PUPUT dan PUSPUS

Puput adalah seorang anak yang baik hati. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah desa kecil dekat pingggiran sungai. Setiap hari Puput rajin memantu kedua orang tuanya di rumah. Mulai dari bersih-bersih kamar, mencuci pakaian sampai memasak untuk makan malam. Di sekolah ia pun terkenal sebagai anak yang rajin. Puput tidak pernah terlambat masuk sekolah, pekerjaan rumah pun selalu dikerjakannya. Apabila kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, Puput tidak segan untuk meminta bantuan kakak atau ibunya. Setiap sore teman-temannya mengunjungi rumah Puput untuk mengerjakan tugas bersama-sama atau mengulang pelajaran yang telah disampaikan oleh ibu guru pada pagi harinya.

Suatu hari Puput pulang dari sekolah bersama teman-temannya. Jarak antara sekolah dan rumahnya memang tidak begitu jauh. Hanya sekitar 400 meter sehingga Puput dan teman-temannya bisa berangkat atau  sekolah dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit. Di tengah jalan ia menemukan seekor anak kucing terjebak ke dalam selokan. Karena merasa iba Puput menolong anak kucing itu. Untuk mengeringkan bulunya yang basah karena air selokan Puput menggunakan saputangannya. “aduh kasihan sekali nak kucing ini. Teman-teman lihat dia basah kuyup kedinginan. Tenang ya sayang akan kukeringkan bulumu yang halus ini. Oh ya aku punya sisa bekal tadi pagi ayo makan ini biar engkau cepat besar”.

Setelah memberikan makanan Puput melanjutkan perjalanannya. Ia tidak menyadari kucing kecil yang barusan ia tolong mengikutinya dari belakang. Hingga sampai rumah ketika hendak mengunci pagar rumahnya tiba-tiba terdengar suara anak kucing mengeong dengan kerasnya. Ternyata kucing kecil yang ditolongnya tadi pagi mengikutinya sampai kerumah.

“ Wah kamu mengikuti aku sampai ke sini ya? Anak kucing itu terus mengeong dengan keras. Akhirnya ia meminta izin kepada ibunya untuk memelihara anak kucing itu.” Ibu aku meminta izin untuk memelihara anak kucing ini, boleh kan Bu? Kasihan dia tidak punya teman. Nanti biar kurawat baik-baik. Boleh ya Bu?”. Ibunya tidak mengizinkan kerena takut akan mengotori rumah. Biasanya anak kucing suka pipis dan buang air besar sembarangan. Namun karena Puput terus meyakinkan ibunya akhirnya ibunya menyetujui untuk memelihara anak kucing tersebut tapi dengan syarat tidak boleh mengotori rumah dan harus dirawat dengan baik tidak boleh ditelantarkan begitu saja.

Puput sangat senang ibu mengizinkan dirinya memeihara kucing tersebut. “ karena engkau sangat lucu maka kuberi nama engkau Puspus. Kamu tidak boleh nakal ya Puspus?”. Dengan manjanya Puspus menggesekan tubuhnya pada kaki Puput. Selama ada Puspus, Puput sangat riang setiap hari. Ia memberinya makanan seperti ikan dan minum susu. Setelah beberapa bulan Puspus menjelma menjadi kucing yang sehat dan lucu. Bulunya halus. Warna kuning belang hitam yang melingkar di tubuhnya menambah keindahan bulu-bulunya.

Suatu hari ia melihat burung Pipit kecil tergeletak di samping rumahnya. Kakinya berdarah, sehingga ia tak bisa terbang. Nampaknya ada orang yang berusaha menembaknya dari jauh. Akhirnya ia merawat burung itu. Lukanya ia sembuhkan dengan menggunakan obat anti luka. Ia sangat menyayangi burung Pipit tersebut sama seperti ia menyayangi Puspus. Namun puspus mengira Puput lebih senang pada pipit sehingga terkadang Puspus menakut-nakuti burung Pipit kecil itu

Hingga suatu hari setiba pulang dari sekolah Puput terkejut melihat kandang burung pipitnya terbuka. Ia amati di sekelilingnya terdapat bercak darah dan bulu-bulu halus. Sejenak ia melihat Puspus dan menemukan bercak darah di sekitar mulutnya. Secara spontan ia berteriak dan mengambil sapu lalu lari mengejar dan memukuli Puspus. Puput menyangka Pusopus lah yang memakan burung pipit kecilnya. Puspus yang tampak ketakutan bersembunyi di bawah meja.

Betapa terkejutnya Puput saat membersihkan bercak darah  dan bulu-bulu pipit. Ia melihat ular di bawah tempat tidurnya, ia pun meminta tolong kepada ibunya. “ibu di kamarku ada ular, tolong bu?”. Ibunya terkejut dan segera menuju kamar Puput sambil membawa tongkat besar.” Oh ini ularnya sudah mati, lihat ada bekas gigitan di leher ular tersebut”. Betapa terkejutnya Puput saat itu, berarti bukan Puspus yang menggigit burung pipitnya. Justru Puspus telah menyelamatkannya dengan membunuh ular itu. Ia pun baru mengingat tadi pagi lupa mengunci kandang saat memberi makan.

Akhirnya Puput meceri Puspus yang sangat ketakutan karena dikejar-kejar tadi. “Puspus kemari sayang, maafkan aku yang telah memukul dan menuduhmu memakan burung pipit itu”. Saat kepalanya ia elus Puspus mengeong dengan manja mengelilingi kaki puput. “ oh kamu lapar ya Puspus, Ayo kita makan siang dulu”. Puput membawanya ke dapur. Semenjak kejadian tersebut Puput makin sayang kepada Puspus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s