap-menyuap (HR Tarmdzi),dan sebagainya. Karena itu tinggalkanlah semua itu!

*Akibat ketujuh belas, maksiat menghalangi Syafaat Rasulullah saw dan malaikat.

Kecali, bagi mereka yang bertaubat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah SWT. Berfirman.”(Malaikat-Malalikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan; Ya Tuhan kami,Rahmat dan ilmu Engkau meliputi  segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam Syurga,Adn yanaag telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih diantara bapak bapak mereka,istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua.  Sesungguhnya Engkaulah yang maha perkasa lagi maha bijaksana. Dan peliharalah mereka  dari (balasan) kejahatan.”(Al-Mukmin;7-9)

*Akibat kedelapan belas, maksiat melenyapkan rasa malu.

 Padahal, malu adalah pangkal kebajikan.Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilanglah seluruh kebaikan dari diri kita.Rasulullah saw bersabda; ”Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya, Jika kamu tidak merasa malu,berbuatlah sesukamu,”(HR.Bukhari)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

*Akibat kesembilan belas, maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah SWT.

 Jika kita melakukan maksiat, di sadari atau tidak,rasa untuk mengagungkan Allah SWT perlaha-lahan lenyap dari hati kita. ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh azab Allah SWT. Kita mengacuhkan bahwa Allah SWT maha melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!

Saudaraku yang di muliakan Allah SWT…

*Maksiat memalingkan perhatian Allah SWT atas diri kita.Ini akibat yang kedua puluh.

 AllahSWT akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan syetan. ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah SWT, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”(Al-Hasyir;19)

*Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.Ini akibat yang keduapuluh satu.

 Allah SWT Berfirman,”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah SWT memaafkan sebagai besar (Dari kesalahan kesalahanmu).”(Asy-Syura;30)

Ali r.a. berkata,”Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena Tobat.” Karena itu,bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertaubat  dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?

*Dan Akibat yang terakhir, yang kedua puluh dua, maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.

 Kita hidup di dunia sebenarnya bagaikan seorang pedagang.Dan pedagang yang cerdik tentu akanmenjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, Siapakah yang sanggup membli diri kita dengan harga tinggi selain Allah SWT? Allah SWT lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan syurga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s