Emak tak seperti dulu

Emak dulu sehat, setidaknya setahun yang lalu saat kutemui. Tubuhnya berisi dan gesit bergerak ke sana ke mari. Dengan profesinya sebagai tenaga pemasaran sebuah produk, Emak juga selalu sigap mengantar dagangan yang dipesan orang. Bahkan, kadang tak ingat waktu siang ataupun malam.

Walaupun Emak tak pernah sekolah tinggi bahkan tak tak tamat pendidikan dasar, tapi dengan keuletan ia akhirnya menjad manajer pemasaran. kemiskinan di masa silam, membuat yang terpenting baginya adalah cukup bias menulis dan membaca.

Emak pun tak punya uang banyak untuk menyekolahkan anak-anaknya. Namun, ia tak pernah lupa berdoa agar mereka tak seperti dirinya. Karen itu, tak heran Emak begitu bangga karena aku bias sekolah tinggi, bahkan sampai di Negeri Sakura. Tempat di mana begitu banyak orang memimpikannya.

Namun Emak kini kurusan, berat badannya turun drastic. Pucat menambah pias warna wajahnya. Emak yang dulu lincah, sekarang lebih banyak diantar untuk pergi kemana-mana. Kegesitannya saat mengendarai mobil sendirian, kini telah hilang. Daging dan lemak yang dulu membalut tubuhnya juga semakin berkurang. Hanya tulang yang lebih tampak terlihat. Gigi pu telah banyak yang tanggal.

Entah berapa banyak dokter yang telah ditemuinya. Beragam pula konsultasi yang dilakukan, namun kondisi Emak tak banyak berubah. Penyakit jantung, asam urat serta komplikasi lain membuatnya sulit untuk makan, bahkan memejamkan mata saat penat dan kantuk menyapa. Begitu banyak pantangan sehingga hanya bubur nasi yang kerap menjadi hidangan setiap harinya.

Mak..

Dengan sapaan itu aku memanggilnya. Setahun tak dikunjungi, Emak memang tak banyak berubah. Ia terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Beberapa orang yang baru mengenalnya pasti selalu salah menerka umurnya. Karenanya, Emak pernah menagis saat kutelepon, seraya mengatakan dirinya semakin renta di usianya yang baru setengah abad.

Hanya ada yang tak pernah berubah dari Emak. Kerinduan dan rasa cinta yang selalu siap mengguyuri anak-anaknya, bahkan cucunya, menutupi kerapuhan fisiknya. Rasa itu tak penah pudar dan hilang dari sisinya, sebagaimana yang dipunyai emak-emak di belahan bumi mana saja.

Mata yang berpendar-pendar penuh cinta itulah yang kutemui saat aku pulang ke kampung halamam, dua pecan yang lalu. Dengan kekurangannya, ia memang tak mampu lagi menjemputku di bandara. Emak hanya bisa menyambutku yang datang beserta istri dan anak di pintu rumah.

Peukannya sama sekali tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan. Hanya ciuman di keriput pipinya yang memang menandakan ia semakin direnggut usia.

Emak memang tampak letih di usianya. Tangannya yang dulu sanggup membuat roti cane dan kuah kari, serta nasi briyani, kini tampak payah. Tapi dengan fitrahnya, Emak tak pernah lalai memanjakan anak-anaknya sehingga orang lain diminta untuk memasakan. Karena ia tahu, makanan itu adalah kesukaanku.

Ringkih dan renta, hanya itu yang tampak pada Emak.

Namun….

Selama kehadiranku dan keluarga disisinya, Emak tampak sehat. Ia senang diajak berjalan-jalan. Emak juga tertawa riang, bahkan tampak berbahagia saat melihat tingkah polah dan kenakalan cucu-cucunya. Makan menjadi lebih lahap dan tidur pun semakin lelap.

Emak tentu sama seperti emak-emak lainnya. Uzur dan semakin tua, bukankah itu penyakit yang pasti tiba dan tak ada obatnya. Saat Emak semakin lanjut usia, yang rapuh bukan hanya fisiknya, namun juga jiwanya. Emak butuh perhatian yang lebih dari anak-anaknya.

Kesepian yang kadang menggoda dan membelenggu membuat Emak selalu tampak merenung dan melamun. Karenanya, tatapan kosong dan mata yang menerawang menjadi rutinitas biasa.

Emak butuh luapan cinta dan kasih sayang dari anak-anaknya, yang seharusnya selalu ada di sampingnya serta siap sedia saat ia membutuhkan. Sikap dan kata-kata yang lemah lembut pun niscaya bagai embun pagi yang akan menelisik dan membasahi rongga jiwa Emak.

Emak tak butuh uang karena yang dibutuhkannya hanyalah kunjungan anak-anaknya, cucu atau keluarga yang membawa seikat bunga kasih sayang.

Emak….

Ia adalah seseorang yang sangat berharga dalam hidupku, yang begitu menyayangi anak-anaknya hingga kadang terlalu berlebihan dengan sikap possessive-nya.

Emak dulu pernah sulit melepaskan aku untuk segera menikah karena takut akan melupakan dirinya. Dan, Emak pula yang pernah menangis karena janjiku yang membantunya naik haji menjadi tertunda.

Kini Emak terlihat sehat dan bahagia. Alhamdulillah, dengan sedikit uang yang kusisihkan akan memenuhi cita-citanya dan juga bapak untuk memenuhi panggilan Allah, ke tanah suci Mekkah. Insya Allah.

Di hari terakhir di kampong halaman, Emak mengantarkan aku dan keluarga ke bandara. Sebelum lambaian perpisahan, Emak sempat berkata,

“Doakan Mak cepat sembuh ya Nak, sehingga bias menunaikan ibadah haji dengan sempurna.”

Mata Mak mengabur. Lalu tampak wajahnya berurai air mata.

Aku tak kuasa menahan, air mataku pun tumpah.

Mak…….

Ini anakmu, yang sedang menuntut ilmu, jauh dari sisimu. Anak yang selalu sibuk hingga kadang menghalangi untaian doa terhatur untukmu. Anak yang tak pernah menyenangkanmu, Mak.

Menysahkanmu di masa kecil, pun sering mengecewakanmu di masa kanakku.

Mak….

Anakmu ini tak bisa, bahkan tak akan pernah membahagiakanmu. Membalas segala pengorbanan yang telah engkau berikan selama hidupku.

Maafkan anakmu ini, Mak. Maafkan kalau lidah ini pernah terucap kata makian hingga membuat goresan luka di hatimu. Maafkan pula jika mata ini pun pernah sinis memandang dan telinga yang tak pernah mengacuhkan nasihat darimu.

Mak…

Anakmu ini hanya bias, dan hanya selalu bias meminta, sama sekali tak pernah memberi. Doakan dan mintakan kepada-NYA agar aku bahagia dunia dan akhirat.

Saat engkau menanti bersujud kala tahajud di pekatnya amalam, hingga nanti engkau tiba di Mekkah, haturkan untukku sebentuk doa. Karena aku tahu, doamu pasti diijabah Allah.

Mak….

Begitu jauh jarak yang terbentang di antara kita. Jarak yang selalu melahirkan kerinduan dalam riak anak sungai di pelupuk mata.

Sesungguhnya, tak ingin jasad ini terbang menjauhimu, Mak. Pun, ingin rasanya aku selalu mendekap tubuh yang mulai sepuh lalu bermanja di pangkuanmu. Melepaskan rindu dalam belai kasih sayang dan mendengar indahnya ceritamu, setiap detik dalam rahim, gendongan, pelukan, bagai masa kecilku dulu.

Mak…

Kani air mataku berderai, karena selalu rindu belaian kasih sayangmu. Tapi aku tahu, engkau lebih merindukan kehadiran anak-anakmu.

Aku akan pulang, pasti aku akan pulang, Mak. Bukan dengan gelar, uang atau kemewahan yang akan kupersembahkan, tapi curahan kasih sayang di sisa umurmu, sebagaimana engkau pun mengasihi aku di masa kecilku.

Mak…

Tak pernah keindahan dunia ini dapat menggantikan keindahan cintamu. Riub rendah pesona dunia pun tak ada artinya ketika surga terletak di telapak kakimu.

Karena dirimu begitu indah, mak.

Indah….bahkan sangat teramat indah dalam alunan keikhlasan cinta seorang ibunda.

(Ditulis kembali dari sebuah buku yang sangat menyentuh hati “SAPA CINTA DARI NEGERI SAKURA” Karangan Abu Aufa)

artikel ini diperoleh dari postingan seeorang di facebook.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s