CERMIN

Tak ada alat yang lebih tepat untuk melihat diri sendiri apa adanya kecuali cermin. Di situlah wajah diri terpampang jelas. Jujur, apa adanya. Cermin tak pernah dusta pada siapa pun. Ia akan mengatakan buruk kalau objeknya memang buruk. Dan bagus jika kenyataannya memang demikian.

Selain jujur, cermin juga berani. Ia siap menanggung risiko apa pun karena kejujurannya. Walau yang berkaca tergolong yang paling berkuasa sekali pun. Ia akan bicara apa adanya. Ia siap kalau sewaktu-waktu sang objek merasa tidak puas; membencinya, menghina, bahkan membantingnya tanpa kenal ampun.

Cermin juga tidak pernah terbuai dengan pujian. Tidak karena sebab pujian secara terus-menerus dari objek yang memang bagus, ia kemudian terlena. Cermin sadar kalau ia cuma alat. Pujian yang tampak ditujukan padanya, sebenarnya buat objek itu sendiri. Ia cuma saksi dari sebuah kebahagiaan dan kesyukuran.

Kadang, cermin menjadi teman setia dari sebuah kesedihan. Ia dengarkan segala curhat dan isak tangis objek di hadapannya. Tanpa bosan, tanpa keluh kesah. Seolah, ia sedang menumbuhkan harap dan kesembuhan dari luka hati sahabat di hadapannya. Lagi-lagi ia tak peduli siapa: objek setianya, atau seseorang yang baru ia kenal. Saat itu, cermin seperti sedang berbisik lembut, “Tumpahkan semua kesedihanmu. Aku penjaga rahasia yang paling terpercaya.”

Memang, ada sebagian cermin yang tidak objektif. Tapi itu bukan karakter aslinya. Karena kurang bersih, atau rekayasa teknologi, cermin bisa mengada-ada. Itulah sebabnya ketika seseorang mendapati dirinya dalam cermin dengan tampilan yang tidak memuaskan, ia langsung membersihkan wajah cermin. Mungkin karena debu, noda, atau lainnya. Upaya itu dilakukan terlebih dahulu sebelum sang objek membersihkan wajahnya sendiri. Dan cermin tak pernah protes itu. Ia tak pernah bilang pada sang objek, “Enak aja. Kamu yang kotor. Bukan saya!” Cermin senantiasa berlapang dada untuk dipersalahkan.
***

Saudaraku, Baginda Rasulullah saw. pernah mengatakan bahwa seorang mukmin adalah cermin buat saudaranya. Dua saudara yang saling bersilaturahim adalah sebenarnya sedang saling bercermin. Dari wajah saudaranyalah ia menemukan kesadaran akan bintik-bintik noda diri sendiri. Di situ pula, ia mendapatkan harap, kesyukuran, dan kebahagiaan.

Akhirnya, semua berpulang pada diri kita masing-masing. Mampukah kita menjadi cermin seutuhnya. Atau, cermin buram yang hanya menampakkan wajah keraguan dan keputusasaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s