Rahmad Darmawan setelah Mundur dari Pelatih Timnas

Mundur dari kursi pelatih timnas U-23 tidak malah membuat Rahmad Darmawan bisa santai. Selain harus kembali menjalankan tugas sebagai tentara, dia sibuk melayani permintaan wawancara dari wartawan.

M. ALI MAHRUS, Jakarta GERIMIS mengguyur kawasan perumahan Victoria Park Residence di Karawaci, Tangerang, kemarin siang. Salah satu di antara ratusan rumah di area menengah ke atas itu adalah milik Rahmad Darmawan, mantan pelatih timnas PSSI U-23. Dua mobil keren nongkrong di garasi. Masing-masing punya pelat nomor istimewa. Yakni, B 678 SFC dan B 678 DAF.

Seorang remaja lelaki menyambut kedatangan wartawan Jawa Pos (JPNN Group). “Silakan ditunggu, Mas. Pak Rahmad ada di dalam. Ada tamu wartawan juga. Sedang diwawancara,” katanya.

Sayup-sayup terdengar tanya jawab antara wartawan dan Rahmad. Namun, bukan tentang sepak bola. Seputar bangunan rumah dan kamar.

Tak lama berselang, wawancara itu rampung. “Maaf agak lama menunggunya. Tadi ada teman wartawan yang wawancara untuk rubrik griya,” tutur Rahmad kepada koran ini.

Hari-hari Rahmad kini banyak bersinggungan dengan wartawan. “Setelah ketemu sampean, saya masih ada janji wawancara lagi,” katanya. “Meladeni wawancara teman-teman media adalah sebagian aktivitas saya sekarang. Sebenarnya, saya tidak menginginkan mundurnya saya dari timnas menjadi isu sebesar ini. Tapi, ya sudah. Saya akan menjelaskan apa adanya,” lanjut pelatih yang membawa timnas U-23 meraih medali perak SEA Games XXVI/2011 itu.

Selain sibuk melayani wartawan, Rahmad harus kembali menjalankan kewajiban sebagai anggota TNI. Pelatih yang akrab disapa RD tersebut adalah anggota Marinir aktif berpangkat kapten. Lelaki kelahiran 28 November 1966 itu bertugas di Dinas Perawatan Personel TNI-AL (Diswatpersal) sebagai Kasubsi Oraum (olahraga umum).

“Sekarang tiap hari saya ngantor di Mabes TNI di Cilangkap. Beberapa di antara tugas saya adalah mengurusi olahraga dan penerimaan calon prajurit TNI-AL,” ungkap Rahmad.

Rahmad masuk militer pada 1990 dengan menggunakan ijazah dari Fakultas Pendidikan Olahraga IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Orang yang menyuruhnya mendaftar adalah Evert Erenst Mangindaan, manajer timnas kala itu yang kini menjadi menteri perhubungan.

Rahmad menjalani pendidikan di Akmil, Magelang, dan lulus pada 22 Juni 1991. Setelah itu, dia mengikuti kejuruan matra laut di Surabaya dan melanjutkannya dengan dinas pertama di Pangkalan Marinir Cilandak. Tujuh tahun bertugas, Rahmad dimutasi ke Markas Komando Marinir di Jakarta. Setelah itu, Rahmad pindah ke Lantamal III Jakarta, balik lagi ke Mako Marinir, hingga kini di Mabes TNI di Cilangkap.

Karena banyak berkutat di lapangan hijau, sampai saat ini pangkat Rahmad baru kapten. Padahal, sudah ada rekan seangkatannya yang berpangkat kolonel. “Itu risiko. Saya tetap bersyukur. Diberi izin berkarir di sepak bola saja, saya sudah sangat senang. Saya bangga menjadi bagian mereka (Marinir, Red),” papar dia.

Karena sebelumnya jarang ngantor, Rahmad mengaku agak kaku saat harus kembali menjalankan tugas di kesatuan. “Awalnya, saya merasa tidak enak. Saya rasa, itu wajar dan kita tidak butuh waktu lama untuk cair,” kata suami Dinda Eti Yuliawati tersebut.

Rahmad senang karena dukungan dari kesatuannya sangat besar. Selain memberikan dispensasi, pada saat-saat tertentu rekan-rekan dan pimpinannya memberikan dukungan istimewa. Misalnya, saat final SEA Games lalu. Di partai puncak melawan Malaysia, Rahmad mengenakan topi hitan bertulisan “Marinir”. Topi itu adalah kiriman langsung dari Komandan Marinir Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin. Di bagian dalam topi tersebut, tertulis pesan penyemangat dari sang komandan, “Coach RD, kita pasti menang! M 1.”

Meski gagal mempersembahkan medali emas, kemudian memutuskan untuk mundur, Rahmad tetap laris manis. Selain diburu klub dan media, ayah dua anak itu beberapa kali muncul sebagai bintang tamu di beberapa stasiun televisi. Tak melulu acara olahraga, tetapi juga acara humor.

Dalam sebuah acara, Rahmad sukses mengocok perut pemirsa dengan aktingnya yang konyol. Padahal, dia mengaku sama sekali tidak punya kemampuan teater atau semacamnya.

“Saya suka ngocol saja. Itu bawaan saya sejak SMP dulu. Saat timnas menjalani pemusatan pra-Piala Dunia 1989 di Jerman, saya didapuk melawak di depan duta besar Jerman dan para stafnya. Saya maju saja dan sukses membawa mereka tertawa,” jelasnya.

Lantas, apa rencana Rahmad ke depan? Ayah Febia Aldina Darmawan, 19, dan Aldi Darmawan, 12, itu belum memutuskan. Dia baru akan menetapkan pilihan pada awal tahun baru nanti.

Rahmad memiliki beberapa pilihan. Salah satunya adalah mengambil sertifikat pro license. Untuk itu, dia butuh waktu enam bulan dan dukungan dari PSSI.

Pilihan lain yang kini dipikirkan oleh Rahmad adalah melatih salah satu klub di Indonesia. Ada empat klub yang berminat merekrut lelaki kelahiran Metro, Lampung, itu. Salah satu yang paling giat adalah Pelita Jaya, klub milik keluarga Bakrie.

“Saya ingin santai dulu sambil terus introspeksi. Saya masih ingin ngumpul bersama keluarga,” ungkap pelatih paling fair play versi Jawa Pos Group pada musim 2009 itu.

Putri pertama Rahmad, Febia, kebetulan kini berada di tanah air untuk menikmati liburan. Dia adalah siswa sekolah penerbangan di Filipina. Soal pendidikan buah hatinya itu, Rahmad menyatakan tidak pernah memaksa.

“Itu atas pilihan sendiri. Saya tidak pernah mengarahkan. Mungkin ketularan ibunya yang dulu pramugari,” bebernya. (jpnn.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s