Pernah merasa "engga enak" ?

Pernahkah kita merasa tidak enak terhadap orang lain ??

Sebagai ilustrasi : pernahkan ketika kita sedang mengerjakan tugas dari kampus kemudian datang seorang teman mengajak kita menemaninya membeli makan padahal kita sedang asik-asiknya mengerjakan tugas yang banyaknya segudang dan deadlinenya besok ??

lalu apa yang akan kita lakukan bila berhadapan dengan situasi tersebut ?? akankah kita mengikuti kemauan teman kita ata mengantarkannya membeli makanan ??

Sebagian diantara kita pasti ada yang menanggapinya dengan sikap : ” aduh ngga enak juga kalau ngga nganter, kasihan dah malam lagian tugas kan bisa dikerjakan setelah mengantar..”

Atau apakah kita mendapati seseorang yang telah berbuat kesalahan di hadapan kita namun kita enggan untuk menyatakan hal itu adalah salah, contohnya ada tetangga kita yang menjadi pelayan sebuah toko dan sempat melakukan kesalahan saat perhitungan belanjaaan kita. Saat itu ada Bos nya yang sedang mengawasi karyawan toko tersebut. Mungkin sebagian dari kita ada yang mengurungkan diri untuk melaporkan kesalahan yang telah ia lakukan ” ah engga enak, keluarganya kan baik sering membantuku dalam setiap permasalahan di lingkungan rumah mulai dari membetulkan atap jendela sampai mengecat tempok, terkadang juga suka  memnantu menjaga rumah kita ketika sedang berlibur atau mudik ramadhan. “

Itu adalah salah satu ilustrasi bagaimana kita sering terjebak rasa “ngga enak ” terhadap teman dekat, saudara, sahabat atau orang tua intinya diluar dari diri kita sendiri.

terus ada pertanyaan ” Apakah rasa engga enak tersebut salah ?”

Budaya timur dalam masyarakat kita memang telah menanamkan harmonisasi dan tenggang rasa dengan sesama namun ini bukan berarti karena adanya nilai-nilai ini kita lantas bisa dengan mudah mengabaikan nilai-nilai prinsipil tiap pribadi yang juga harus dijaga dan dipertahankan oleh seseorang, apalagi jika sudah berkaitan dengan hak-hak asasi yang dimilikinya. “Mengorbankan diri” demi menghindari konflik atau situasi yang tidak nyaman tidak dibenarkan. Harmonisasi dan tenggang rasa itu tidak benar adanya jika tercapai diatas keuntungan satu pihak dan kerugian di pihak lain. Walaupun dalam beberapa kasus memang kita bisa memaklumi sikap-sikap yang diambil oleh beberapa orang seperti ilustrasi di atas, namun sebenarnya ada kondisi di dalam hatinya berteriak meminta tolong, To much enough.. Selain telah merasakan kerugian langsung baik materiil, ia juga sudah tidak lagi mampu mengatasi dampak dari kerugian tenaga dan waktu yang menjadi akibat dari sikap yang ia sebut Nggak Enakan.

Sebelumnya kita musti melihat terlebih ke dalam diri. Apakah saya memiliki prinsip hidup? Darimana prinsip itu berasal? Pendidikan dalam keluarga dan Religi tentu saja telah menanamkan kejujuran, keadilan, disiplin dan lain sebagainya. Prinsip ini menjadi bagian dari sikap dan kepribadian seseorang. Berbeda dengan aturan, prinsip sifatnya lebih instrinsik. Prinsip adalah keyakinan yang mendasari aturan yang kita pakai dalam menjalani kehidupan. Di kantor atau organisasi Anda pasti ada banyak aturan kerja. Dengan beragam alasan, rasionalisasi atau karena memang masa bodoh, Anda bisa saja melanggar aturan-aturan itu. Anda bahkan bisa melanggar aturan tanpa menyadarinnya. Tetapi, ketika prinsip dilanggar, tidak mungkin Anda tidak menyadarinya. Seperti kasus di atas mungkin pada saat itu ia bisa mentoleransi apa yang terjadi di toko tersebut namun sebenarnya telah terjadi gejolak dalam hatinya, ada perasaan tarik-menarik antara kenyataan diluar dan kecamuk dalam dada. Ketika prinsip dilanggar, orang akan dengan normal merasakan kebimbangan, perasaan bersalah dan kecewa pada diri sendiri.

Jika memang kejujuran, keadilan, disiplin dan lain sebagainya adalah betul menjadi prinsip hidup Anda dan Anda sendiri tidak memiliki keberanian untuk mempertahankannya, maka nilai-nilai itu bukanlah sebuah prinsip tetapi hanyalah tujuan hidup yang tidak cukup suci. Jadi, apakah Anda betul-betul nggak enakan atau memang orang yang tidak berprinsip? Silahkan tanyakan pada diri Anda sendiri. “Apa sih hal-hal yang akan membuat Anda berani berjuang untuk mempertahankannya?”

Tanpa prinsip, maka cara Anda mengambil keputusan dalam kehidupan ini akan selalu didasarkan pada emosi, situasi dan kondisi sehingga ego akan mengalahkan etika. Meski mempertahankan prinsip itu sesuatu yang sulit dilakukan oleh sebagian orang tetapi tidak mempertahankannya akan jauh lebih merugikan.

Seseorang yang berani mempertahankan prinsipnya akan merasakan sebuah kepuasan diri. Ia akan tahu potensi dirinya dan posisinya dan bisa bersikap sedikit keras kepala untuk tidak bergeming. Hal ini tentu saja bukan sikap negatif jika konteksnya adalah mempertahankan prinsip hidup Anda yang suci. Tapi tentu saja dengan catatan, Anda melakukannya bukan karena demi keuntungan pribadi (hal ini mudah dilakukan tanpa memiliki prinsip hidup) namun Anda melakukannya karena karakter, kesadaran dan batin Anda mengandalkan Anda. Anda melakukannya seolah hidup Anda bergantung pada prinsip itu.

Pada akhirnya jika Anda berani mempertahankan prinsip hidup, Anda akan merasakan kedamaian dan percaya diri yang membantu pada penemuan jati diri Anda. Jika Anda adalah seorang pemimpin perusahaan, anak buah Anda akan “melihat” ini sebagai sebuah sikap kewibawaan dan kepemimpinan yang profesional, jika Anda adalah seorang Ibu atau Ayah tentu saja ini adalah sebuah sikap keteladanan yang luhur. Sehingga pada akhirnya rasa Nggak enaka itu akan hilang dengan sendirinya. Semoga Bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s