HIKMAH DI WARUNG KOPI (2)

Sepertinya saya belum pernah menemukan riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang sahabatnya yang ingin menikah kerana tidak memiliki penghasilan. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan atau sudahkan orang tersebut memiliki rumah, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Al Quran.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda mahupun tua bahkan mungkin saya dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membeli rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Itu yang setidaknya tergambar, apalagi bagi saya yang baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan tetap. Tetapi kenyataannya telah terbukti, saya mengamati dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahawa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. artinya, tidak dengan memantapkan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dengan demikian kemantapan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. artinya, untuk meraih rezeki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezeki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezeki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai redha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahawa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan bererti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, kerana masing-masing dari suami isteri saling melengkapi dan saling menampung. Ditambah lagi bahawa masing-masing ada rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang boleh keluar dari kesulitan ekonomi kerana rezeki seorang isteri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang rezekinya ditampung oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menampung dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi. Itulah yang tergambar dari penjelasan sang tukang kopi. Secara teori aktivitasnya berjualan kopi mana mungkin dapat memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya. Namun Allah telah mencukupkan rizkiNya sehingga sama sekali tak menjadi hambatan baginya dalam berumah tangga.  Wallahu’alam Bishawab.

Perbincangan kami usai dan teman saya membawa dua orang montir untuk melihat kerusakan yang terjadi. Ternyata rantainya putus dan berbelit sehingga roda tidak mau berputar. Selama kurang lebih satu jam akhirnya motor sudah bisa saya kendarai lagi. Alhamdulillah. Waktu menunjukan jam dua belas malam lewat beberapa menit dan saya harus segera pulang ke Dramaga. Sebelum pulang saya berpamitan terlebih dahulu kepada tukang kopi tersebut. Alhamdulillah di balik rusaknya motor yang saya kendarai sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan sesuatu hal yang penting bagi saya khususnya masalah pernikahan. Ya Allah dekatkanlah aku dengan cinta-Mu dan dekatkanlah pula aku dengan jodohku. Amin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s