Must watch Movie: ? (Baca: Tanda Tanya)

Apa pendapat Anda tentang seorang muslim yang berprofesi sebagai aktor mengambil peran sebagai Yesus Kristus dalam sebuah drama paskah di gereja, yang diadakan dalam rangka meningkatkan iman kristiani? Ada muslim mungkin akan keberatan atau tidak setuju sama sekali. Bukankah demikian? Tapi tidak sedikit juga pemeluk agama Katholik atau kristen yang juga keberatan jika peran Yesus dimainkan oleh orang yang tidak mengimani Yesus.

Bagaimana pendapat Anda tentang seorang muslimah berjilbab yang bekerja di restoran Cina di mana hidangan babi dan makanan halal disajikan? Apakah jika sang koki Cina memisahkan panci, penggorengan dan piring dan sebagainya untuk makanan yang halal dan tidak halal, maka restoran tersebut jadi restoran halal? Apa pendapat Anda tentang seorang wanita yang pindah agama dari Islam ke Katholik karena kecewa dengan suaminya yang alim kemudian memutuskan untuk poligami.

Sudahkan Anda memikirkan pendapat Anda?
Well, sebaiknya jangan jawab dahulu. Saran saya saksikan dahulu film film “?” baca tanda tanya karya Hanung Bramantyo. Saya berani katakan ini adalah karya Hanung yang temanya berani tapi patut dapat acungan jempol. Two thumb up! Film ini sangat menghibur, komedinya cerdas, banyak dialog yang tajam, gambar apik, simbolis yang berbobot dan penceritaan yang kaya.

Terus terang, sebelumnya ketika saya baca sekilas di Republika tentang isu yang diangkat dalam film ini, dengan detail sebagaimana saya tulis di atas, saya sempat agak skeptis. Skeptis karena temanya berat, kontroversial, dan bertanya-tanya apakah akan bisa digarap jadi film yang menarik. Ternyata sekptisme saya, SALAH BESAR.

Hanung BERHASIL membuat tema yang berat tersebut menjadi sangat menyejukkan, berimbang, dan memberi pelajaran yang tinggi akan makna sebuah perbedaan. Asma Nadia yang dulu mengatakan, film “Sang Pencerah” sebagai masterpiece Hanung, kini mengatakan film “?” lebih bagus dari Sang Pencerah. Lebih kaya, lebih dalam, dan lebih berbobot. Menurut Asma film ini menunjukkan bahwa sang sutradara tetap berkembang dalam karyanya. Penulis yang baru saja menerima penghargaan sebagai salah satu tokoh perubahan Republika ini ini bahkan mengatakan film ini harus menjadi agenda nasional sebagai bahan perenungan bangsa. Asma juga mengagendakan film ini sebagai tontonan wajib keluarga khususnya Salsa dan Adam sebagai media pembelajaran buat anak dalam melihat perbedaaan.

Saya akui, di film “?” ini, mungkin ada yang kecewa melihat gambaran perilaku muslim yang anarkis. Tapi kita juga disejukkan dengan fakta bahwa ada muslim (Banser NU) yang menerapkan rahmatan lil alamin, dengan menjaga gereja dan berkorban untuk keselamatan manusia, sekalipun mereka adalah jemaat gereja. Di film ini akan melihat ada pendeta yang bijak, tapi juga ada umat yang antipati pada Islam. Di film ini kita lihat ada orang Cina yang sangat toleran, tapi ada juga yang antipati pada pribumi. Semua digambarkan berimbang, apa adanya, tanpa ada penghakiman.

Jangan salahkan Hanung kalau ada fakta yang kurang berkenan, karena sang sutradara hanya menyajikan potret yang benar-benar terjadi. Karena ini diangkat dari kisah nyata maka fakta yang ditampilkan juga harus nyata. Hampir setiap scene yang ditampilkan, diilhami kisah nyata. Saya berani berkata demikian, karena beberapa di antara scene yang ada pernah saya liput sendiri ketika masih aktif sebagai jurnalis lapangan beberapa tahun lalu.
Beberapa saya baca juga beritanya di koran.

Justru sajian film ini kembali mengingatkan pada kita adanya fakta yang terjadi, adanya masalah di lapangan, dan kita dibekali visi untuk menghargai perbedaan.

Kalau saya boleh berbagi apa yang saya dapatkan dari film ini, saya bisa katakan bahwa film ini akhirnya menunjukkan bahwa betapa banyak konflik yang terjadi sebenarnya bersumber pada individu pada oknum. Terkadang oknum membawa embel-embel kelompok, seragam, organisasi yang akhirnya membuat sebuah masalah kecil menjadi besar. Film ini juga menyentil kita untuk tidak dengan mudah menghakimi pilihan orang lain, karena pada akhirnya setiap pilihan ada tanggung jawabnya masing-masing.

Seusai saya menonton premier film ini, saya sedikit bertanya pada Hanung, kenapa ia membuat film ini, dan kurang lebih ini jawabannya. “Saya risih Islam dianggap teroris, jadi saya juga ingin menampilkan Islam yang bersahabat. Saya memang dari kecil hidup dalam keluarga yang multi kultural dan multi religi. Keluarga dari Ibu saya keturunan Cina. Dulu kan agama Kong Hu Chu dilarang sehingga keturunan Cina harus pilih antara agama Islam, Kristen, Katholik (Hindu atau Budha). Ibu saya pilih Islam sedangkan sebagain besar keluarga pilih kristen. Saya betul betul melihat situasi seperti itu. Jadi saya ikut merasakan dua hari raya. Kalau lebaran saya dan ibu dan ayah berlebaran, kalau natal kita berkunjung ke keluarga ibu. Dan hubungan kami baik-baik saja tidak ada pertentangan apa-apa. Tapi sekarang kan orang jadi di kotak-kotakan hanya karena kelompok tertentu. Dikelompok-kelompokan, kalau tidak begini berarti teroris ini itu, main stigma label-labelan.’

Artinya spirit Hanung ketika membuat film ini adalah spirit religius, akan tetapi ia ingin juga mengusung isu ini menjadi milik bersama bukan kelompok Muslim saja. Karena itu patut kita dukung.Sekali lagi saya rekomendasikan buat umat Muslim, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha untuk menonton film ini sebagai hiburan yang mencerahkan. Benar lo, film ini sangat menghibur. Ternyata disamping ide besarnya, film ini bisa membuat kita terbahak-bahak.
Semoga saja persatuan semakin terbina di antara kita, dengan hadirnya film ini.

Oh ya, film ini memberi sayembara Rp 100 juta bagi yang menemukan judul yang menarik untuk film ini. Kenapa tidak dicoba?

Isa Alamsyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s