Sholihat di Rumah, Sholihat di Luar Rumah

Sholihat di Rumah, Sholihat di Luar Rumah

Persoalan peran domestik dan publik bagi seorang perempuan, nyatanya masih saja membuat gamang. Seorang ibu yang tidak bekerja secara formal seringkali merasa malu menyebut dirinya sebagai ibu rumah tangga. Bukan apa-apa, status ibu rumah tangga memang kadung diidentifikasi sebagai status tidak bergengsi. Tetapi, seorang perempuan yang bekerja pun tak lantas tentram adem ayem. Tudingan miring sebagai penyebab bencana keluarga, misalnya, biasanya juga dengan mudah dialamatkan pada mereka manakala suatu ketika terjadi disharmoni dalam rumah tangganya.

Ida, seorang ibu muda berusia 35 tahun, paling enggan bila mendapat undangan dari eks teman-teman sekolah atau kuliahnya. Entah itu undangan makan siang, undangan pernikahan, apalagi undangan reuni. ”Saya malas bertemu dengan teman-teman masa lalu. Setiap kali bertemu, mereka selalu bertanya masalah pekerjaan. Mereka rata-rata sudah jadi ‘orang’, sukses berkarir sebagai ini dan itu. Padahal, saya kan cuma ibu rumah tangga, yang tidak punya kemajuan apa-apa …” ujarnya dengan nada sedih

Tetapi, Maya, seorang akuntan pada perusahaan akuntan publik, toh juga punya problem yang membebani batinnya. Sudah tak terhitung berapa banyak pandangan tak bersahabat didapatnya dari orang-orang di sekitarnya, sejak ia memutuskan bekerja. Malah suatu hari ketika Adnan, anaknya yang duduk di bangku kelas dua SD mogok sekolah karena buku PR-nya dicoret-coret adiknya, seorang tetangga yang mengetahuinya langsung berkomentar, ”Aduuh…ngambek ya…memang Jeng, kalau perempuan ngantor, anak-anak jadi suka bandel dan kolokan begitu. Abis, ibunya pergi terus sih…”

Melihat kedua contoh kasus diatas, mengapa jadi serba salah begini?

Multiperan sahabiyah

Kalau kita mengacu pada peran para muslimah yang berada di lingkaran zaman Rasulullah SAW, kita mungkin akan tercengang. Pada saat itu, para sahabiyah telah berkecimpung dalam beraneka jenis peran dan aktivitas, tanpa sedikitpun merasa harus memusingkan apakah peran yang diambilnya adalah peran domestik, peran publik, peran yang menuntut kecerdasan intelektual, kekuatan fisik, ketrampilan rumahtangga, peran yang menghasilkan secara ekonomis atau peran yang menghasilkan pahala, atau kombinasi beberapa diantaranya.

Tak terlalu mengherankan sebetulnya, karena para sahabat dan sahabiyah di zaman nabi ini paham betul bahwa pada dasarnya sasaran utama Islam sebagai suatu Dien, sebagaimana disebutkan Mahfudz Sidik, Direktur Islamic Centre Iqro, adalah agar setiap manusia itu bisa menjadi orang-orangyang produktif di dalam kesalehannya.

”Ruang lingkup ajaran Islam (untuk beramal saleh) itu sangat luas. Baik secara pribadi atau sosial, domestik atau publik, dan ditujukan buat siapa saja, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana kita temukan dalam Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah, betapa Allah akan memberikan penghargaan yg sama terhadap laki-laki maupun perempuan yg melakukan amal sholeh,” ujar Mahfudz.

Kondisi multiperan para sahabiyah memang tercatat dalam sejarah. Ustadzah Yoyoh Yusroh, Ketua Yayasan Ibu Harapan, Depok lantas menyebutkan bahwa sekurangnya ada tujuh jenis peran yang biasa dilakoni para sahabiyah di zaman Rasul. Ada muslimah yang berperan dalam bidang jihad, seperti Ummu Athiyyah yang ikut berperang bersama rasulullah, atau Rabbi binti Muawwidz, yang banyak mengobati para sahabat yang terluka dalam perang Uhud. Rabbi bahkan juga ikut menggotong para sahabat yang terluka dari Uhud ke Madinah. Satu jenis peran, yang bila dilakukan pada zaman sekarang, kemungkinan masih banyak yang akan melihatnya sebagai hal tabu.

Dalam bidang dakwah ada Aisyah, Ruqoyyah, Ummu Kaltsum dan Asma’ binti Umais, istri Ja’far Aththoyar, yang ikut ke Habasyah dalam rangka mengembang tugas dakwah. Asma terpilih sebagai muslimah yang ikut ke Habasyah karena memiliki tiga potensi sekaligus, fisik, ruhiyyah, dan aqliyyah yang baik.

Ada yang berperan dalam bidang ekonomi, seperti Zainab binti Jahsin yang mempunyai usaha kerajinan kulit (kulit, dan sepatu) yang bahkan sampai diekspor dari ke luar Madinah, seperti ke Yaman.

Ada juga yang berperan dalam bidang sosial, seperti Khaulah binti Hakim yang mengelola semacam biro jodoh. Rasulullah sendiri menikah dengah Saudah binti Jam’ah dan Aisyah adalah lewat upaya Khaulah.

Peran keilmuwan diemban antara lain oleh Aisyah. Selain karena ia memiliki kapasitas intelektual yang baik, ia juga memiliki peluang untuk menimba ilmu langsung dari rasulullah lebih banyak ketimbang istri-isteri rasulullah yang lain. Memang, setiap kali Rasulullah mengundi nama istrinya untuk menentukan giliran menemaninya dalam perjalanan, nama Aisyah diizinkan Allah lebih sering keluar.

Sementara peran politis dilakoni Aisyah, Asma’ binti Umais, maupun Asma’ binti Abu Bakar. Suatu ketika Asma’ binti Abu Bakar ditemui Abu Jahal. Abu Jahal bertanya, ”Dimana ayahmu?” Asma tegas jawab, ”Tidak tahu” hingga ia ditampar oleh Abu Jahal. Pada saat itulah sesungguhnya Asma tengah menjalankan peran politiknya.

Tiga faktor penentu

Bila para sahabiyah nampak easy going dalam menjalani berbagai perannya, mengapa 14 abad kemudian persoalan ibu yang bekerja atau ibu rumahtangga seringkali hal ini malahan disempitkan hingga menjadi dilema tak terpecahkan?

Menurut Mahfudz, perbedaan potret peran muslimah di berbagai waktu maupun tempat amat tergantung tiga faktor utama. Pertama tergantung dari sisi pemahaman keislaman masyarakatnya. Kedua tergantung dari ada tidaknya lingkungan kondusif yang mendukung serta ketiga tergantung dari ada tidaknya pelopor yang bisa menggerakkan.

Di zaman Nabi, pemahaman keislaman begitu mendalam, lingkungan yang islami secara positip membuka peluang sahabiyah melakukan multiperan dan para muslimah pelopor banyak bermunculan. Sementara pada masa sekarang, perubahan-perubahan zaman agaknya telah membuat kikisan diantara ketiga faktor ini sehingga peran muslimah menjadi berubah arah.

Masyarakat misalnya, telah membentuk persepsi selama bertahun-tahun, tentang tidak produktif, tidak berharga dan tidak bergengsinya peran ibu rumah tangga, sehingga sebagian ibu merasa tidak nyaman dan tidak pede mengaku sebagai ibu rumahtangga. Namun, di sisi lain, masyarakat juga punya persepsi bahwa seorang ibu bekerja adalah sumber ‘bencana’, sehingga setiap kali ada disharmoni terjadi dalam rumahtangga ibu bekerja ini cenderung menjadi pihak yang disalahkan.

Ratna Megawangi, dosen IPB dan pemerhati masalah-masalah perempuan, amat prihatin dengan soal ketidakpedean ibu rumah tangga. ”Sekarang ini di Indonesia, wanita yang sudah kalau enggak bekerja muncul rasa malu. Dan itu sudah menjadi opini publik. Sebetulnya itu salah besar, dan akan jadi bumerang bagi bangsa kita ini. Kita akan semakin terpuruk, manakala kita menganggap remeh peran-peran keibuan, peran-peran domestik.”

Meski demikian, Ratna juga prihatin pada adanya kebiasaan memblame (menyalahkan) para ibu yang bekerja manakala muncul disharmoni dalam keluarga. Ratna menyatakan, ibu bekerja yang mengejar karir memang bisa menimbulkan efek negatif karena anak dan keluarga bisa merasa terabaikan. Tetapi, hal ini akan menjadi berbeda manakala sang ibu bekerja adalah dalam konteks ikul memikul kebutuhan keluarga.

”Ibu bekerja yang mengejar karir dan yang memikul tanggungjawab keluarga akan menghasilkan sinyal yang berbeda, pada keluarga. Si anak, tentunya akan melihat, wah ibu saya banting tulang. Ibu saya bekerja untuk anak-anak. Maka, anak pun malah akan respek pada ibunya. Karena di situ dia tidak ada kepentingan ego.”

Begitupun terhadap ibu rumah tangga, Ratna juga mengemukakan perlunya ada upaya peningkatan kualitas diri dan penghargaan, sehingga mereka semakin pede dan berkualitas.” Ibu rumah tangga harus banyak membaca dan belajar, karena zaman terus saja berubah. Sementara untuk kelompok masyarakat menengah ke bawah, perlu dilakukan intervensi, misalnya saja dari pemerintah, untuk memberdayakan mereka. Caranya, bisa dengan membuat parenting education, pembelajaran bagi orangtua agar menjadi bapak atau ibu yang baik.”

Peran besar suami

Disisi lain, persoalan peran ibu rumah tangga dan ibu bekerja sedikit banyak juga amat bergantung dengan bagaimana seorang perempuan memiliki kompromi dan hubungan yang sehat dengan suaminya. Wirianingsih, Ketua Departemen Pembinaan Keluarga, Partai Keadilan, menganalogikan sebuah keluarga sebagai perusahaan besar.

”Penanam saham keluarga adalah suami-istri. Karenanya, mereka harus share, berbagi. RUPS (rapat umum pemegang saham)nya pun harus rutin dilakukan untuk mengevaluasi perjalanan perusahaan itu.”

Dalam kaitan dengan pilihan perempuan seorang ibu, apakah akan berkiprah di dalam atau di luar, maka dukungan suami menjadi satu tiang pondasi yang utama, agar pilihan yang diambil tidak membawa kemudharatan dan sebaliknya membawa manfaat. Apalagi setiap pilihan peran selalu membawa konsekuensi dan resiko. ”Misalnya saja, ada resiko pembagian tugas kapada suami manakala isteri bekerja di luar rumah dalam rangka ikut membantu perekonomian keluarga.”

Demi membangun pola ta’awun yang sehat ini, pertama sekali, jelas Wiwi, pasangan suami isteri jelas harus membangun saling pengertian, kesamaan visi, dan persamaan persepsi dulu. ”Apa yang mau dikerjakan, itu harus dikomunikasikan. Saya mau begini-begini…dengan konsekuensi ini…ini…”

Yang kedua jangan ada gengsi. Jangan suami merasa gengsi, manakala, misalnya istrinya ternyata memiliki potensi lebih besar, atau sebaliknya, sehingga mereka tidak mau lagi membuka komunikasi.

Ketiga suami dan isteri harus mengupayakan untuk dapat menerima potensi dirinya sendiri atau potensi pasangan dengan apa adanya, tidak memaksakan kehendak. ”Kalau seorang ibu ternyata tidak berkiprah keluar karena ada anak sakit, kenapa harus memaksakan. Begitupun, kalau ada pilihan harus keluar dan pekerjaannya itu memang bisa dilakukan, kenapa harus ditahan. Yang penting, untuk semua urusan itu haruslah dikomunikasikan dan diselesaikan,” jelas ibu 10 anak ini.

Yang terakhir Wiwi mengingatkan para suami isteri untuk tidak berharap terlalu banyak. ”Jangan over estimate. Berharap berlebihan pada pasangan dalam membangun ta’awun, karena nanti bisa kecewa. Yang terbaik adalah banyak berlapang dada, sehingga proses ta’awun insya Allah bisa berjalan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s