Sorga di Bawah Telapak Kaki Ibu…

“Ibu… Ibu… mau ke Ibu… “ suara tangisan itu terdengar sangat menyedihkan. Di keheningan tengah malam, di saat orang lain tertidur pulas, ada seorang anak yang gelisah, tidak bisa tidur. Ketika dia terbangun, orang yang sangat dicintainya tidak berada di sampingnya seperti biasa. Karena keterbatasan ekonomi, Ibu yang single parent itu mengambil keputusan untuk menitipkan puterinya di panti asuhan.

Masih terngiang bujukan si Ibu kepada anaknya, “Karena Ibu sayang sama kamu nak, Ibu titipkan kamu di sini, kan kamu bilang kamu ingin sekolah ? Ibu ga punya uang. Kamu harus sabar ya nak…atau kamu mau kita seperti dulu lagi ? Jualan sambil hujan-hujanan atau kepanasan dan kalau “cape” tidur di pinggir jalan ?” Percakapan antara ibu dan anak tersebut pastilah asing di telinga kita yang punya sejuta nikmat. Sekolah tinggal sekolah, sarapan tinggal makan atau kemana-mana diantar oleh supir. Ah, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

Kembali kepada si anak. Hatinya yang belum dirasuki oleh “hingar bingar” dunia telah terpatri begitu kuat dengan hati si ibu. Teringat pula saya pada seorang Ibu yang “sadis” kepada anaknya. Hampir setiap hari si anak dipukul dengan bermacam-macam benda. Tapi hati yang “virgin” tadi tidak mau tahu, Ibu tetaplah orang yang paling dicintainya. Ketika sang Ibu pergi, tangisan yang dilantunkannya juga sama dengan tangisan anak yatim di atas yang hidup dengan belaian Ibu penuh cinta. Wahai Ibu! Waktu akan cepat sekali berlalu, anakpun dengan cepat bertambah usia. Hatinya tidak lagi “terkekang” oleh cinta seorang Ibu. Banyak “tawaran” cinta di luar rumah yang akan didapatnya. Seorang anak akan mulai menerjemahkan cinta sesuai dengan kebutuhannya. Bila cinta ibu kalah bersaing, tidak akan cukup air mata untuk mengembalikannya ke dalam pelukan.

Saya teringat kisah nyata yang ditulis oleh seorang Ibu (sebagai ibrah). Karena karir, si Ibu lalai memperhatikan anaknya yang beranjak dewasa. Si Mbok, pembantu yang setia dengan cinta polosnya telah mengisi seluruh ruang batin puterinya, hingga tiap lembar diary sang puteri hanya bercerita tentang si mbok, tidak selembarpun tersisa untuk menulis kenangan bersama sang Ibu. Ketika si mbok harus menghadap Rabb-Nya, si anak tidak siap, overdosis! (cinta “putaw” mengalahkan cinta Ibu). Puterinya itupun “pergi’ dalam kerinduan terhadap cinta si mbok, sementara sang ayah stroke karena tidak bisa menerima kenyataan. Innaalillaahi. Ada juga ibu yang baru merasa kehilangan ketika seorang anak sudah tidak bisa dipisahkan dengan kekasihnya yang beda agama hingga “kawin lari” pun menjadi pilihan. Kebersamaan dengan seorang Ibu tidak meninggalkan kesan apa-apa. Na’uzubillahi min zalik. Dan mungkin banyak kisah ratapan anak-anak lainnya yang begitu rindu dibelai oleh jari jemari ibu. Wallaahu a’lam.

Betapa berat amanah yang dipikul oleh seorang Ibu hingga Allah pun bersedia “meletakkan” sorga-Nya di bawah telapak kaki Ibu. Kisah kepahlawan seorang Ibu pun menjadi perhatian penting dalam tapak sejarah, seperti Al-Khansa yang sanggup memotivasi dan menghantarkan putra-putranya mati syahid atau Siti Asiah isteri Fir’aun yang menerjemahkan kasih sayangnya dengan membawa putra-putranya “ikut” bersama menemui Khalik demi mempertahankan keimanannya. Saya optimis! Masih banyak ibu-ibu di jaman sekarang yang tidak rela mengurangi kehormatan sorga di bawah telapak kakinya. Wallaahu a’lam.

oleh :

farah_adibah@yahoo.com

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s