ALLAH PELINDUNG TERBAIK (PENDIDIK ANAK)

Salah satu hikmah Al-Qur’an tentang mendidik anak dapat kita resapi dalam surah Luqman, Ada enam hal penting yang disampaikan Luqman kepada anaknya. Pertama, larangan mempersekutukan Allah. (QS Luqman: 13).

Kedua, berbuat baik kepada dua orang ibu-bapak. (QS Luqman: 14). Ketiga, sadar terhadap pengawasan Allah. (QS Luqman: 16). Keempat, mendirikan shalat, ‘amar makruf nahi mungkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan. (QS Luqman: 17). Kelima, larangan sombong dan membanggakan diri (QS Luqman: 18). Dan keenam, bersikap sederhana dan bersuara rendah (QS Luqman: 19).

Adakah para pengasuh balita juga meresapi makna surah Luqman tersebut? Wah, berdo’a sebelum makan saja seringkali lupa, anak-anaklah malah yang mengingatkan pengasuhnya, lho.

Untuk itu, berpikirlah lagi jutaan kali saat anda dan suami ternyata punya kata sepakat “harus” menitipkan anak-anak kepada orang lain. Utamakan Allah dan tuntunan rasul-Nya dalam menentukan langkah.

Ada kalanya teman-teman yang bekerja, saat menceritakan pengalaman rumah tangganya, hanya dapat memohon solusi terbaik kepada Allah ta’ala tentang hal berkaitan dengan ini, pilihan harus diambil dalam hidup. Beda dengan di eropa, yang ibu-ibu melakukan ‘pelarian’ dengan bekerja.

Kalau di negara kita, kebanyakan teman yang bekerja dikarenakan tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tak hanya berkaitan dengan suami, namun keputusan yang diambil juga melibatkan pihak keluarga besar maupun terikat perjanjian dinas.

Seperti Lila contohnya, meskipun ia dan suaminya menginginkan Lila berhenti ngantor, namun orang tuanya masih merasa keberatan, Lila dan suami memang masih menanggung seluruh dana bulanan orang tua mereka.

Atau kasus Ati lain lagi, seperti kebanyakan orang, jika Ati resign dari tempatnya bekerja, maka bisa saja terjadi “besar pasak dari pada tiang” karena gaji sang suami dirasa belum mencukupi kebutuhan hidup mereka, oleh karena itu Ati masih harus memendam impiannya untuk lebih banyak menghabiskan masa bersama anak-anak mereka.

Bersyukurlah kita semua, masih bisa menikmati proses meniti hari-hari dengan mendekap keimanan kepada-Nya, semoga segala problema dapat segera teratasi, amiin.

Satu hal yang pasti, kelalaian dalam menjaga amanah bisa terjadi dimana pun, kapan pun, dan oleh siapa saja, termasuk oleh ibu kandung. Yang bisa kita lakukan adalah ikhtiar alias usaha yang optimal dan meyakini bahwa Dia lah satu-satunya Maha Pelindung, Sang Penjaga Terbaik setiap detik umur kita.

Pengalaman seorang tetangga mbak Ani, baru beberapa hari lalu, balitanya yang masih berusia satu setengah tahun meninggal dunia di siang bolong, peristiwa itu terjadi karena si bayi tersedak saat disuapi makan oleh ibunya. Dan ini kejadian kedua kalinya di sekitar daerah itu, Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Semoga peristiwa itu bisa menjadi iktibar buat kita semua. Data Centers for Disease Control (CDC) menyebutkan 60 persen kasus tersedak pada kanak-kanak disebabkan oleh makanan, bahkan oleh minuman pun bisa tersedak.

Anak yang tersedak harus segera mendapatkan pertolongan, akibat yang ditimbulkan bisa sangat fatal. Selama saluran nafas tersumbat, suplai oksigen ke otak terhambat dan bisa meyebabkan kematian.

Maka itu Palang Merah Internasional telah merekomendasikan pendekatan five-and-five pada pertolongan pertama pada saat anak tersedak :

1. Beri 5 tepukan di punggung menggunakan telapak tangan, tepat di antara tulang belikat,

2. Beri 5 tekanan di daerah perut dengan metode Heimlich maneuver.

3. Lakukan bergantian 2 langkah di atas, berulang-ulang hingga benda yang menyebabkan tercekik keluar.

Langkah pencegahan buat kita para ibu, utamakan kesabaran saat menyuapi makan. Irislah kecil-kecil buah atau lauk yang disajikan, lembutkan nasinya, dan siapkan air minum di dekat anak.

Sebaiknya ibunya makan terlebih dahulu atau bersama-sama ketika makan. Karena jika ibu sedang lapar saat menyuapi anak, biasanya perasaan ingin buru-buru selesai menyuapi dan bisa saja emosi diri akibat lapar, otomatis peristiwa tersedak mudah terjadi.

Pada kenyataannya Hanya Allah SWT sebaik-baik pelindung. Sewaktu Nisa bercerita tentang kerisauannya akan keselamatan sang buah hati, dia akhirnya menyadari bahwa ‘kita sebagai ibu dapat menjaga dan mencurahkan kasih sayang buat anak-anak, namun yang melindungi mereka dengan penjagaan terbaik adalah Allah SWT’.

Tatkala itu Nisa sedang menanti anak sulungnya di gerbang sekolah seraya membawa bayi keduanya turut serta. Tak disangka siang itu sang bayi terkena diare hingga popoknya sudah sangat kotor, sampai mengotori baju ibunya. Nisa harus segera pulang lagi ke rumah, meskipun 30 menit kemudian pelajaran sekolah si sulung usai. Selama ini, sulungnya belum pernah pulang sendirian, apalagi kalau harus naik angkutan umum di Jakarta.

Tapi hari itu, tampaknya Nisa tak ada pilihan lain, untungnya ia lihat salah satu orang tua teman akrab anaknya, “bu… nanti saya minta tolong, titip anak saya sampai di persimpangan RW lima yah bu…”, kebetulan rumah ibu itu tak terlalu jauh dari rumah Nisa. Tapi sebetulnya ibu yang ditumpangi itu kan naik motor, mudah-mudahan muat motornya diduduki bertiga, pikir Nisa.

Syukurlah, ibu tersebut tak keberatan, Nisa segera pulang dan memandikan bayinya, ia pun bersih-bersih diri dan menyiapkan makanan buat si sulung. Tak berapa lama, sulungnya datang mengetuk pintu dan tersenyum, “kakak hebat kan ma yah…? Tadi dianterin mamanya Dodi sampai persimpangan, terus kakak jalan sendiri deh…”, cerita anaknya.

Nisa lega sekali, Alhamdulillah, sekarang si kakak bisa belajar mandiri, “Selamat yah kakak bisa pulang sendiri, gak ditemani mama…”, ucap Nisa sambil berpelukan dengan si sulung.

Yah, para ibu dan calon ibu, kita nikmati tapak-tapak meniti keridhoan-Nya ini, Apabila kita menghitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Maka, nikmat Allah manakah lagi yang kita dustakan?

Tak henti-hentinya kita pasti melantunkan do’a keselamatan di dunia & akhirat buat anak-anak tercinta. Semoga kita merupakan orang tua yang teguh memegang amanah dalam mendidik mereka, “Robbi Hablii Minas-Shoolihiin“, wallahu ‘alam bisshowab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s